Cerita Cerpen Pengalaman Lucu, Teman Yang Usil

Bisa dikatakan, berikut adalah salah satu contoh cerpen pengalaman lucu yang dialami oleh seorang remaja pelajar sekolah. Pengalaman tersebut berkaitan dengan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa sebuah sekolah. Ceritanya sedikit panjang tapi dijamin akan membuat anda semua tersenyum sendiri.


Kita lihat dulu judulnya, cerpen berjudul "teman yang usil" ini apakah mengisahkan pelajar yang nakal dan jahil kepada teman-temannya? Ya, kalau sekilas dilihat dari judulnya sih bisa saja demikian. Tetapi ini beda, kisah dalam cerpen ini dibalut dalam sebuah pengalaman yang dialami yang berkaitan dengan teman sekolah.

Yang pasti, kisah atau alur cerita yang dihadirkan dalam cerpen lucu ini bisa sangat menghibur. Alurnya cukup menarik, ada ketegangan yang bisa dirasakan pembaca tetapi juga ada candaan yang bisa membuat perut anda sakit tertawa. Lalu apakah ceritanya sama dengan yang lain yang sudah ada?

Jelas beda, karya cerpen lucu yang singkat ini ditulis dengan sangat sederhana menggunakan bahasa-bahasa sehari-hari. Namun begitu ada ciri tersendiri dalam penggunaan kata dan kalimatnya, yaitu jiwa nasionalisme yang ada dalam para pemain sepertinya tinggi karena dalam percakapan banyak menggunakan bahasa yang baik. Seperti apa kisah selengkapnya?

Teman Sekolah yang Usil
Cerpen Pengalaman Oleh Irma

“Pindah lagi Yah, tidak jadi belajar waktuku hanya habis di jalan dong”, ucapku sedikit kesal. Bagaimana tidak, aku sama sekali tidak menyangka akan pindah sekolah lagi, ini dua kalinya aku harus pindah sekolah karena ayah dan ibuku yang harus bekerja di luar kota dalam waktu lama.

Setahun lalu, aku harus pindah dari Jakarta ke luar negeri karena ayah tugas di sana. Dan sekarang aku harus kembali ke tanah kelahiran karena masa tugas ayah sudah habis. Pindah sekolah untungnya bisa sekalian liburan panjang di daerah yang baru, tetapi kadang juga harus tertinggal pelajaran dan menyesuaikan diri lagi.

Belum lagi jika harus berhadapan dengan teman lain yang tidak bersahabat, itulah yang paling aku takutkan. “Tenang Nak, kali ini kan kita pindah ke kampung, jadi dijamin tidak ada anak yang jahil atau usil dengan kamu”, ucap ayahku mencoba merayu karena aku terlihat tidak begitu suka.

“Ya sudahlah, mungkin bisa mendapatkan pengalaman baru”, pikirku tak ada pilihan lagi. aku dan keluarga akhirna pun pindah ke kampung dan kali ini kami akan menetap selamanya di kampung karena sisa masa kerja ayah juga sudah pendek.

Waktu yang dijadwalkan pun tiba, aku dan keluarga pindah ke kampung. Hari itu juga ayah dan aku langsung mengurus pindah sekolah. Aku diterima pindah di salah satu sekolah yang katanya paling bagus disana. Setelah selesai mengurus berbagai dokumen esok harinya aku pun mulai bersekolah.

Tidak ada yang berbeda, pagi itu aku berangkat ke sekolah baru itu. Hari pertama sekolah, kebetulan bukan hanya aku saja yang baru, ternyata ada guru baru yang masuk ke kelas kami. Sang guru baru pun masuk ke ruangan, “sebelum pelajaran dimulai, bapak ingin berkenalan terlebih dahulu dengan kalian?”, ucap guru tersebut.

Murid – murid pun riuh mendapatkan guru baru, “Iya, Pak guru”, jawab mereka. Aku yang juga baru hanya diam dan melihat situasi. Kemudian tibalah guru tersebut mulai mengajak murid berkenalan.

