Contoh Cerpen untuk Ibu, Nasehat Sang Bunda

Contoh Cerita Cerpen untuk seorang Ibu, Nasehat Sang Bunda, Selalu ada hikmah di balik perkataan ibu yang soleh, dalam cerpen kali ini anda akan mendapatkan pelajaran berharga berkaitan dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut sang bunda. Jika itu teguran maka renungkan dengan hati bersih, jika itu nasehat maka perhatikanlah karena seorang ibu pasti ingin melihat anaknya bahagia.


Melalui karya cerpen kali ini anda bisa mendapatkan renungan bagaimana sebaiknya seorang anak memperhatikan setiap nasehat yang ia dapat dari ibunya. Pada cerita ini, dikisahkan Nardi akhirnya mendapatkan berkah atas peringatan dan nasehat yang ia dapat dari sang bunda. Kenapa bisa demikian?

Cerita dalam cerpen ibu kali ini bisa dikatakan juga sebagai cerpen cinta, dimana tokoh utama yang mengabaikan nasehat ibunya akhirnya mengerti bahwa apa yang dikatakan ibunya benar. Seorang ibu memang mempunyai naluri yang sangat peka, bahkan terkadang untuk hal-hal yang tidak bisa dijelaskan sekalipun.

Ya, kalau pun nantinya kisah yang diulas dalam cerpen kali ini kurang sesuai dengan keinginan anda tetapi paling tidak cerpen singkat berjudul “nasehat sang bunda” berikut bisa menjadi tambahan koleksi. Sebenarnya, dari sisi alur cerita, karya ini cukup menarik mengingat ceritanya masih jarang diangkat dalam karya lain. Agar lebih jelas silahkan baca langsung ya.

Nasehat Sang Bunda
Cerpen Ibu Oleh Irma

“Sudah Nak, ini namanya cobaan, kamu harus tabah menjalaninya”, ucap Parinem menasehati anak lelakinya itu. “Ibu yakin, setelah ini kamu pasti akan lebih baik, Alloh menguji hambanya untuk menaikkan derajatnya Nak”, lanjut Parinem sambil memegang pundak Nardi.

Nardi hanya terdiam seolah tak mendengarkan perkataan ibunya. Ia terus menyesali apa yang baru saja terjadi pada dirinya. “Bagiku ini sangat berat Bu”, jawabnya sesaat kemudian, “kenapa disaat seperti ini Alloh mengujiku”, lanjut Nardi.

“Tahun ini, kamu telah berusaha dengan baik Nak, kamu berdoa sekaligus bekerja keras”, ucap Nardi. “Tapi Bu…”, jawab Parinem. Melihat anaknya yang seolah sama sekali tak memahami bagaimana ia harus menghadapi ujian tersebut Parinem pun duduk disamping Nardi, “Nak, jangan kufur nikmat, coba lihat, usaha yang kamu bangun sekarang telah kokoh dan kuat, ibu yakin usaha itu tidak akan terpengaruh karena musibah ini”, ucapnya pelan.

Nardi pun terdiam mendengar perkataan ibunya kali ini. Ya, dalam hatinya memang tidak ada rasa takut kalau usahanya akan hancur, hanya saja ia memang masih begitu menyesal dan merasa sayang kehilangan uang ditabungannya tersebut.

Parinem pun mengingatkan kepada anaknya bahwa harta tidak boleh sampai menjauhkan dia dari Alloh, “Ibu tidak akan bangga jika engkau sukses tetapi jauh dari agama. Ibu akan lebih bangga bila kamu taat agama dan mendapatkan lindungan-Nya Nak”, ucapnya.

Nardi yang dari kecil memang dekat dengan agama pun menyadari apa yang ibunya katakan. Dan akhirnya ia pun belajar merelakan kehilangan yang telah ia alami. “Lain kali lebih hati-hati lagi, dan jangan lupa sisihkan sedikit penghasilanmu untuk bersedekah, ingat nak, harta tidak dibawa mati”, Parinem mengingatkan anaknya agar ia tidak terjerumus pada kehidupan dunia yang fana.

Berbekal nasehat dan arahan dari ibunya, Nardi pun melanjutkan hidupnya yang hampir saja terganggu gara-gara musibah itu. Ya, memang cukup berat, ketika usaha yang dirintis oleh Nardi mulai berjalan, beberapa keuntungan yang didapat justru hilang dicuri orang.

Kali ini ia lebih giat dan lebih berhati-hati lagi. ia sama sekali tidak mau ada kejadian seperti itu lagi yang menimba dirinya. Ia bekerja siang malam membanting tulang mengurus bisnis yang ia miliki.
Ia sama sekali tak mengenal lelah, “aku harus sukses, aku tidak mau direndahkan lagi oleh mereka”, tekad Parinem dalam hati. Sampai akhirnya karena tekad dan semangat itu Parinem pun lupa sebagian kewajiban hidup yang ia miliki.

“Beberapa hari ini ibu lihat kamu sibuk terus, bagaimana bisnis kamu nak”, ucap sang ibu.
“Iya Bu, baik, aku sedang sibuk menyiapkan berbagai keperluan untuk membuka cabang usaha baru Bu”, jawab Nardi.

Ia sama sekali tak menoleh ke arah ibunya yang duduk disampingnya. Ia begitu sibuk dengan pekerjaannya itu. “Ow, bagus kalau begitu… Oh iya, sudah waktu isya, kamu sudah sholat”, tanya sang ibu.

