Contoh Cerpen Anak Durhaka, Sumpah Serapah

Contoh Cerita Cerpen Anak Durhaka - Anak durhaka kepada orang tua itu bisa disebabkan banyak hal ternyata, salah satunya misalnya melalui perkataan yang tidak terpuji. Sebagai seorang anak sudah pasti kita menghormati dan menyayangi orang tua kita. Kita juga harus bertutur kata yang sopan dan lemah lembut, jangan pernah melukai hati mereka apalagi sang ibu.


Nah, contoh cerpen kali ini juga berhubungan dengan kisah anak durhaka yang melawan orang tuanya. Orang tua yang selalu mendoakan anaknya baik saja belum tentu anaknya baik, apalagi yang tidak didoakan. Dalam cerpen berjudul “sumpah serapah” ini kita akan mendapatkan sebuah kisah fiksi yang sangat sedih.

Diceritakan ada seorang anak yang bukan hanya tidak menurut dengan nasehat ibunya tetapi juga suka berkata kasar. Anak yang salah jalan tersebut berkali-kali melukai perasaan sang ibu dengan kata-kata yang kasar. Sebagai ibu tentu saja tetap bersabar dan bahkan selalu berdoa agar anaknya menjadi soleh.

Ternyata, nasehat, teguran dan ajakan sama sekali tidak didengar, semakin hari anak tersebut justru semakin berani. Sampai pada suatu hari ia mendapatkan karma atas dosa-dosa yang ia lakukan kepada sang ibu. Hidupnya harus berakhir tragis dan mengenaskan. Seperti apa kisah sebenarnya, mari kita baca langsung cerpen tersebut.

Sumpah Serapah
Cerpen tema Anak Durhaka Oleh Irma

“Diam Bu, ini urusan anak muda, ibu sudah tua!”, bentak Fitriah pada ibunya. Sekali lagi, Iriyah hanya bisa menahan sesak dadanya melihat perlakuan kasar sang anak. “Ya Alloh, apa salah dan dosaku sehingga engkau membuat anakku seperti itu. “Nak, pakaian seperti itu tidak bagus untuk anak gadis”, ucapnya pelan mencoba mengingatkan anak gadisnya.

Tapi dasar Fitriah, ia sama sekali tak menghiraukan nasehat sang ibu. Setiap kali ibunya menasehati dia, ia justru berkata-kata kasar kepada sang ibu.

Sebenarnya, waktu masih kecil Fitriah adalah anak yang penurut, ia selalu mendengarkan apa kata orang tuanya. Baru setelah ia lulus sekolah menengah atas ia berubah drastis. Ia tak lagi mau mendapatkan nasehat, ia juga menjadi sering berkata kasar kepada orang tua.

Seperti hari itu, Fitriah yang sibuk mencoba baju baru yang ia beli di mall bersama teman-temannya. Ia membeli baju-baju yang tak lazim untuk anak perempuan, baju yang sangat terbuka dengan belahan di mana-mana, tentu saja sang ibu mencoba melarang anaknya memakai pakaian tersebut.

Bukannya menuruti tetapi Fitriah justru membentak ibunya dengan kasar. Ia tetap saja mengenakan pakaian-pakaian tersebut. Setelah selesai mencoba berbagai pakaian yang ia beli ia pun lapar, “Bu, aku lapar, siapin makanan!”, teriak Fitriah pada ibunya. “Iya Nak, sebentar ibu siapkan”, jawab Iriyah dengan sabar.

“Bu, makanan apa sih ini, kok rasanya seperti ini, aku jadi tidak berselera makan!”, teriak Fitriah lagi sambil meninggalkan meja makan.

Ia masuk ke kamar, tak lama setelah itu ia sudah memakai baju baru yang baru saja ia beli dan beranjak meningalkan kamar.

“Mau kemana kamu Nak, ini kan sudah malam…”, tanya Iriyah.
“Bukan urusan ibu!”, balas Fitriah sambil membanting pintu.

Di dalam hatinya, Iriyah sebenarnya merasa sakit diperlakukan oleh anaknya sendiri seperti itu. Tetapi naluri dan kasih sayang ibu tidak bisa hilang, “semoga Alloh segera menyadarkanmu nak, semoga Alloh selalu melindungi kamu”, ucap Iriyah sambil menatap anaknya pergi.

Tengah malam, Iriyah mulai gelisah melihat anak gadisnya belum pulang. Sebagai seorang ibu ia khawatir kalau terjadi apa-apa dengan anaknya. “Ya Alloh, dimana Fitriah sekarang, kenapa dia belum pulang?”, ucapnya sambil terus memandangi pintu rumahnya.

Tak henti-hentinya ia berdoa untuk anaknya itu. Beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki yang terhuyung, Iriyah segera menuju ke pintu. “Ya Alloh Nak, kamu dari mana saja jam segini baru pulang…”, ucap Iriyah.
“Aah… diam, aku ngantuk!”, bentak Fitriah sambil jalan terhuyung.
“Astagfirulloh, bau apa ini, kamu minum-minum ya nak….”, ucap Iriyah kaget mencium bau minuman yang tidak sedap.
“Diam cerewet!!”, teriak Fitriah sambil mendorong Iriyah

Iriyah pun terjatuh ke lantai, tanpa memperdulikan sang ibu yang terjatuh Fitriah langsung menuju ke kamarnya.

Tak ayal lagi, mendapatkan perlakuan seperti itu dari anaknya, Iriyah tak bisa menahan diri lagi. Iriyah tak bisa membendung air mata lagi, ia pun menangis tersedu-sedu. “Ya Alloh, berikanlah kekuatan pada hamba untuk mendidik Fitriah”, teriaknya dalam hati.

Sejenak kemudian ia bangkit dan menuju ke kamar dengan perasaan hancur. Angin yang berhembus dari pintu rumah yang terbuka itu seolah menjadi garam bagi luka hati Iriyah.

Kali ini hatinya benar-benar terluka, ia masuk ke kamar, mengunci pintu dan memeluk bantal dengan air mata yang terus mengalir.

Di dalam kamar, sayup-sayup Fitriah masih mendengar suara ibunya, ia pun merasa sangat terganggu, “Diam!!!”, teriak Fitriah sekencang-kencangnya sambil membanting kaca yang ada di dalam kamar.

Dengan terhuyung, kemudian ia membuka laci meja, ia mengeluarkan beberapa minuman, ke dalam sebuah gelas. Berkali-kali ia menjejalkan minuman tersebut ke mulutnya, sampai akhirnya, “wow….ini baru nikmat”, ucapnya.

Tanpa sadar, ia pun menghabiskan begitu banyak minuman sampai akhirnya ia jatuh tersungkur ke lantai. Tiba-tiba ia merasa kepalanya begitu sakit, keluar darah dari bagian telinga dan hidungnya, sesaat kemudian ia pun tersungkur, tak sadarkan diri.

--- Tamat ---

Tag : Anak, Cerpen, Keluarga
Back To Top