“Kamu yang di depan, perkenalkan nama kamu siapa dan hobimu apa?”, pinta pak guru itu. “Nama saya Amar, saya senang melihat cahaya bulan pak”, jawab anak itu. “Bagus, hobi yang unik, coba kamu yang duduk di sebelah Amar?”, lanjut pak guru.

Murid di sebelahnya pun menjawab, “Nama saya Makruf, hobi saya memandang cahaya bulan  pak”. Pak guru baru itu pun langsung menjawab, “Kok sama, kalian memang bersahabat yah?”, ucap bapak itu. Selanjutnya ia pun meminta murid lain untuk berkenalan.

“Nama  saya Nahi Pak, hobi saya melihat cahaya bulan, Pak…”, murid lain menjawab. “Wah. sama-sama laki- laki, hobinya jadi  sama mungkin yah, coba sekarang lanjut ke murid perempuan. kamu cantik.. siapa nama dan apa hobi kamu?”, ucap pak guru itu menunjuk ke murid di sebelah kananku.

“Nama saya Cahaya Bulan, hobi saya pakai rok mini, Pak…”, jawab murid itu. Sontak aku pun tertawa terbahak-bahak mendengarkan jawaban dari murid perempuan yang ada di sebelahku tadi. “Ada-ada saja murid-murid disini, aneh!”, ucapku dalam hati.

Setelah mendapatkan kejutan perkenalan tersebut bapak guru itu pun melanjutkan pelajaran seperti biasa. Di akhir pelajaran tak lupa ia melihat absen murid dan mengetahui nama-nama murid tadi yang sebenarnya.

Hari itu tak ada yang istimewa kecuali kejadian perkenalan tadi, sungguh suatu hal yang sangat jarang aku lihat. Hanya di sekolah ini aku mendapatkan teman yang hobi humor, tapi untung saja mereka tidak serius, mereka juga tak lupa meminta maaf atas humor yang dilakukan.

Hari berganti, waktu berlalu, aku pun mulai sibuk dengan rutinitas belajar seperti tahun – tahun sebelumnya. Bapak dan ibu guru sudah banyak yang mulai memberikan tugas pekerjaan rumah.

Hampir setiap hari kami mulai sibuk mengerjakan tugas tersebut, salah satunya tugas dari guru bahasa Indonesia yang harus aku kumpulkan hari ini. Seperti biasa, aku sudah siap dengan tugas yang diberikan, dan ketika pelajaran itu tiba bu guru pun langsung menanyakan tugas dari kami.

Karena hampir setiap hari selalu membaca lelucon maka Amar, Makruf, Nahi dan Mungkar pun menjadi sasaran pertama, dan kali ini giliran Mungkar yang mendapat kehormatan pertama.

“Mungkar, silahkan kamu kumpul PR kamu ke depan!”, ucap bu guru. “Ini Bu!”, jawab Mungkar sambil menyodorkan sebuah amplop putih.

“Apa ini? Kamu mau nyuap ibu ya gara-gara enggak Buat PR?”, ucap bu guru terlihat emosi. “enggak bu!”, jawab Mungkar serius.

Melihat Mungkar yang serius maka bu guru pun bertanya kembali, “Ibu tuh minta tugas mengarang minggu kemaren! Mana?”, tanya ibu guru lagi. “Saya masukin amplop itu Bu”, jawab Mungkar.

Mengetahui gelagat Mungkar, beberapa anak pun mulai berbisik, di bagian pojok, sebagian anak laki-laki pun mulai menahan tawa. “Kenapa dimasukin ke amplop?”, tanya bu guru kemudian.
“Karena saya mengarang surat cinta buat ibu!”, jawab Mungkar sambil mengedipkan matanya.

Mendengar jawaban Mungkar seluruh kelas pun akhirnya tertawa. Suasana menjadi riuh, ketegangan kelas karena diminta mengumpulkan tugas pun akhirnya hilang. Ibu guru pun akhirnya ikut tertawa melihat kelakuan muridnya tersebut.

