Cerpen tentang Kegiatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus

Cerpen tentang Kegiatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus – Cerita yang akan kita nikmati kali ini sedikit berbeda. Kita tahu bahwa setiap tanggal 17 Agustus setiap tahun akan dirayakan pesta memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada hari itu akan ada banyak kegiatan yang bernuansa suka cita dan juga yang bersifat mengenang jasa pahlawan.

Foto: Lomba Panjat Pinang/Aktual.com/Tino Oktaviano

Di acara tujuh belasan tersebut banyak kegiatan baik di instansi pemerintah maupun swasta. Sebut saja contohnya di desa atau di kampung, kalau ulang tahun 17-an biasanya banyak kegiatan, ada lomba, dan juga ada hiburan serta pawai. Semua meriah dan sangat menghibur. 

Tidak ada salahnya jika kita juga memasukkan momen tersebut menjadi sebuah tema dalam karya cerita pendek. Ya, hitung-hitung untuk melengkapi bahan bacaan, syukur-syukur ceritanya bisa menarik dan bisa juga menghibur pembaca semua. Lumayan, sambil mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan kita bisa membaca cerpen menarik.

Awalnya sih sebenarnya kami ingin membuat sebuah kumpulan cerpen kemerdekaan, tetapi karena belum cukup waktunya maka dibagikan saja dulu satu karya yang sudah siap. Tapi bagus loh, benar kok tidak bohong, tapi menurut pendapat penulis sih, kalau menurut anda ya belum tentu karena anda belum membaca karya tersebut. 

Pokoknya, beberapa hari kedepan kalau karya lain sudah siap maka akan segera dibagikan agar bisa menjadi tambahan bahan bacaan kita semua. Esok kita juga akan melengkapi cerita yang ada dengan kumpulan cerpen bertema kemerdekaan yang bisa dibaca yaitu seperti pada daftar di bawah ini!

1) Cerpen kemerdekaan 17 agustus
2) Cerpen tentang lomba 17 agustus
3) Cerpen singkat hari kemerdekaan 
4) Cerpen tentang hari kemerdekaan
5) Cerpen kemerdekaan cinta tanah air

Nah, dari pada melebar kemana-mana dan menghabiskan banyak waktu hanya untuk obrolan yang kurang pas lebih baik dibaca saja langsung cerpen tersebut. Eh, tapi jangan lupa siapkan makanan kecil dan minuman ringan, biar tambah mantap, iya tidak? Ya sudah, baca ya kisahnya!

Menang Lomba Panjat Pinang
Cerita Pendek 17 Agustus

Pokoknya tahun ini aku harus dapat juara, paling tidak aku harus bisa naik sampai atas, aku malu setiap perayaan hari ulang tahun kemerdekaan selalu saja diejek. Itulah tekad seorang remaja yang sedang mencari pengakuan. 

Sarman memantapkan hati dan rencana untuk menghadapi lomba panjat pinang yang setiap tahun diadakan di kampungnya. Tekad-nya sudah bulat, masih teringat jelas ejekan yang ia terima tahun lalu, “kulit item, badan gede kaya kebo, rambut kriting, moso gak menang sih!”, ucap salah satu teman kala itu dengan logat jawa yang kental. 

Ia tidak mau kejadian itu terulang lagi, sakit hati rasanya, hati Sarman bagai di iris-iris. Bagaimana tidak, orang yang mengejek-nya waktu itu adalah orang yang ia suka. Seorang gadis remaja berambut panjang dengan senyum bak bulan sabit, indah, Sarman tak pernah bisa melupakan senyum kecil itu. 
Kali ini ia tidak mau menelan kegagalan, ia pun mulai menghubungi beberapa teman untuk mempersiapkan diri.

“Rip, agustusan ini bagaimana rencana-nya, mau ikut lomba apa?”, ucap suatu sore di rumah Ripin. 
“Panjat pinang dong, aku kan paling senang lomba ini…”, jawab Ripin tegas
“Halah… panjat pinang lagi, nanti kalah lagi kayak dulu, mau di taruh mana muka ini Rip…”, balas Sarman pura-pura tak berminat.


“Eh, enak aja, cuma keledai yang tiga kali jatuh di lubang yang sama….!”, jawab Ripin
“Maksud kamu apa…?”, tanya Sarman bingung
“Ya kali ini kita pakai otak geh, jangan sampai kalah lagi. Kita atur siasat”, ucap Ripin meyakinkan sahabatnya. 

“Ya siasat apa, kan kita sudah dua kali kalah…?”, jawab Sarman ragu.
“Sudah, itu urusanku, kamu kumpulkan saja teman-teman terbaik kita, nanti kita bahas lebih jauh… sekarang aku mau mandi…!”, jawab Ripin sambil meninggalkan Sarman sendiri.

