Contoh Cerpen tentang Anak Jalanan, Demi Sesuap Nasi

Cerpen tentang Anak Jalanan akan memberikan nuansa kesedihan. Seperti kita ketahui, anak jalanan hidup tak menentu tanpa ada yang menanggung beban yang mereka miliki. Tanpa orang tua, tanpa keluarga yang membantu, mereka harus bertahan di kejam nya kehidupan yang ada.


Siapa yang tak perih melihat kehidupan keras anak jalanan? Anda penasaran? “Demi Sesuap Nasi” adalah salah satu karya terlaris yang akan membuka mata kita semua tentang bagaimana sulitnya kehidupan seorang anak gelandangan.

Anda bisa bayangkan bagaimana sulitnya, belum dewasa dan belum bisa mencari kerja, tidak memiliki siapapun dan tidak memiliki apapun, sangat menyedihkan. Sebelum lebih jauh, baca juga beberapa cerita cerpen anak lain yang sudah disiapkan di bawah ini.

4) Cerpen anak bergambar

Begitulah, cerpen tema anak jalanan ini akan membuat anda merinding membayangkan bagaimana kehidupan seorang anak diluar rumah. Karya ini dibuat dengan begitu sederhana, menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti. Namun begitu, karya ini akan membuat anda larut dan merenung.

Kejamnya hidup akan dirasakan oleh siapapun di luar sana. Bahkan hanya untuk sekedar bertahan hidup mereka harus mengabaikan rasa letih, malu atau bahkan harga diri. Demi untuk sesuap nasi dan menyambung hidup, apa saja bisa dilakukan. Lalu bagaimanakah sebenarnya kisah dalam cerpen singkat berikut, simak langsung di bawah ini.

Demi Sesuap Nasi
Cerpen Anak Jalanan

Alif berusaha tetap melangkah menyusuri sore yang hampir gelap, ia hendak berpindah dari lampu merah dekat kampus ke areal terminal. Wajah yang kusam penuh debu, keringat yang membasahi badan sama sekali tak ia hiraukan. Ia terus melangkah seolah ada presiden yang sedang menunggunya disana, tak mau terlambat.

Pandangannya jauh ke depan, suara bising kendaraan seperti tak terdengar di telinganya. Sesekali ia melihat kerumunan yang ada di tepi jalan, berharap ada sesuatu yang bisa dia gunakan. Tangan kanan-nya erat memegang gitar kecil yang lebih besar dari badannya, satu-satunya barang berharga dimana hidupnya bertumpu.

“Aku yang dulu bukanlah yang sekarang…” sayup terdengar suaranya mencoba mengalahkan deru mesin. Ia berhenti sejenak di depan sebuah warung kelontongan, berharap ia mendapatkan rejeki.

Sesaat kemudian, penjaga warung keluar dengan menggenggam tangan, diajungkan genggaman itu ke arah topi yang Alif tengadahkan ke arahnya. “Terima kasih om…”, ucap Alif pelan sembari beranjak pergi. Satu lagi koin lima ratus rupiah ia dapatkan. Dalam hati sebenarnya ia mengumpat dan mencaci mereka yang memberinya recehan itu, “dasar pelit, anjing!”, tapi Alif tak berdaya.

Ia harus berjuang terus sampai mendapatkan cukup receh untuk membeli nasi. Maklum, satu hari penuh ini perutnya masih kosong, tak satu butir nasi pun masuk ke dalamnya. Dari pagi ia hanya mendapatkan beberapa ribu, tak cukup untuk membeli nasi sayur sekalipun.

Ia terus saja melangkah melanjutkan perjalanannya. Matanya liar mencari kerumunan yang ramai, ketika melihat warung atau toko yang ramai ia pun berhenti, mengamen, meminta belas kasih orang lain untuk sekedar menyambung hidup.

Lepas isha, ia sampai diterminal yang mulai lebih ramai. Ia langsung menyerbu para penumpang yang baru turun dari bus. Kali ini ia bukan untuk mengamen, ia mencari peruntungan dengan menawarkan bantuan untuk orang yang membutuhkan. “Butuh taksi bu, saya carikan ya bu…”, ucapnya menarkan jasa kepada para penumpang.

Satu dua bus berlalu, tak ada satu pun yang membutuhkan jasanya. Sampai akhirnya ia duduk lemas tak kuat lagi menahan perih perutnya yang kosong. “Ah, aku lapar benar, dari pagi gak ada apa-apa…”, ia pun berlari ke warung kecil di sisi jalan.

Ia mengeluarkan beberapa recehan dari kantong dan mendapatkan dua bungkus roti isi. “Lumayan, buat ganjal perut, mudah-mudahan nanti ada rejeki lebih…”, sambil berjalan ia tampak tak sabar ingin menikmati roti tersebut.

Dua buah roti yang harganya sangat mahal, didapat dengan cucuran keringat, perlahan Alif pun mulai membuka dan menikmati setia potong roti itu. Ia duduk bersandar di bawah pohon, di arah pintu keluar terminal. Ia menghabiskan potongan demi potongan roti dengan terus berharap ada malaikat datang, atau paling tidak orang yang masih punya hati dan bisa memberinya sesuatu untuk perutnya yang buncit penuh air.

Gitar diletakkan di dada kirinya, tangan kirinya memegang plastik roti dengan erat, tangan kanannya mencuil sedikit demi sedikit roti itu dan memasukkan nya ke mulut. Rahang nya perlahan mengunyah, pelan, tak ingin roti itu segera masuk ke perut dan hilang begitu saja.

