Contoh Cerpen Singkat Remaja, Pandangan Pertama

Bisa dikatakan lucu, bisa juga dikatakan menyedihkan, cerpen singkat remaja ini menggambarkan kisah seorang pemuda yang suka dengan seorang gadis yang bahkan tidak dikenalnya. Bisa dikatakan pemuda tersebut jatuh cinta pada pandangan pertama, romantis memang tetapi keseluruhan ceritanya berbeda.

Cerpen berjudul “pandangan pertama” berikut ini tidak seperti kisah cinta kebanyakan dimana seorang pemuda bertemu dengan gadis cantik, jatuh cinta kemudian menjadi sepasang kekasih. Cerita yang diangkat dalam cerpen ini benar-benar beda, alurnya cukup singkat dan tidak melebar kemana-mana.

Karya ini diharapkan menjadi salah satu karya dengan cerita unik dan menarik didalamnya. Dengan dibagikannya karya cerita pendek ini diharapkan anda semua bisa berkenan dan suka. Selain itu, cerpen ini juga bisa menambah koleksi cerpen yang sudah ada sehingga ceritanya lebih bervariasi lagi.

Ada yang lucu, ada yang menegangkan tetapi ada juga yang membuat sedih, pokoknya cerita cerpen kali ini tidak boleh dilewatkan bagi anda yang gemar membaca cerita bagus. Dari pada lama-lama lebih baik baca saja kisah selengkapnya di bawah ini.

Pandangan Pertama
Cerpen Oleh Irma

Pandangan pertama awal aku berjumpa, seperti lirik sebuah lagu yang menceritakan kisah pertemuan dua insan yang membekas di hati. Pertama kali aku melihatnya langsung jatuh cinta.

Entahlah, aku sendiri tidak tahu siapa dia, bahkan setelah sekian lama aku memendam rasa padanya, aku pun sama sekali tak tahu siapa namanya. Kami pernah saling sapa sebenarnya, “hai”, ucapnya kala itu dan aku hanya bisa menjawab dengan kata yang sama.

Sungguh benar-benar penyesalan terbesar, kenapa waktu itu aku tidak langsung mendekatinya, mengajaknya berkenalan atau apapun yang bisa membuatku lebih mengenal dirinya. Tapi sudah terlambat, kini bayang wajahnya menjadi misteri dalam anganku.

Udara sore begitu dingin kala itu, maklum dari pagi seluruh kota sudah diguyur hujan deras. Aku melangkah menuju ke sebuah halte bis yang tampak penuh sesak. Tanpa basa-basi aku langsung menyelinap di kerumunan itu, berdiri, berjajar seperti yang lain.

“Begini ya rasanya naik kendaraan umum, harus sabar”, gumamku sambil sesekali melirik ke kanan dan kiri.

Di sebelah kanan ada nenek tua yang masih terlihat sangat bugar. Berdiri tegak ia menenteng tas plastik berwarna hitam. Seperti orang lain, sang nenek pun sedang menunggu bis, “sudah setua ini naik kendaraan umum” pikirku sedikit heran.

Ketika menyadari aku memperhatikannya, sang nenek tua pun segera melempar senyum ramah. Tentu saja, tak ingin jatuh dengan lemparan itu aku pun membalas senyum santun sang nenek.

Segera setelah itu aku pun menoleh ke arah kiri, seorang gadis berambut lurus panjang, berdiri tegak menenteng tas kecil ala wanita modern, tepat berdiri di sisi kiriku. “Ternyata, ada yang bening juga di halte bis” pikirku sambil tersenyum.

Gadis itu tak menyadari kalau aku mengamatinya, sampai ketika terdengar suara deru mesin bis yang memekakkan terlinga. Ia pun menoleh ke arah kanan menyambut datangnya bis yang telah lama ditunggu.

Sesaat kemudian raut mukanya berubah kecut, sepertinya bis yang datang bukanlah yang ia harapkan. Lalu, beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa aku memperhatikannya, “enggak naik?”, ucapnya terlihat bingung.

Ya jelas, aku pun kaget dan baru sadar kalau bis yang baru saja berhenti di halte itu telah berlalu, “ah sial… aduh….” ucapku spontan kala itu. Melihat aku yang tampak kecewa bis-nya terlewat begitu saja ia lalu tersenyum simpul.

Saat itu mungkin ia berpikir, “makanya mas, jangan ijo kalau lihat cewek cantik seperti aku”. Ya, bisa ditebak demikian sih soalnya beberapa menit berlalu ia masih tampak senyum sendiri seperti mengejek aku yang kehilangan kesempatan naik bis yang sudah ditunggu.

“Sial nih cewek, gara-gara dia aku jadi kehilangan bis”, gumamku sedikit kesal, “tapi tak apalah untuk gadis secantik dia”, lanjutku.

Seketika itu, naluriku mulai berjalan, “aku tak akan biarkan kesempatan ini berlalu begitu saja”, pikirku yang berniat mengajak cewek itu berkenalan. Tapi dasar aku, ketika punya niat ingin berkenalan dengannya tiba-tiba jantungku berdetak kencang, “jelas ini grogi”, gumamku dalam hati.

Aku mencoba mencari cara, mencari solusi agar aku bisa mengajak kenalan dia meski dalam situasi publik yang begitu ramai itu. “Bagaimana jika aku menanyakan arah perjalanannya, mau pulang ya, misalnya”, pikirku lebih lanjut.

“Ah, tapi itu umum dan terlalu dibuat-buat, sudah jelas dia pasti ingin pulang”, aku pun mengurungkan niatku untuk menyapanya. Beberapa menit berikutnya aku lewati hanya dengan diam, tak bersuara.

Sampai akhirnya aku mendapatkan ide untuk basa-basi membuka percakapan ringan, “hai, lama juga ya bis-nya”, ucapku sambil melihat padanya. Gadis itu hanya tersenyum, sekali lagi ia memberikan senyum tipis yang membuat hati ini luluh lantak, “tapi paling tidak ia menanggapi”, pikirku gembira.

Jurus berikutnya segera akan aku lakukan ketika tiba-tiba ia berteriak, “asyik akhirnya datang juga”, ucapnya sembari berjingkrak sambil melihat ke arah kanan.

Akhirnya bus pun berlalu membawa gadis itu pergi
sebelum aku berkenalan dengannya
“Ah”, aku langsung lemas ketika melihat sebuah bis kota datang menghampiri halte tersebut. Dan, sesaat kemudian, ia pun berlalu menjadi bayang.

--- Tamat ---

Tentu saja contoh cerpen singkat tentang remaja di atas bukan satu-satunya karya yang bisa anda baca. Selain cerpen tersebut masih banyak lagi lainnya, beberapa sudah disiapkan dibagian akhir tulisan ini. Maka, bagi anda yang ingin membaca kisah lain bisa memilih dari beberapa judul yang ada di bagian bawah.

Ingat, di situs ini anda akan mendapatkan banyak cerita baru. Setiap hari akan dibagikan paling tidak satu karya cerpen menarik yang bisa anda nikmati. Jangan pernah ketinggalan update-nya ya. Pastikan anda mencatat alamat situs ini dan selalu berkunjung ke sini. Itu saja, silahkan dilanjut ke kisah berikutnya.

Tag : Cerpen, Cinta
Back To Top