Cerita Sedih Anak yang Tersisihkan, Bukan Anak Tiri

Contohcerita.com - Hayo, siapa yang ada tugas untuk membuat cerpen yang mudah di hafal, mengaku sajalah? Kalau kebetulan rekan pelajar ada yang mendapatkan tugas tersebut bisa menggunakan cerita sedih tentang anak yang tersisihkan ini sebagai contoh untuk membuat cerpen.

Cerita Sedih Anak yang Tersisihkan
Cerita cerpen sedih tentang anak yang tersisihkan
Karya tersebut merupakan salah satu contoh cerpen paling singkat yang bisa digunakan untuk bahan belajar. Sebenarnya masih ada banyak sih cerpen yang lebih singkat, tapi tidak apa-apa. Nanti anda bisa memilih sendiri mana yang akan digunakan. Lagi pula, cerpen ini hanya terdiri dari 2 lembar kok, tidak panjang.

Cerita semacam ini sebenarnya mungkin bukan satu-satunya. Beberapa karya lain mungkin ada yang ceritanya mirip. Tapi yang ini menurut kami memang sangat sedih dan mengharukan. Yang terpenting adalah bisa memberikan pelajaran dan nasehat berharga untuk direnungkan. Kita lihat dulu beberapa judul terbaru berikut!

1) Jus segar di hari yang dingin
2) Ke bioskop dengan cowok ganteng
3) Tiada hari tanpa buka facebook
4) Belajar bisnis kartu ucapan
5) Lewat situs kencan online

Karya berjudul “bukan anak tiri” berikut ini mungkin kurang begitu layak untuk disebut cerpen. Bahasa dan susunan cerpennya sangat sederhana, bahkan terasa lebih mirip dengan cerita curhat atau karangan tentang pengalaman.

Tapi untuk mengetahui lebih jauh mengenai karya tersebut tentu saja sebaiknya kita baca dulu ceritanya. Setelah membaca cerpen tersebut nanti kita bisa menyimpulkan sendiri layak dan tidaknya cerita sedih berikut disebut cerpen. Ya sudah, kita baca dulu ya!

Bukan Anak Tiri
Contoh Cerpen Paling Singkat

Hari yang cerah tak secerah hidup yang aku jalani selama ini. Sampai pada usiaku yang menginjak 17 tahun aku belum pernah sama sekali mendapatkan kasih sayang tulus dari seorang ibu. Ya, ibu memperlakukanku dengan tidak adil, sampai kadang aku merasa seperti anak pungut.

Sejak kecil, sejak aku mulai bisa mengingat sesuatu, aku mulai mendapatkan perlakuan berbeda dari ibuku sendiri. “Kamu kan sudah besar, cuci baju kamu sendiri”, aku ingat benar kata-kata pedas itu, padahal kak Nina yang usianya terpaut satu tahun di atasku masih dicucikan bajunya.

Saat itu aku belum begitu paham maksud dari perlakuan ibu padaku, sampai suatu hari aku mulai mendengar percakapan-percakapan orang tentang perlakuan ibu padaku.

“Bu Risti benar-benar tega ya sama anak perempuannya sendiri…?”
“Memang kenapa Jeng, kok begitu?”
“Ya itu, apa kamu tidak lihat perlakuan dia sama anak sulungnya si Dian. Dian itu seperti anak tiri saja, beda dengan kakaknya yang selalu dimanja…”
“Iya juga ya…”

Itulah sepenggal percakapan yang pernah aku dengar dari ibu-ibu tetangga yang sedang belanja sayur. Sejak itu aku baru sadar bahwa ibu memang seperti tidak sayang denganku.

Bukan hanya perasaanku, perlakuan ibu memang aneh, sering kali ibu marah tanpa sebab kepadaku. Pernah suatu hari aku dimarah gara-gara tidur siang, “Dian, bangun kamu… jam segini kok tidur terus, beres-beres rumah!”, teriak ibu waktu itu.

Mendapatkan perlakuan berbeda dari ibu aku tetap tidak berburuk sangka, kadang ayah selalu mengingatkan aku untuk menghormati dan menyayangi orang tua.

Untungnya, perlakuan ibu kepadaku membuat aku lebih dewasa dan tanggap. Bukan hanya itu, bekal setiap hari di suruh-suruh seperti pembantu aku pun sangat terampil mengerjakan tugas rumah. sangat berbeda dengan kak Nina. Sampai pernah suatu hari aku kasihan pada kak Nina, ia sama sekali tidak bisa apa-apa karena terlalu dimanja oleh ibu.

“Nin… tolong ayah buatkan mie goreng, ayah lapar…”
“Ah ayah, Dian kan ada….”
“Ya anak ayah kan bukan hanya Dian, ayah pengen dibuatkan anak ayah yang cantik ini….”

Akhirnya kak Nina pun membuatkan ayah mie goreng. Malang, ketika menghidupkan kompor ia lupa mematikannya kembali dan kompor pun meledak. Untungnya kak Nina tida apa-apa.

Sejak saat itu ayah tidak pernah lagi menyuruh kak Nina. Semenjak kejadian itu ibu pun semakin memanjakan kak Nina sampai akhirnya kak Nina berubah jadi bandel. Semakin hari semakin nakal, tapi rupanya aku terus yang disalahkan.