Alif begitu menikmati sepotong roti itu sehingga ia tidak sadar ada seorang kakek yang sejak tadi berdiri di sampingnya. “Nak… eh nak…”, sapa kakek itu.
Alif terperanjat, kaget…. “eh…ah…ada apa kek”, ucapnya sambil langsung berdiri.
“Kakek boleh minta tolong, kakek kemalaman ingin cari taksi, bisa tolong carikan taksi untuk kakek?”
“Oh…iya, bisa-bisa kek…”, ucapnya Alif sambil langsung berlari gesit. Baru beberapa langkah ia pun mendengar teriakan sang kakek, “eh Nak…tunggu….”.

Alif pun berhenti dan berlari kembali ke arah kakek tadi. “Antar kakek ke tempat yang enak dan aman dulu ya, nanti setelah itu kamu carikan kakek taksi”, ucapnya. “Oh iya kek, mari”, dengan gesit Alif pun langsung mengangkat barang bawaan kakek tersebut, tas koper dan beberapa kardus dibawanya. Ia lalu mengantarkan kakek itu ke dekat sebuah warung nasi di samping pos polisi, “kakek disini saja dulu ya, biasanya sih akan lewat taksi tapi agar tidak lama nanti aku carikan…”, ucapnya.

“Eh tunggu nak… perut kakek lapar, bagaimana kalau kamu temani kakek makan dulu, kalau sudah ada taksi kan tidak bisa makan kalau belum sampai…”
“Tapi kek….”
“Sudah, kamu belum makan juga kan, tidak usah sungkan, kakek juga tidak buru-buru kok…”

Akhirnya Alif terpaksa menerima ajakan sang kakek, dalam benak Alif ia heran kepada kakek itu yang mau mengajaknya makan padahal ia tidak mengenal Alif sama sekali.

“Kek…maaf ya kalau tidak sopan, kenapa sih kakek mau mengajak aku makan, padahal aku kan bukan siapa-siapa kakek…?”
“Kenapa ya… ya karena kamu baik, kamu sudah mau membantu kakek dan yang terpenting kamu mau menemani kakek. Jadi kakek kan tidak seperti orang hilang, sendirian tidak ada teman…”
“Kakek ini bisa saja….”

Alif  menyantap makanan yang dipesan dengan sangat lahap. Maklum, perutnya dari pagi memang belum terisi nasi. Sambil menyantap makanan, sang kakek mulai bercerita kesana kemari. Ia menceritakan bahwa ia dulu memiliki seorang cucu yang mirip dan seusia dengan Alif.

Tapi malang, cucu sang kakek meninggal karena sakit keras. Alif pun mendengarkan cerita sang kakek dengan sangat iba. Dalam hati ia merasa kasihan melihat kakek tua yang bepergian sendirian seperti itu.

Waktu berlalu, setelah selesai akhirnya Alif mencarikan taksi untuk kakek itu. Setelah taksi datang sang kakek meminta untuk menunggu Alif. Alif pun sampai lagi ke warung tersebut dan mendapati sang kakek yang belum juga naik taksi.

“Loh, kakek kok belum naik taksi, itu taksinya sudah menunggu…”
“Iya nak, kakek menunggu kamu, nama kamu siapa?”
“Namaku Alif kek…”
“Oh.. Alif, ya sudah, Alif terima kasih banyak ya atas bantuannya. Ini kakek ada sesuatu sebagai ucapan terima kasih”.

Kakek itu pun mengeluarkan selembar uang ratusan, “Tidak kek, tidak usah…” jawab Alif. “Tidak apa-apa… ini untuk kamu, minggu depan kakek akan ke sini lagi, kalau ada waktu kakek minta Alif bisa menjemput kakek di terminal ini. “Baik kek…” Alif pun akhirnya mengambil uang pemberian sang kakek.

Satu minggu kemudian, benar sang kakek turun dari sebuah bus ac. Alif yang sudah menunggu lebih satu jam bun berjingkrak kegirangan melihat orang yang ia tunggu sudah datang.

Diluar dugaan, ternyata sang kakek mengajak Alif ke rumahnya. Ia bersama istrinya meminta Alif untuk tinggal bersama mereka. Akhirnya, Alif pasrah dan menerima kebaikan sang kakek.

--- oOo ---

Ternyata, cerpen anak kali ini mengambil tema kehidupan sosial seorang anak jalanan. Dalam cerpen di atas ada pesan yang tersirat yang ingin disampaikan penulis. Pesan moral dari cerpen di atas adalah bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang lebih. Tentu bisa kita lihat hal itu dalam keseluruhan cerpen di atas.

Nasehat dari cerita di atas salah satunya yaitu dalam keadaan apapun hendaknya kita bisa berpegang teguh pada kebaikan dan kebenaran. Alloh tidak tidur, tidak tuli dan maha menyayangi hamba-Nya yang baik. Bisa dilihat, seorang anak jalanan yang hanya bisa mengamen dan mengemis akhirnya mendapatkan rejeki yang tak pernah diduga.

Kebaikan dan ketulusan anak itulah yang membuat dia akhirnya diangkat anak oleh seorang kakek. Seandainya saja semua generasi muda memiliki sifat seperti itu, jujur, sabar dan ikhlas dalam membantu orang lain yang membutuhkan. Andai saja semua orang kaya dermawan, maka kehidupan ini tidak akan timpang. Semoga ada hikmah dibalik cerita di atas, salam.

Back To Top