Cerpen tema HUT RI 17 Agustus, Pawai dan Jiwa Patriotisme

Cerpen tema HUT RI 17 Agustus, Pawai dan Jiwa Patriotisme - Melengkapi cerpen sebelumnya kita akan membagikan lagi satu cerpen sederhana dengan tema hari kemerdekaan. Kali ini judulnya "pawai dan jiwa patriotisme". 

Cerpen tema HUT RI 17 Agustus, Pawai dan Jiwa Patriotisme
Cerpen HUT RI: Selamat Ulang Tahun Indonesiaku.
Semoga Engkau semakin maju dan sejahtera
Tentu kita tidak asing dengan berbagai acara yang biasa dilaksanakan menjelang ulang tahun kemerdekaan Indonesia bukan? Nah salah satunya adalah karnaval atau pawai budaya.

Cerpen ini mengambil tema mengenai kegiatan tersebut yaitu kegiatan pawai atau parade. Ceritanya seru, menghibur, lucu dan yang terpenting bisa menginspirasi kita dalam meningkatkan jiwa patriotisme dan nasionalisme. Sebuah kejadian atau acara yang dibalut dengan gaya bercerita yang menarik namun sederhana.

Karya ini akan menjadi hiburan sekaligus bahan belajar kita dalam meningkatkan kecintaan kita kepada bangsa dan negara. Semarak, bahagia, penuh suka cita dan kental dengan nuansa rasa cinta terhadap bangsa, benar-benar digambarkan dalam suasana yang menarik. 

Anda yang mencari cerpen tema hari - hari besar bisa mendapatkan tambahan referensi dan pilihan untuk karya-karya seperti ini. Jadi semakin penasaran saja dengan bagaimana kisah atau cerita dalam cerpen tersebut. Yuk kita baca saja langsung ceritanya.

Pawai dan Jiwa Patriotisme
Cerpen tema Hari Kemerdekaan 17 Agustus

Menumbuhkan jiwa patriotisme dan nasionalisme itu bisa dari apa saja, bukan hanya melalui pendidikan di dalam kelas. Jiwa nasionalisme dan patriotisme juga bisa dipupuk sejak kecil dari acara pawai budaya yang biasa diadakan ketika memperingati hari kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya, kawan.

Riko Batak menjelaskan kepada beberapa teman tentang betapa penting nilai kebangsaan. Ia duduk diatas lengan kursi, kedua tangan bergerak lincah mengikuti bahasa yang diucapkan.

Matanya tampak sedikit merah, bak seorang komandan perang ia mencoba mengobarkan semangat kemerdekaan kepada teman-teman sepermainan. “Gaya kamu itu Ko, sudah seperti mau perang saja!”, ucap salah satu temannya.

“Ya benar, siapa bilang kita sedang tidak berperang. Meski tidak ada desing peluru, tak ada darah namun kita sedang berperang memajukan bangsa dengan pembangunan!”, jawabnya lantang seolah tak mau sahabatnya surut semangat.

“Iya, iya, kami tahu. Ya sudah, rencana kita untuk ikut memeriahkan acara HUT RI kali ini apa?”, ucap Darman protes.
“He….he… he… apa ya?”, jawab Riko sambil garuk kepala
“Ah…kamu ini dari tadi pidato tapi enggak punya ide, payah!”, ucap Milena
“Iya… gak sesuai!”, tambah Darman

“Sudah, sudah, aku tidak punya ide makanya aku ajak kalian kumpul… Oh iya, kali ini sepertinya aku masih sangat sibuk jadi tidak punya banyak waktu untuk ikut lomba 17-an, bagaimana dengan kalian?”, ucap Riko

“Iya… aku juga banyak sekali pekerjaan”, jawab Milena
“Apalagi aku, aku gak bisa ikut kayaknya nih!”, tambah Darman

“Jangan tidak ikut sama sekali, paling tidak di puncak acara kita harus bisa…”, ucap Riko sedikit lemas.

“Ya, kalau itu pasti, paling tidak kan sudah pasang bendera di depan rumah…”, ucap Milena bercanda.
“Hu… Dasar!”, teriak Riko Batak dan Darman
Riko Batak, Darman dan Milena akhirnya memutar otak mencari ide agar mereka bisa ikut acara HUT kemerdekaan. Akhirnya, setelah berdebat beberapa jam mereka pun memutuskan untuk ikut pawai budaya tingkat kecamatan pada tanggal 17 agustus.