“Dian… sini kamu, cuci sepatu kakak!”
“Tapi kak, kakak kan bisa mencuci sendiri!”
“Kamu ini di suruh kakak membantah ya, sudah sana cuci!”
“Iya kami Dian, kalau di suruh orang tua tidak usah menjawab terus, cepat kerjakan

Kakak dan ibu selalu memperlakukan aku seperti pembantu, disuruh cuci baju, cuci piring, mengepel. Kadang aku kesal tapi ayah selalu mengingatkanku.

“Tidak apa-apa nak, ibu kamu kan sudah tua, kasihan dia, kalau bukan kamu siapa lagi”, ucap ayah menasehati aku
“Tapi Yah, kan ada kak Nina, seharusnya dia yang melakukan semua itu…”, jawabku sedikit kesal
“Iya nak, tidak apa-apa, kakak kamu kan tidak bisa….”, ucap ayah lagi.

Karena nasehat ayah aku pun akhirnya ikhlas melakukan semua itu. Aku ikhlas diperlakukan tidak adil oleh ibuku sendiri, ibu kandung. Aku ingat pesan ayah, “nanti kalau sudah waktunya ibu kamu pasti sadar nak, sabar ya”, itulah nasehat ayah padaku.

Waktu terus berlalu bahkan sampai kini usiaku sudah hampir 20 tahun. Ibu dan ayah sudah semakin tua tapi beban hidup mereka belum berkurang. Semakin hari kak Nina justru semakin nakal dan itu membuat ayah semakin sedih. Ibu pun terlihat mulai letih menuruti semua kemauan kak Nina. Sampai akhirnya ibu mulai sakit-sakitan.

Pada 29 Juli 2016 tepatnya menjelang subuh ibu jatuh di kamar mandi sampai akhirnya ia tidak bisa apa-apa. Ibu terkena serangan jantung, kini ibu hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Melihat ibu yang sudah tidak apa-apa aku sangat sedih tapi kak Nina biasa saja. Setiap hari hanya aku yang merawat ibu bergantian dengan ayah. Setelah satu bulan lebih ibu hanya bisa berbaring sekarang ibu sering sekali menangis sendiri, terutama ketika aku mengganti popok-nya dan menyuapi ibu makan.

Pernah aku bertanya kenapa ibu terus menangis ketika aku suapi tapi ibu hanya bisa menangis lebih keras sampai akhirnya aku tak pernah lagi menanyakan hal itu. Melihat ibu yang kondisinya terus memburuk suatu malam ayah memanggilku.

“Nak ibu kamu sepertinya sudah tidak lama lagi…”, ucap ayah
“Maksud ayah apa”, jawabku sambil menahan air mata
“Sudah waktunya ibu meninggalkan kita semua, tapi ibu masih tertahan satu hal yaitu rasa bersalah kepada kamu nak…”

“Ayah tidak boleh bicara seperti itu….”
“Iya nak, ayah tahu, tapi ayah minta tolong kamu bilang sama ibu kalau kamu menyayangi dia dan telah memaafkan semua perlakuan dia selama ini… ya nak ya, kasihan ibu…”

Aku pun menuruti nasehat ibu, pagi itu setelah memandikan ibu aku membantunya sarapan. Baru satu dua suap ibu sudah menangis, ibu tidak mau lagi makan. Kemudian aku memeluk ibu sambil menangis.
“Bu… maafkan aku ya bu, aku belum bisa membahagiakan ibu… Dian sangat sayang sama ibu, ibu jangan sedih ya….”
Tampak ibu semakin keras menangis, dan kulihat gerakan tangan ibu seperti akan mengelus rambutku. Aku pun mengangkat tangannya dan memeluknya. “Dian sayang ibu, ibu tidak usah memikirkan apa-apa lagi, yang penting ibu cepat sembuh ya bu”.

Sejak saat itu ibu tidak pernah memangis lagi, bahkan ibu sudah mulai bisa tersenyum ketika aku suapi makan. Tapi saat itu tidak lama, satu minggu kemudian ibu meninggal, semua keluarga bersedih kecuali kak Nina.

--- oOo ---


Sedih benar bukan? Tidak disangka, kesedihan akhir bukan karena anak yang tersisihkan tetapi karena sang ibu yang mengalami sakit dan menangisi penyesalan atas kesalahannya. Tentu ada pelajaran yang bisa kita petik dari cerita di atas.

Dari kisah di atas, pesan moralnya adalah kita sebagai seorang anak hendaknya tetap menyayangi dan menghormati orang tua bahkan meski orang tua sedang melakukan kesalahan sekalipun. Ingat, orang tua juga bisa salah dan khilaf, maka orang tua juga tetap wajib berbenah, jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Lebih jauh lagi, kesabaran pada akhirnya akan menang dan meluluhkan kedengkian. Sabar dan tetap berkasih sayang adalah kunci untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dan lebih dari itu bisa menyadarkan seorang ibu yang khilaf. Mudah-mudahan kisah di atas berkenan di hati anda semua, terima kasih.

Back To Top