Contoh Cerpen Tema Liburan, Pantai Pasir Putih

Contoh Cerpen Tema Liburan, Pantai Pasir Putih - Masih ada lagi cerita pendek ketika liburan yang bisa anda baca. Kali ini ceritanya berjudul "pantai pasir putih". Tentu saja, seperti terlihat pada judul, karya ini tentu mengisahkan tentang liburan di sebuah pantai yang indah. 


cerpen tentang liburan

Tapi bagaimanakah sebenarnya cerita yang ada dalam cerpen ini, apakah ceritanya cukup menarik dan bisa menghibur kita semua? Tidak usah diceritakan mengenai isi ceritanya, nanti anda bisa membaca sendiri bagaimana kisah selengkapnya.

Yang pasti cerpen ini bisa menjadi tambahan koleksi cerita menarik yang bisa anda nikmati di waktu senggang. Tidak usah ini itu, tidak perlu syarat banyak untuk bisa menikmati berbagai cerita menarik, tinggal pilih saja mana yang diinginkan.

Sekarang, dengan adanya tambahan cerpen tentang liburan ini maka anda bisa memilih lebih banyak lagi model atau jenis cerita yang mengambil inspirasi dari pengalaman sederhana. Ceritanya mudah dipahami kok, bahasanya juga tidak sulit dimengerti.

Awalnya sih sebenarnya dapat ide membuat cerpen dengan judul pasir hitam, agar lebih beda. Tapi karena inspirasinya kurang bagus maka ya beginilah hasilnya. Entah bagus atau jelek, nanti anda bisa memberikan penilaian sendiri. Sekarang silahkan dibaca dulu cerpen bertema liburan tersebut!

Pantai Pasir Putih
Cerpen tentang Liburan Oleh Irma

Suasana liburan kali ini terasa begitu berbeda, Rina merasa begitu senang karena memiliki waktu yang cukup panjang untuk bersantai di rumah. Berbeda dengan Rina, Rita tampak tidak begitu ceria, baginya libur atau tidak sama saja karena ia harus tetap membantu ibunya berjualan.

Ia mungkin remaja satu-satunya yang jarang menikmati masa remaja, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk membantu sang ibu mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Maklum, Rita adalah anak dari keluarga yang kurang mampu sehingga tidak ada kata liburan dalam hidupnya.

Rina yang sudah kenal lama dan bersahabat dengan Rita pun merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Rencananya, liburan tahun baru ini ia akan mengajak sahabatnya itu untuk berlibur di pantai pasir putih. Rina sudah menyiapkan segalanya untuk Rita, bahkan baju-baju untuk ke pantai pun sudah disiapkan.

“Tante, satu hari besok aku pinjam Rita ya…”
“La, pinjam bagaimana toh, itu kan anak tante bukan barang…”
“Ih…tante ini, maksudnya besok aku mau minta izin mengajak Rita jalan-jalan, harus boleh pokoknya..”

“La ini bagaimana, minta izin kok memaksa, terus siapa yang bantuin tante datang kalau begitu?”
“Pokoknya harus, tante dagang sendiri dulu, kalau tidak boleh aku laporkan tante ke komnasham baru tahu rasa, he e e e…”

“Duh…duh, duh ini anak, bandel ya… memang mau ke mana?”
“Ini tante, besok kan tahun baru, aku mau ajak Rita ke pasir putih, sekali-kali liburan, ya tante ya, besok aku bantuin deh dagangnya…”

“Owalah, mau jalan, jalan… tapi tante enggak punya uang, bagaimana?”
“Sudah terima beres tante, yang penting izin dan doanya…”
“Ya sudah, tapi tidak menginap disana kan?”
“Enggak tante, tenang saja…”

Setelah mendapatkan izin dari orang tua Rita, Rina pun langsung menuju ke rumah dan memberitahu sahabatnya. Rita yang masih membereskan dapur tampak sangat terkejut ia diizinkan berlibur bersama Rina.

“Benar kamu Rin, ah pasti kamu bohong?”
“Enggak, serius, aku sudah siapkan semuanya, pokoknya besok pagi-pagi kamu harus sudah siap, kita berangkat jam 7 pagi”.

Akhirnya mereka berdua pun menghabiskan tahun baru di pantai pasir putih. Disana, Rina dan Rita tampak begitu gembira. Berbagai macam kegiatan mereka lakukan, sampai akhirnya mereka kelelahan.

Hari itu adalah hari yang paling indah yang pernah Rita rasakan. Selama hidupnya ia belum pernah sekalipun bebas lepas bermain sesuka hati seperti saat itu. “Terima kasih banyak ya Rin, kamu memang sahabat yang baik”, ucap Rita.

Sore harinya mereka berdua pulang dengan wajah ceria. Sesampainya di rumah Rita pun bergegas mandi dan masih ingat dengan kewajibannya membantu sang ibu. Ke esokan harinya, seperti janji yang sudah terucap Rina pun membantu berdagang.

“Mana ini Rina, katanya kemarin mau bantun ibu dagang?”
“Iya tah bu?”
“Iya, katanya kemarin begitu, awas nanti kalau tidak bantu ibu”

Belum selesai Rita dan ibunya membicarakan Rina, akhirnya yang dibicarakan pun datang. “Pagi tante…pagi Rita”, ucap Rina.

“Wah, kamu kok kesini lagi Rin?”
“Iya dong, aku kan kemarin sudah berjanji sama ibu kamu… janji adalah hutang, benar kan?”
“Weladalah… Rina memang anak baik dan soleh, bagus kalau begitu jadi hari ini ibu ada dua orang yang bantu dagang?”

“Tenang tante, kalau ada Rina pasti nanti dagangan tante laris manis, benar tidak Rit?”
“Pasti dong, karena semua yang datang kamu paksa beli, he ehe…”
“Eh, enak aja kamu…”


Sebelum mereka berangkat, Rina dan Rita pun sarapan bersama sambil membicarakan liburan yang telah usai kemarin.

“Rit, nanti sore kita cetak ya foto-foto kita yang di pantai…”
“Ha… dicetak, apa tidak mahal?”
“Ya kita cetak beberapa saja, untuk kenang-kenangan, lainnya biar disimpan di memori ponsel aku…”

“Ya terserah kamu deh… tapi aku tidak punya uang…”
“Ya nanti kan kita dagangnya laris, jadi kamu bisa dapat upah dari ibumu, he he he…”

Setelah sarapan mereka berdua pun segera menyusul ke warung ibu Rita. Disana ternyata sudah banyak pembeli yang mengantri. Mereka pun langsung bergegas membantu melayani pembeli. Sampai sore ternyata warung sangat ramai, bahkan sampai kehabisan.

--- Tamat ---

Back To Top