Contoh Cerpen Perjalanan Hidup, Akhir Derita Ini

Akhirnya, setelah lama ditunggu kita bisa bertemu dalam sebuah contoh cerpen yang berisi tentang perjalanan hidup seseorang. Cerpen berjudul “akhir derita ini” menceritakan kisah hidup seorang anak dari kalangan tidak mampu yang bernama Riko. Seru, menarik dan juga penuh inspirasi, kisah ini bisa menjadi hiburan sekaligus pembelajaran.


Pada cerpen kali ini dikisahkan ada seorang bapak yang memiliki satu anak laki-laki. Karena ia sangat miskin maka ia tidak bisa memiliki biaya untuk sekolah anaknya tersebut. Ditambah lagi, sang istri sudah meninggal, bapak tersebut terpaksa membesarkan anaknya sendirian.

Dari kecil, anak yang bernama Riko tersebut harus menjalani hidup yang begitu sulit. bagaimana tidak, mereka miskin sudah begitu hanya tinggal berdua, ayah dan anak laki-laki. Segala urusan dapur carut-marut, kadang dikerjakan sang ayah dan seringkali dikerjakan oleh Riko.

Perjalanan hidup yang panjang akhirnya membawa Riko pada kehidupan yang lebih baik. Dari hal yang sangat sederhana, yang dikerjakan dari kecil dengan penuh tanggung jawab, akhirnya Riko bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Seperti apa kisah hidup Riko selengkapnya, simak dalam contoh cerpen berikut!

Akhir Derita Ini
Cerpen Perjalanan Hidup Oleh Irma

“Maafkan Bapak ya Nak, Bapak belum bisa menyekolahkan kamu”, ucapan itu masih Riko ingat sampai saat ini meski sudah puluhan tahun. Riko sekarang sudah tumbuh besar dan menjadi pemuda yang bisa dikatakan sukses. Namun, perjalanan hidup Riko sebelumnya tidaklah mudah.

Di tinggal mati sang ibu ketika masih berusia sepuluh tahun membuat hidupnya berjalan begitu sulit. Bapaknya yang hanya seorang petani terpaksa harus banting tulang berperan sebagai ibu sekaligus bapak baginya.

Di usia yang masih sangat muda itu ia pun harus belajar memenuhi kebutuhannya sendiri. Masa kecilnya ia habiskan untuk membantu sang ayah, mencari kayu bakar, mencari rongsok untuk dijual dan banyak lagi.

Untuk makan sehari-hari kebanyakan hanya memakai sambal, ikan asin dan sayur singkong. Meski hidup tanpa ibu tetapi kemandirian sudah terlihat dari Riko masih kecil. Ia punya sifat yang keras, tak mau mengeluh dan pandai mencari jalan keluar.

“Bosan pak, makan itu-itu terus, hari ini aku enggak bantu bapak ya?”, ujarnya suatu pagi.
“Loh, memang kamu mau di rumah saja?”, jawab bapaknya heran.
“Enggak, bapak kerja saja, hari ini aku yang masak, nanti aku mau cari keong atau belalang, untuk lauk pak”, ucap Riko.

Sang ayah tersenyum kecil melihat inisiatif anaknya tersebut. Meski dalam hatinya ia merasa kasihan tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. “Ya sudah, tapi ingat, hati-hati ya, jangan main di kali!”, pesan sang ayah. “Iya Pak”, jawab Riko singkat.

Kadang mencari belalang untuk digoreng, kadang mencari keong untuk dimasak. Kalau dia sedang mencari kayu ia juga tak lupa mencari umbi-umbian untuk dimasak. Masa kecil Riko habiskan untuk bermain dengan kerasnya hidup. Sampai suatu hari, ketika ia sudah mulai besar sang ayah pun mulai memikirkan nasib-nya.

“Riko, kamu kan tidak sekolah, nanti besar kamu mau jadi apa Nak?”, tanya sang ayah.
“Mau jadi sukses Pak, aku tidak mau hidup susah seperti bapak”, ucapnya sambil tersenyum.

Sang ayah berpikir keras untuk menyiapkan jalan bagi anak laki-lakinya itu. Melihat anaknya yang suka sekali pergi di ladang, sawah dan sebagainya maka ia pun punya ide untuk memberi anaknya pekerjaan.