“Belum bu, lagi tanggung, nanti saja setelah selesai ini”, jawab Nardi singkat. “Jangan lupa sholat Nak”, ucap ibunya sambil meninggalkan Nardi yang tetap sibuk di depan laptop.

Di dalam hati sang ibu sebenarnya ia khawatir akan anaknya itu. Anaknya terlalu terobsesi dengan kesuksesan sehingga mulai sering mengabaikan kewajiban.

Beberapa bulan berlalu, bisnis yang digeluti Nardi mulai semakin berkembang tetapi sejalan dengan itu Nardi lebih jauh dari agama. Pada suatu hari, dengan begitu bangga Nardi membelikan kalung berlian untuk sang ibu.
“Bu, aku ada hadiah buat ibu?”, ucap Nardi
“Hadiah apa Nak?”, tanya sang ibu.
“Ini ibu buka saja”, ucap Nardi.

Parinem pun membuka kotak kecil yang Nardi berikan padanya, ia pun kaget melihat berlian mahal tersebut, “untuk apa kau memberikan ini untuk ibu?”, tanya Parinem.
“Lo, kok ibu bilang seperti itu, ibu tidak suka ya?”, tanya Nardi.
“Ya bukan tidak suka Nak, tapi berlian mau ibu apakan, kamu tahu kan ibu sudah tua dan sebentar lagi pun akan mati?”, ucap Parinem.

Mendengar perkataan sang ibu Nardi pun terdiam. Ia kecewa dengan ibunya yang tidak suka dengan pemberiannya. Parinem pun tahu perubahan wajah sang anak, “ada sesuatu yang lebih ibu butuhkan dari pada berlian, yang lebih berharga…”, ucap Parinem pelan.

Nardi yang ingin membahagiakan ibunya pun langsung bertanya, “apa itu Bu, aku pasti akan memberikannya untuk ibu”, jawab Nardi tegas. “Ibu butuh doa kamu Nak, karena doa anak soleh yang akan menyelamatkan ibu dari api neraka”, ucap Parinem.

Sekali lagi, Nardi tertegun mendengar perkataan ibunya. Belum sempat ia berkata apa-apa sang ibu pun kembali berkata, “tapi ibu juga sangat senang kalau sebelum ajal ibu bisa menimang cucu”, ucap Parinem sambil tersenyum kecil.

“Ibu ini bicara apa sih, sudah deh bu jangan bicara seperti itu”, ucap Nardi tak senang mendengar perkataan ibunya. “Ya sudah, kalau kamu tidak suka ibu bicara seperti ini terus makanya kamu jangan tinggalkan sholat, ibadah, bersedekah, dan segera menikah… ayolah nak…”, ucap Parinem setengah merengek kepada anaknya.

Siapa yang bisa tahan dengan kasih sayang ibu yang lemah lembut. Melihat kelakuan sang ibu yang seperti itu Nardi pun langsung memeluk ibunya yang sudah mulai beruban, “sabar ya bu, nanti aku carikan menantu yang soleh”, ucapnya sambil memeluk ibunya.

Beberapa hari kemudian, Nardi yang memang sudah memiliki pacar akhirnya pun memperkenalkan kekasihnya tersebut. Tetapi, bukannya senang, sang ibu justru tidak setuju dengan wanita pilihan Nardi tersebut.

Setelah wanita itu pulang, Parinem segera memanggil anaknya, “Nak, kesini sebentar ibu mau bicara”, ucapnya.
“Ada apa sih bu, serius benar”, tanya Nardi penasaran.
“Nak, apa kamu serius dengan Sinta?”, tanya Parinem.
“Iya dong bu, makanya aku kenalkan dia pada ibu”, jawab Nardi.
“Tapi nak, maaf ya, menurut ibu dia kurang baik untuk kamu jadikan istri”, ucap Parinem pelan.

“Ibu ini kenapa sih, ibu tidak suka dengan dia, aku ingin menikahinya bu!”, ucap Nardi setengah berteriak. “Tadi ibu tidak sengaja melihat gambar tato dibagian lengan Sinta, sepertinya dia bukan wanita baik-baik”, ucap Parinem.

Mendengar perkataan ibunya, Nardi pun tambah marah. Ia langsung meninggalkan ibunya menuju ke kamar. Parinem sendiri memiliki firasat yang benar-benar kurang baik karena itu ia terlihat begitu takut, “Ya Alloh, lindungilah anakku dari wanita yang tidak soleh”, ucapnya pelan.

Tiga bulan berlalu, Parinem tidak bisa lagi menasehati Nardi, Nardi tetap saja yakin dengan pilihan hatinya dan akan segera melamar Sinta. Sampai pada suatu hari Parinem yang sedang duduk di depan TV membaca berita berteriak pada Nardi.
“Nak, buruan sini, buruan cepat….” teriak Parinem.
Nardi yang sedang berada di kamarnya pun menghampiri ibunya. Betapa terkejutnya ia melihat tayangan yang ada di televisi. “Seorang wanita ditangkap karena mengedarkan barang haram”, Nardi pun tertunduk lemas.

“Sabar Nak, ia memang bukan yang terbaik untuk kamu”, ucap Parinem. Ternyata apa yang ditakutkan Parinem benar, Sinta bukanlah gadis baik-baik, ia ditangkap karena terbukti mengedarkan barang yang merusak generasi bangsa.

Dengan begitu, akhirnya, Nardi terbebas dari jerat wanita tak bermoral. Nasehat dan doa sang  ibu ternyata menyelamatkan hidup dan masa depannya.

--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Ibu, Keluarga
Back To Top