“Demi untuk bangsa dan negaraku….!”, teriak Riko Batak, Darman dan Milena ketika selesai berkumpul. Waktu tinggal 3 hari untuk mempersiapkan diri.

“Kita ikut pawai pakai kendaraan, jangan jalan kaki, kasihan Milena kalau harus jalan kaki dan kena panas matahari”, ucap Riko Batak. “Halah…. Gaya kamu sok perhatian”, jawab Milena. Melihat kedua rekannya yang bercanda terus Darman pun sewot. Ia akhirnya mengajak untuk mulai mempersiapkan diri.

Senin pagi, tanggal 15 Agustus mereka sudah berkumpul untuk memilih kendaraan dan menghias-nya. Pilihan jatuh pada motor roda tiga, mereka akhirnya menghias kendaraan tersebut sedemikian rupa menyerupai gerobak sapi.

Riko Batak segera menghubungi beberapa kawan untuk membuat patung replika sapi. Darman menghias bagian lain kendaraan sedangkan Milena mulai mempersiapkan busana dan berbagai keperluan untuk teman-temannya.

Semua mereka lakukan secara gotong royong. Kebetulan, mereka bertiga adalah pemuda yang aktif dalam organisasi dan sudah dikenal baik hingga untuk acara pawai 17 Agustus itu banyak sekali yang membantu.

Mereka tidak mengeluarkan uang kecuali hanya sedikit. Banyak pemuda desa yang menyumbang dan bahkan bergabung dengan konsep pawai yang sudah mereka siapkan.

“Woi, aku ikutan ya…”
“Boleh… boleh… tapi jangan yang aneh-aneh ya, yang mendidik aja…”
“Oke deh…”
“Kita buat sesuatu yang menarik tetapi tidak ada konotasi negatif, misalnya laki-laki yang berpakaian perempuan, tidak mendidik itu!”
“Wah…. Gak seru dong….!”
“Seru apanya, menyesatkan itu, temanya patriotisme dan nasionalisme aja!”
“Iya deh…ikut aja”

Hari berikutnya, selasa dari pagi sampai siang suasana rumah Riko Batak menjadi semakin ramai dan gaduh. Banyak sekali rekan remaja dan pemuda pemudi yang mempersiapkan keperluan pawai budaya di rumah Riko.

Rumah Riko sendiri memang strategis, halamannya sangat luas, dan lokasinya yang dekat dengan kecamatan. Biasanya disana akan menjadi start tempat pawai dimulai. Itulah sebabnya banyak pemuda yang akhirnya bergabung disana.

Semua bahu membahu untuk memeriahkan pesta kemerdekaan. Terlihat para pemuda dan pemudi begitu semangat dan berapi-api. “Ingat, sebagai generasi penerus kita harus terus berjuang melanjutkan perjuangan para pahlawan. 

Mari kita isi kemerdekaan ini dengan membuat Indonesia menjadi lebih maju dan sejahtera!”, teriak Riko Batak sore itu mengakhiri kegiatan persiapan karnaval.

“Merdeka…! Merdeka…! Merdeka…!”, semangat mereka terbakar, mereka satu persatu akhirnya meninggalkan rumah Riko. Hanya tinggal Riko Batak, Darman dan Milena. Sebelum magrib Milena pulang, Darman memutuskan menginap di rumah Riko Batak dengan ditemani beberapa anak lain.

Mereka menjaga peralatan pawai yang tidak bisa dibawa pulang, takut kalau hujan. Setelah persiapan yang melelahkan akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Jam sembilan pagi suara sudah semakin gaduh, masyarakat sudah mulai banyak yang berkumpul di tempat start.

Akhirnya, kemeriahan mengisi seluruh hari, dari pagi hingga sore suasana seluruh kecamatan begitu meriah dan ramai. “SELAMAT ULANG TAHUN INDONESIAKU, SEMOGA JADI LEBIH BAIK”, sebuah spanduk besar membelah kerumuman mengawali parade pawai kemerdekaan.

--- oOo ---

Tag : Cerpen, Perayaan
Back To Top