Contoh Cerpen dari Pengalaman, Mudah Jatuh Cinta

Siapa yang mencari contoh cerita dari pengalaman? Kebetulan, kali ini tema kita adalah itu, cerpen berjudul "Mudah Jatuh Cinta" berikut ini adalah sebuah cerita pendek yang diangkat dari inspirasi pengalaman hidup seseorang. Cukup menarik dan bahkan mengandung pesan moral yang baik untuk direnungkan.


Menurut anda bagaimana contoh cerpen yang tidak terlalu panjang tersebut, apakah sedih, bahagia atau tragis? Dari judulnya kita memang hanya bisa menebak saja apa yang akan diceritakan dalam cerpen berikut. Namun yang pasti cerpen ini masuk dalam rekomendasi beberapa pembaca setia situs ini.

Cerpen terbaru berikut dianggap cukup mampu menghibur pembaca, sekaligus mampu memberikan pelajaran berharga. Tentu tidak semua akan setuju dengan hal itu, benar tidak? Ya, yang namanya karya sastra bagus tidaknya memang tergantung bagaimana pemahaman pembaca terhadap karya tersebut.

Kadangkala sebuah karya disebut bagus oleh satu pembaca namun dianggap kurang bagus oleh pembaca lain. Tidak ada masalah, yang terpenting adalah pembaca bisa merasa terhibur atau setidaknya sedikit terhibur dengan bahan bacaan yang belum pernah dibaca sebelumnya. Ya sudah, lebih baik kita baca dulu cerpen tersebut.

Mudah Jatuh Cinta
Cerpen Pengalaman Oleh Irma

Mendung tampak menggantung di pelupuk mata Suginem, satu hembusan angin lagi, hujan itu pasti menetes membahasi pipinya. Petir terlihat berkilat di matanya yang merah, dadanya bergemuruh bak guntur yang menggelegar. Suginem hanya bisa pasrah melepas kepergian Afri dengan kekasih barunya.

Ia mendekap erat guling ungu itu, seolah ingin menahan badai yang sedang berkecamuk dalam perasaannya. Tapi nyatanya, Suginem tetaplah Suginem yang tak pernah bisa menahan kepedihan. Ia pun menangis sejadi-jadinya.

“Sudahlah Nak, akan lebih baik jika itu terjadi sekarang…”, ucap Niati menasehati putrinya. “Ini sudah yang kesekian kalinya Bu, mungkin benar kata orang bahwa aku memang tak pantas bahagia”, ucap Suginem menahan tangis.

“Seharusnya kamu bahagia Nak, kamu tambah dewasa, kamu besar dari pengalaman yang sangat berharga. Kelak kamu pasti mendapatkan lelaki yang pantas”, ucap Niati.

Suginem mengemasi barang-barang yang ada di kamarnya, ia mengumpulkan semua benda yang berhubungan dengan Afri, jam kecil, boneka, foto, bahkan beberapa buku yang tersimpan di rak miliknya. 

Sesaat kemudian ia pergi ke belakang rumah dan membakar semua benda kenangan itu, “biarlah semua menjadi debu, tak kan ada yang tersisa”, ucapnya pelan.

Suginem memiliki kisah cinta yang tragis, beberapa kali ia ditinggalkan kekasih yang ia sayang. Bahkan sebelum ini ia harus rela menahan pahit ketika sang kekasih tak datang di acara pertunangan mereka.

Benar kata Niati, pengalaman memberikan pengetahuan dan kematangan jiwa pada anaknya. Terbukti, kini Suginem tidak lagi mudah jatuh cinta pada pria tampan yang berhati busuk. Bahkan ia sekarang bisa membedekan lelaki mana yang bertanggung jawab dan mana yang hanya mengobral janji.

“Hai boleh kenalan tidak”, sapa seorang pria suatu hari ketika ia sedang duduk sendiri di sebuah cafĂ©. “Sudah biasa, modal tampang doang”, pikirnya dalam hati tanpa memberikan memperdulikan lelaki itu, ia hanya tersenyum tipis dan beranjak pergi.

Sesampainya di rumah, ia melihat seseorang sedang berbincang dengan sang ayah, ternyata mantan kekasih yang dulu pernah mencampakkan hatinya. Ia kembali menemui Suginem hanya untuk meminta maaf, dan berharap ia bisa mendapatkan cinta Suginem lagi.

“Maaf mas, Suginem yang dulu sudah tidak ada. Aku sudah memaafkan kamu sejak detik pertama engkau mengkhianati aku”, ucap Suginem tegas.

Meski dipaksa dan dirayu, sepertinya hati Suginem sudah benar-benar tertutup rapat. Tak ada celah sedikitpun untuk lelaki itu kembali. Dengan sopan ia tetap memperlakukan tamu-nya itu, meski sebenarnya ia sudah tidak sudi melihat dia lagi.

Sekarang, hidup Suginem ia jalani dengan lebih damai dan tidak pernah memikirkan lekai. Ia yakin, bila waktunya tiba akan ada orang yang datang meminang dirinya. Dengan sang ibu, Suginem lebih sibuk membenahi diri dengan berbagai kebaikan.

Niati selalu mengajarkan kepada anaknya berbagai nilai kebaikan hingga pada akhirnya Suginem menjadi sosok wanita yang anggun dan berwibawa. Di sela kesibukannya mengurus butik, ia selalu menyempatkan diri mengaji. Bahkan ia sering sekali mengikuti pengajian, bersedekah ke panti asuran dan beramal di pondok pesantren.

Semua itu terus ia lakukan sampai kadang membuat sang ayah yang sudah mulai tua tampak khawatir melihat anak gadisnya belum juga mendapatkan pasangan.

“Sabar pak, buat apa cepat tetapi mendapatkan suami yang tidak berakhlak dan tidak terpuji”, ucap Niati pada suaminya.

Benar, berbekal pengalaman pahit dan kedekatannya dengan agama, akhirnya datanglah masa dimana ia sudah disiapkan seorang jodoh yang terbaik. Seorang lelaki tampan dan soleh suatu hari tiba-tiba datang menemui orang tuanya dan melamarnya.

Seorang pria yang berwibawa, penyayang dan memiliki bekal hidup yang cukup. Setelah mengetahui watak dan kepribadian lelaki itu akhirnya Suginem pun menerima dia menjadi pasangan hidup.

--- Tamat ---

Back To Top