Contoh Cerpen Tema Ibu, Saat Ku Jauh

Karya berjudul “saat ku jauh” ini menggambarkan kisah cerita tentang ibu yang akhirnya melepas kepergian anaknya untuk menimba pengalaman. Seorang anak muda, remaja yang masih baru selesai sekolah menengah, akhirnya memaksakan diri untuk berjuang dan menjalani hidup yang sebenarnya.

Pada akhir kisah, dalam cerpen tema ibu kali ini anda bisa mengambil hikmah dan pembelajaran bahwa dalam semua hal patutlah seseorang menimbang dan berhati-hati. Pengalaman berharga bagi seorang pemuda, remaja yang baru belajar menjalani hidup. Pelajaran bagi orang tua yang hendaknya selalu bisa memberikan peringatan dan nasehat kepada anak-anaknya.

Kisah dalam cerpen kali ini bernuansa sedih dan bernuansa perjuangan. Alur ceritanya cukup sederhana, mudah dipahami tetapi cukup menarik untuk dibaca. Cerpen ini memberikan nuansa sederhana, lugas dan tidak berbelit-belit namun tetap mengedepankan unsur estetis.

Urutan peristiwa yang digambarkan dengan diksi yang sederhana, memberikan kesan yang justru apik dan unik. Terlebih lagi di dalamnya ada pesan dan nasehat yang bisa dipelajari oleh pembaca. Itulah sebabnya karya cerpen ini juga disuguhkan bagi anda semua pengunjung setia situs ini.

Saat Ku Jauh
Cerpen tentang Orang Tua Oleh Irma

Sebut saja namaku Dimas, pemuda asal kampung yang baru saja lulus bangku SMA. Aku mempunyai satu adik yang sedang duduk di bangku sekolah dasar. Aku hidup sederhana di sebuah desa.  Ibuku pedagang dan ayahku adalah seorang petani.

Seperti kebanyakan pemuda seusiaku yang selalu gelisah bila harus berlama-lama tinggal di rumah. Terlebih bila tanpa sekolah atau pun kerja. Dari situ aku mempunyai keinginan untuk pergi dari desaku.

“Bu, aku mau merantau, cari kerja, cari pengalaman, bosan di rumah saja”, ucapku suatu malam. “Memang kamu mau kerja di mana?”, tanya ibuku. “Iya, cari kerja itu susah nak”, tambah ayahku. “Ya dimana saja yang ada pekerjaan. Dari pada hanya di rumah saja”, ucapku tegas.

Orang tuaku pun mengijinkan untuk pergi, yang terpenting adalah jangan pernah meninggalkan sholat dan jangan berlaku jahat.

Di hari itu teparnya hari Minggu, Juli 2013, aku mendapatkan tawaran pekerjaan dari salah dari teman. Kebetulan ada sebuah lowongan di perusahaan tabung gas. Namun untuk masuk dan bisa bekerja tersebut haruslah memakai uang. Aku yang saat itu memang masih polos menanggupinya.

“Bu, ini ada lowongan kerja yang bagus, tarus bayar dulu sama yang menyalurkan?”, ucapku memberitahu ibu. “Lha, kerja apa, terus dimana?”, tanya ibu.
“Kerja di pabrik, ada teman yang ngajak, aku mau ikut ya bu…”, ucapku meminta izin.
“Lha, terus tadi suruh bayar apa?”, tanya ibu lagi.
“Ya itu, untuk penyalur yang mencarikan kerja. Aku mau berangkat bertiga, boleh kan bu, Cuma tujuh ratus ribu kok bayarnya”, ucapku.
“Lah, kamu ini, segitu juga uang Nak, gimana kalau kamu ditipu sama orang itu”, jawab ibuku.
“Ah ibu tidak boleh buruk sangka begitu, pokoknya aku mau ikut, boleh la…?”, ucapku lagi.

Akhirnya ibuku mengizinkan. Ke esokan harinya, uang 700 ribu aku serahkan kepada orang yang menawariku pekerjaan. Namun aku tidak sendiri aku bersama 3 teman dari desa mempunyai misi yang sama denganku. Mereka pun memberikan uang kepada orang tersebut sebagaimana aku.