“Nak, kamu mau tidak memelihara ayam”, ucap ayahnya suatu sore.
“Mau, tapi yang jago ya pak, nanti bisa dapat duit banyak!”, ucap Riko polos
“Hust, itu tidak boleh”, jawab ayahnya, “besok ayah belikan ayam dua, kamu pelihara dengan baik ya”, lanjut sang ayah.

Sepasang ayam kampung menjadi pertanda awal kesuksesan Riko. Akhirnya, perjalanan hidupnya mulai berubah, sang ayah mulai memiliki secercah harapan untuk masa depan Riko. Bagaimana tidak, Riko bisa memelihara ayam itu dengan baik. Akhirnya sang ayah mencoba mengajari Riko untuk mencari uang.
“Nak, ayam kamu kan sudah banyak, bagaimana jika sebagian kita jual?”, tanya sang ayah
“Tapi Pak, kan sayang…”, ucap Riko ragu.
“Nak, ayam itu kita jual dan uangnya bisa kita belikan yang lain. Kalau boleh besok ayah ingin mengajari kamu pelihara bebek, bagaimana?”, tanya sang ayah.

Akhirnya, sebagian ayam Riko dijual untuk membeli bebek. Tapi ternyata, bebek bukanlah ternak yang Riko sukai, ia tidak bisa memeliharanya dengan baik. Akhirnya beberapa ekor bebek yang Riko miliki pun dijual.

“Pak, aku enggak bisa, bebeknya banyak yang mati”, ucap Riko. “Ya sudah, dijual saja, buat beli beras ya?”, ucap ayahnya. “Iya, aku pelihara ayam aja yang enak”, ucap Riko kepada sang ayah.

Riko terlihat begitu tekun memelihara ayam yang dimiliki. Sang ayah pun tidak pernah lagi meminta Riko untuk menjual ayamnya hingga akhirnya ada pedagang ayam yang datang ke rumah mereka.

“Permisi pak, katanya bapak punya ayam banyak ya, saya mau beli ayam”, ucap seorang tamu
“Oh, ibu siapa, ayam itu milik anak saya, saya tidak berani menjualnya”, ucap ayah Riko.

Mengetahui ada tamu Riko pun segera ikut ke depan, ia penasaran ada tamu wanita datang ke rumahnya.
“Riko, nih ibu ini pedagang ayam, dia mau beli ayam kamu, boleh tidak?”, tanya sang ayah
“Iya Nak, ibu pedagang ayam di pasar, kalau kamu mau jual ayam, ibu akan membelinya.” Ucap wanita itu.
“Memang berapa harganya Bu untuk satu ekor ayam?” tanya Riko ingin tahu.
“Kalau yang perempuan seperti ini Rp. 50.000 Nak, kalau jago yang besar seperti ini sampai Rp. 150.000,-“ ucapnya

“Woih, malah juga ya…”, pikir Riko ketika itu. Akhirnya mendengar harga ayam yang lumayan itu Riko pun memutuskan untuk menjual beberapa ayam. Sepuluh ekor ayam jagi yang besar ia jual, ia mendapatkan uang banyak.

“Pak, banyak juga ya uangnya”, ucap Riko ketika penjual ayam itu telah pergi.
“Iya Nak, terus mau kamu apakan uang itu”, tanya sang ayah.

Sebagian uang itu akhirnya dibelikan kebutuhan hidup sehari-hari, sebagian lagi Riko belikan ayam perempuan lagi.

Berawal dari kejadian itu, Riko akhirnya sadar akan bakat yang ia miliki. Perlahan, perjalanan hidup yang tadinya sangat sulit kini menjadi lebih mudah. Di usianya yang menginjak dewasa, dengan sang ayah yang sudah mulai tua dan tidak bisa bekerja keras terus akhirnya Riko terus mengurusi ternak yang ia miliki.

Pelan-pelan mereka mulai bisa menggantungkan hidupnya pada ternak ayam milik Riko. Riko pun semakin rajin dan bersemangat. “Nak, perjalanan hidup kamu nanti akan berubah, kamu tidak akan susah seperti bapak”, ucap ayah Riko suatu hari.

Beberapa bulan kemudian ayah Riko sakit keras dan meninggal dunia. Riko pun kini hidup sebagai yatim piatu. Berbekal ayam yang tersisa ia mulai menata hidupnya. Waktu berlalu dan masa depan Riko sudah semakin jelas.

--- Tamat ---

Back To Top