Sarman menuruti perintah sahabat sejatinya itu. Keesokan harinya ia mengumpulkan teman-teman lain yang mau ikut lomba panjat pinang dengan mereka. Setelah kelompoknya cukup ia pun mengajak mereka ke rumah Ripin.

Ketika mereka sampai, Ripin sedang asyik bermain dengan gitar kesayangannya. Ia tidak menyadari bahwa teman-temannya datang. 

“Woi…. Ada setan lewat…!”, bentak Paino
“Astaghfirulloh…!”, teriak Ripin kaget
“Dasar kamu ya, sudah sore begini masih aja asyik meluk-in gitar, mandi dulu woi…!” ucap Dodi
“Iya tuh, bau-nya sampai ke hidungku tau!”, tambah Sarman
“Eh… kalian kesini cuma mau mengejak aku apa, kayak tidak ada kerjaan aja! Lagian aku kan sudah mandi, ini nongkrong sambil nunggu bidadari lewat!”

“Hu…!”, teriak Dodi, Dimas dan Raka.
“Eh…tumben, kalian ke sini rame-an mau apa, pasti mau ngopi gratis ya!”, ucap Ripin sambil tertawa kecil seperti kuda.

“Enak aja, kita ke sini mau bahas masalah lomba besok Pin, bagaimana ini?”, ucap Sarman
“Iya, kata Sarman kamu punya jurus jitu menang lomba?”, ucap Dimas 
“Oh… iya, jadi begini, supaya tidak kalah lagi besok kalau lomba kita atur, urutannya tidak se-enak hati sendiri. Paling bawah siapa, nomor dua siapa dan seterusnya!”, ucap Ripin menjelaskan.

“Ah… tapi aku yang di atas sajalah…” ucap Paino 
“Enggak gitu no, urutan ditentukan dari tinggi dan besar badan serta berat badan. Jadi besok tugas kalian mengukur tinggi badan dan mengukur berat badan kalian, baru setelah itu kita tentukan urutannya. Oh iya Man, siapkan juga dua cadangan untuk yang paling bawah yang badannya paling gede dan kuat!”, ucap Ripin menjelaskan.
“Oh.. gitu ya, oke deh kalau begitu!”, ucap Sarman.

Karena memang sangat senang dengan lomba itu maka meraka pun tidak perlu dikomando lagi. Keesokan harinya mereka langsung mengukur dan menimbang berat badan masing-masing dan mencatatnya. 

Selain mengukur badan, Sarman juga sibuk mencari cadangan pemain untuk posisi paling bawah. Awalnya ia kesulitan karena beberapa rekan sudah lebih dulu bergabung dengan kelompok lain. 

Akhirnya setelah mengelilingi kampung menemui satu persatu temannya, Sarman mendapatkan orang. Sore harinya mereka kembali berkumpul di rumah Ripin. Sore itu mereka menentukan posisi urutan saat lomba. Kemudian Ripin juga mengingatkan teman-temannya untuk latihan di rumah sebagai persiapan.

Satu minggu berlalu, mereka giat berlatih sampai akhirnya waktu yang ditunggu pun datang. Ripin dan kelompoknya maju mengikuti lomba panjat pinang di acara perayaan 17 Agustus di desanya.

Hasilnya, sungguh diluar dugaan, sekali tampil Ripin dan teman-temannya sudah bisa menyudari lomba dengan menghabiskan seluruh hadiah yang dipasang di atas. Sorak sorai pun bergemuruh. Dengan suka cita mereka pun membagi beberapa hadiah kecil yang didapat. 

Sarman kebagian sebuah jam tangan mungil yang cocok untuk cewek.  Ingat kejadian tahun lalu, melihat cewek yang ia suka ia langsung berlari memberikan jam itu untuk gadis tersebut. “Nih, kado 17-an untuk kamu…”, ucap Sarman sambil menutupi tubuhnya yang berlumur oli.

“Cie…cie…” dari kejauhan teman-teman Sarman bersorak mengejek. Sarman hanya tersenyum, tampak jelas di wajahnya bahwa ia puas dengan jerih payah yang dilakukan sehingga bisa menang lomba.

--- oOo ---

Kegiatan perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus memang memiliki banyak ragam acara. Kadang, anda bisa melihat pertunjukan kesenian tradisional seperti kuda kepang atau orgen, anda juga bisa mengikuti lomba-lomba yang diadakan di desa yang bermacam-macam

Yang juga tak kalah menarik, dalam acara 17-an biasanya juga akan ada acara pamai atau karnaval budaya yang menampilkan banyak penampilan menarik. Itulah sedikit gambaran acara yang banyak di laksanakan dalam acara Peringatan HUT RI ke-71. Semoga cerpen di atas bisa menjadi hiburan bagi kita semua. 

Tag : Cerpen, Perayaan
Back To Top