Tiga hari kemudian aku beserta temanku dan orang yang bisa di katakan penyalur pergi bersama-sama ke kota. Tujuan kami adalah Bogor karena memang daerah tersebut adalah kawasan industri.

”Kita kerjanya apa ini”, tanyaku kepada kepada penyalur tersebut di perjalanan.”Masalah  pekerjaan nanti sudah ada yang mengatur, tergantung kemampuan apa yang kalian miliki”, ujarnya. 

“Kalau kalian mempunyai kemampuan untuk mengelas, mungkin ditempatkan di dalam bagian las, kalau kalian ahli dalam pengecatan maka tentu akan diletakkan di bagian pengecatan. Semua tergantung dari pada kemampuan kalian”, ucap orang itu menjelaskan.

“Kalian tenang saja, gajinya UMR kok, jadi kalian enggak perlu khawatir. Modal 700 anda pasti kembali”, tambahnya lagi.

Jalan demi jalan kami lewati, lautan kami seberangi. Setelah 12 jam, akhirnya kami sampai di kota Bogor.  Sekilas kami melihat tidak ada sedikit berbeda dengan kampung halaman kami. Hanya saja disini banyak sekali pabrik.

Sesampainya aku dan ketiga temanku di Bogor, kami menginap di tempat penyalur tersebut selama 1 malam. Di pagi harinya kami bertiga mendapat kabar buruk dari salah seorang penyalur bahwa kami gagal interview hari ini.

”Ini mas, saya mau berbicara kepada kalian semua, kalian belum bisa kerja di pabrik gas tersebut dikarenakan kekurangan orang dalam pabrik tersebut sudah terisi”, ucapnya memberitahu kami.

Jelas sekali, kami pun mulai gelisah,”Terus bagaimana dong pak, kami kan sudah bayar bapak”, ucap salah satu dari kami.

”Iya saya tahu, tapi kalian jangan khawatir 9 hari lagi pasti kalian di panggil untuk interview di pabrik tersebut”, ucap penyalur itu. Mendengar ucapannya tentu saja kami kaget, bagaimana tidak, sembilan hari adalah waktu yang cukup lama bagi kami.

”Yang benar saja pak 9 hari lagi, terus saya makan dan tinggalnya bagaimana“, tanya temanku. Penyalur pun menjawab,”sebagai batu loncatan saya akan memasukkan kalian kedalam perusahaan sabun. Memang gaji tidak besar, namun setidaknya kalian mempunyai pemasukan sebelum akhirnya panggilan kerja di pabrik gas”, ia menjelaskan.

Seorang penyalur lain juga memberikan sebuah informasi kepada kami, bahwa pabrik sabun tersebut memberikan upah sebesar 40 ribu/hari dan di tambah lembur 40 ribu. Jadi total keseluruhan per-harinya 80 per hari, jika memang lembur selalu ada.

Tanpa berpikir panjang, aku dan ketiga temanku langsung mendatangi pabrik tersebut dengan di dampingi penyalur tersebut. Kami bekerja di tempat tersebut dengan perasaan yang memang sangat kecewa.

Faktanya gaji tidak sebesar yang di katakan oleh penyalur tersebut. Gaji yang sebenarnya di tawarkan oleh pabrik tersebut adalah sekitar 25 ribu untuk traning, 35 untuk karyawan yang sudah lama. Dengan sitem pembagian gaji mingguan.

Setelah bekerja selama 9 hari di tempat tersebut, kami kembali menelpon penyalur tersebut, namun siapa sangka nomornya tidak ada yang aktif. Di hari libur kerja kami pun mendatangi penyalur tersebut ke kontrakanya. Namun kontrakanya juga sudah tidak ada penghunian lagi.

Amarah kami seolah tidak terbendung lagi, karena memang kami telah tertipu. Yang lebih gawat lagi, kabar ini terdengar oleh semua keluarga kami. Tentu saja, ibuku dan ibu-ibu yang lain menangisi kepergianku dari desa. Namun aku dan teman-temanku selalu menenangkan orang tua kita.

Sejak saat itu aku mempunyai sebuah cita-cita, bahwa aku tidak akan pulang sebelum aku membawa uang banyak. Meski pun ibu selalu menangisiku, tapi aku selalu berupaya dan berdoa agar cita-citaku terwujud. 

--- Tamat ---

Back To Top