Apa yang aku dengar, aku lihat dan aku rasakan ternyata bisa mempengaruhiku, terbukti, beberapa bulan berteman dengan anak-anak yang hobi bercanda membuat aku pun mulai suka bercanda. Sampai-sampai suatu hari ketika aku sedang belajar dengan orang tuaku pun secara tidak sadar aku bercanda seperti yang dilakukan teman-temanku.

“WORK artinya kerja, kalau WORKING artinya bekerja, paham kamu Nak?”, tanya ibuku. “Paham bu..!!”, jawabku singkat. Setelah itu ibu pun menguji kemampuanku lagi, “Sekarang coba kamu cari kata lain”, pinta ibu.

Dengan sigap aku pun mulai unjuk kebolehan, “SING’ artinya menyanyi, jadi ‘SINGING’ artinya bernyanyi”, jawabku. “Terus, bagaimana kalau SONG?”, tanya ibu.
Nah, untuk yang satu ini aku sedikit ragu jadi langsung ku jawab saja, “SONG artinya LAGU jadi kalau ‘SONGONG’ artinya BELAGU!”. “Uh dasar kamu ya”, jawab ibu sambil mencubit aku pelan.

Aku dan ibu pun akhirnya bercanda dan tidak melanjutkan belajar karena hari sudah malam. Setelah itu ibu menyuruhku untuk segera istirahat karena besok aku juga sekolah.

Tiga hari berlalu tanpa ada canda dari teman-teman usilku di kelas. Terasa ada yang aneh ketika candaan mereka sudah menjadi kebiasaan yang kami nanti. Hingga pada suatu siang, ketika pelajaran sudah mau usai, candaan itu pun kembali dipertunjukkan.

“Baik, sebelum pulang ada yang mau bertanya?”, tanya bu guru mengakhiri pelajaran. “Saya Bu!”, jawab Nahi secara tiba-tiba. “Iya, apa pertanyaannya?”, jawab bu guru lagi.
“Maukah Ibu jadi pacarku?”, Nahi menjawab dengan pertanyaan yang tak diduga oleh teman-teman satu kelas.

“Dasar Nahi, pasti berulah lagi itu anak”, pikirku dalam hati. Benar saja, tapi kali ini candaan Nahi disambut oleh bu guru itu.

“Orang kayak kamu mau jadi pacar Ibu? Huek! Ga pentas!”, jawab ibu guru dengan nada sedikit kesal. “Trus orang ganteng kayak saya ini pantesnya jadi pacar siapa dong Bu?”, jawab Nahi tak mau kalah.

“Kamu ini bandel sekali! Sekolah itu yang benar. Belajar dengan serius. Punya cita-cita enggak sih kamu itu?”, jawab bu guru mulai kesal. “Punya dong Bu..”,jawab Nahi dengan muka polos.

“Apa cita-citamu?”, sang ibu guru masih terlihat terpancing dengan candaan Nahi. Kemudian Nahi pun menjawab lagi, “Dulu cita-cita saya ingin jadi pilot, tapi semenjak masuk sekolah dan ketemu Ibu, cita-cita saya berubah ingin membahagiakan Ibu..”, ucapnya.

Murid lain pun mulai berteriak dan gaduh, tapi ternyata itu belum berakhir. “Nahi..!! Kamu kalau masih suka godain Ibu, Ibu akan panggil kepala sekolah!”, ucap bu guru serius.

“Dih jangan dong Bu, panggil Mas aja biar lebih mesra..”, jawab Nahi sambil tertawa. Akhirnya, bu guru pun tidak melanjutkan perdebatan dengan si Nahi, kelas pun akhirnya dibubarkan.

Hari itu merupakan hari pamungkas karena minggu depan kami sudah mulai memasuki ujian semester. Para ibu guru tak lupa berpesan agar kami selalu rajin belajar agar bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Begitulah, sekolah baru di kampung itu benar-benar memberikan pengalaman berharga dalam hidupku. Setidaknya, di sekolah itu situasi dan suasana belajar tidak begitu tegang dengan adanya murid-murid seperti Amar, Makruf, Nahi dan Mungkar.

--- Tamat ---

Back To Top