Cerpen tentang Pendidikan Singkat, Batik

Contoh Cerpen tentang Pendidikan yang Singkat - Yang namanya cerpen pendidikan pasti tidak jauh-jauh dari kegiatan belajar mengajar, benar tidak? Sama juga dengan cerpen berjudul “motif batik takurus” berikut. Cerpen ini menggambarkan perjuangan seorang pelajar sekolah dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. Cukup lucu, menarik dan menggemaskan ceritanya, mau tahu?

Ya, bukan mendapatkan tugas membuat batik, tetapi pelajar tersebut ditugaskan untuk menggambar sketsa motif batik yang bebas terserah masing-masing. Dan ternyata, tugas tersebut tidaklah mudah, ia sangat kesulitan untuk bisa menyelesaikan tugas tersebut, padahal esok tugas tersebut sudah harus di kumpul.

Tekad, niat, komitmen dan rasa tanggung jawab membuat pelajar itu terus berusaha menyelesaikan tugas yang diberikan. Sementara digambarkan temannya sangat santai dan tidak seperti dia yang seolah sangat kesulitan dalam menyelesaikannya.

Dengan bahasa yang sederhana dan kalimat yang mudah dipahami contoh cerpen ini mampu membuat kita seolah merasakan bagaimana kesulitan yang dialami tokoh utama. Selain itu, alur ceritanya juga tidak rumit sehingga hubungan antara satu kejadian dan kejadian lain mudah untuk dipahami. Seperti apa kisah selengkapnya, simak cerpen tersebut di bawah ini.

Motif Batik Takurus
Cerpen tema Pendidikan Oleh Irma

Sore sudah menjelang, tapi tampak sekali bahwa Adnan masih sangat sibuk dengan banyak kertas di atas meja. Ia seolah tak menyadari dari tadi perutnya yang berbunyi menandakan ia harus makan.

Minggu ini memang hari libur sekolah, tapi tidak begitu dengan Adnan. Dari pagi ia sudah sibuk dengan buku-buku, kertas dan alat tulis. Orang tuanya tidak tahu, entah apa yang ia kerjakan dari pagi hingga sore begini.

“Adnan, sudah sore Nak, mandi dulu, dari tadi ibu lihat kamu tidak beranjak dari tempatmu duduk…” ucap sang ibu. “Nanti bu…. Masih belum selesai”, jawab Adnan setengah berteriak.

Melihat anaknya yang tak bergeming dengan perintahnya, Martini langsung menghampiri sang putra kesayangannya tersebut.
“Sedang bikin apa sih, serius benar?”, tanya Martini.
“Ini bu, aku ada tugas membuat motif batik yang akan dikerjakan besok, tapi aku belum selesai, ternyata susah juga membuat motif yang bagus…”, ucap Adnan pada ibunya.

Martini pun mengambil beberapa lembar kertas yang berserakan di bawah meja. Ia lalu melihat dan mengamati gambar-gambar dalam kertas tersebut. Sejenak ia diam, seolah sedang memikirkan sesuatu, lalu ia pun berkata lagi…
“La, ini motif batik takurus, bagus lagi…”, ucap Martini.
“Apa bu, motif apa, mana?”, tanya Adnan.
“Ini, ini siapa yang gambar, lumayan bagus kok”, ucap Martini lagi.

Ah, Adnan mendapati ibunya memegang beberapa gambar batik yang ia buat tadi, beberapa gambar tersebut memang sudah dibuang, tidak terpakai karena menurut Adnan gambar itu sangat buruk.

“Itu Adnan yang gambar bu, jelek itu”, ucap Adnan seraya mengambil kertas tersebut, meremas dan membuangnya ke kotak sampah. Sang ibu pun tersenyum, ia kemudian melihat ke kotak sampah yang sudah penuh dengan kertas yang lusuh.

Ia pun kemudian kembali berkata kepada anaknya, “la, nak, kamu itu dari pagi sedang membuat sketsa batik atau sedang memenuhi kotak sampah?”, ucap Martini, “udah, sekarang mandi dulu saja, itu kotak sampah juga sudah penuh”, ucapnya sambil tersenyum.

Adnan masih belum beranjak sampai akhirnya Martini memegang tangan anaknya dan mengambil semua peralatan tulis yang sedang Adnan pegang. Adnan pun akhirnya berdiri dan menuruti perintah sang ibu.

Setelah berdiri, barulah ia merasakan badan yang begitu pegal dan letih. Ia lalu buru-buru mandi karena jam dinding telah menunjukkan pukul 4 sore. Selesai mandi ia langsung menuju meja makan, karena memang seharian ia lupa makan.

Dua piring nasi habis masuk ke perut, ia pun kembali menuju ke meja belajar. Di sana ia menghidupkan tv sebentar, tak terasa mata Adnan begitu berat, ia pun tertidur.

Tak berapa lama, bel pun berbunyi, Martini membuka pintu dan mendapati Adan teman anaknya. “Tante, aku mau belajar, buat tugas kerajinan bersama Adnan, boleh kan?”, tanya Adan. “Iya, iya boleh, mari masuk nak Adan, Adnan di depan tv tuh, bangunan saja”, ucap Martini. Ia pun kemudian ke dalam untuk membuatkan minum dan beberapa makanan kecil.

“Adnan, bangun, tugas kamu sudah belum, bangun Nan!”, ucap Adan sambil menggoyang-goyang tubuh Adnan
Adnan pun terbangun dan kaget, “la, kamu sudah dari tadi, aduh aku ketiduran jam berapa ini…” ucap Adnan
“Ini jam 5, tugas kamu sudah belum, bantu aku yuk kerjain tugas kesenian!”, ajak Adan.
“Tugasku juga belum selesai nih”, jawab Adnan langsung mengambil kertas-kertas dan pena yang tadi berserakan.

Mulailah mereka berdua akhirnya menggambar batik, tepatnya motif sketsa batik untuk di bawa ke sekolah. Adan sudah menyiapkan beberapa contoh gambar yang akan ditiru, ia kemudian memberikannya beberapa kepada Adnan. Beberapa menit kemudian mereka berdua sibuk masing-masing.

“Adnan, Adan nih minuman dan cemilan buat kalian”, ucap Martini.
“Oh, iya terima kasih banyak tante”, jawab Adan.
“Sudah jadi tugasnya?”, tanya Martini.
“Belum Tante, ini baru setengah..”, ucap Adan.

“Wah, bagus itu, nah kalau menggambar diselesaikan dulu, jangan lihat bagus jeleknya. Buat saja satu atau dua gambar, nanti setelah itu dipilih yang paling bagus. Lihat tuh, Adnan menggambar dari pagi tidak ada yang jadi soalnya langsung dimasukkan ke kotak sampah, padahal gambarnya bagus-bagus..”, ucap Martini.

“Apa iya Tante, mana-mana aku lihat deh”, ucap Adan penasaran

Adnan tetap diam membisu, ia begitu serius menyelesaikan gambarnya kali ini tanpa memperdulikan Adan dan ibunya. Sementara Adnan menggambar, Adan pun langsung melihat ke kotak sampah yang ada di sisi kanan mereka.

Adan kemudian mengambil beberapa gambar, “La benar, ini bagus-bagus kok kamu sobek begini sih Adnan?”, ucap Adan. “Ya sudah kalau bagus buat kamu saja”, ucap Adnan tanpa memperhatikan temannya.

Tadinya sih begitu, niat hati Adan ingin mengambil salah satu gambar tersebut tetapi karena sudah kumal dan lusuh akhirnya ia pun meneruskan gambarnya sendiri.

Satu jam kemudian akhirnya mereka menyelesaikan satu gambar dan menyantap makanan kecil yang diberikan Martini. “Hore, batik takurus akhirnya selesai juga”, teriak Adnan senang.

--- Tamat ---

Back To Top