Rindu yang Hilang, Sebuah Cerpen Singkat

Cerita yang akan kita baca kali ini adalah sebuah cerpen singkat inspirasi yang penuh makna. Bukan hanya memiliki nilai estetis sebagai bahan bacaan, cerpen berjudul “rindu yang hilang” ini memberikan nasehat kepada pembaca akan makna hidup yang sebenarnya.


Hidup ternyata bukan untuk mendapatkan harta berlimpah, hidup juga bukan untuk memenuhi sel otak dengan sejuta pengetahuan atau mendapatkan cinta sejati. Hidup, sejatinya adalah memaknai semua perjalanan, setiap kejadian untuk pribadi yang berguna bagi semesta.

Dalam cerpen singkat ini jelas digambarkan bahwa manusia adalah ciptaan yang tak bisa sekalipun lepas dari kodrat manusiawi. Sekuat apapun manusia tak kan mampu mengeringkan lautan tanpa izin-Nya. Se-pandai apapun manusia tak kan mampu meniupkan kehidupan pada mikroba sekalipun.

Kisah dalam cerpen rindu yang hilang ini benar-benar bukan hanya memberi saran tetapi memberikan peringatan keras kepada manusia bahwa pasti ada batasan yang tak mampu manusia lewati. Selain itu, pandangan cinta yang sejati pada manusia pun digambarkan seolah hanya sebatas jengkal, yang akan terkubur seiring jasad yang melebur di tanah.

Sungguh, “rindu yang menghilang” dapat menjadi cerpen singkat yang akan membuat pembaca terdiam, larut dalam imaji dan ilusi akan makna hidup yang sebenarnya. Ketika harta tak lagi menjadi sesuatu yang memberikan kemudahan, ketika tahta tak lagi membanggakan, kemana batin akan berlabuh?

Rindu yang Hilang
Cerpen Oleh Irma

Empun yang masih tersisa di dedaunan tak mampu menghapus gersang di udara. Suasana pagi hanya memberikan beberapa detik kesegaran sebelum deru debu dan asap kendaraan berpacu. Ade berlari pelan sambil sesekali mengusap peluh yang menetes, suara bising kendaraan mulai membuatnya muak dan ingin muntah.

“Kapan, kapan aku bisa menikmati pagi seperti di puncak itu”, ucapnya mengeluh pada diri sendiri ketika menyadari udara semakin sesak dengan debu. Ia pun mempercepat langkah menuju apartemen tempatnya tinggal.

Selesai lari pagi, ia segera membersihkan diri dan menyantap sarapan. Beberapa lembar roti, segelas susu dan selembar surat kabar kota menjadi hidangan wajib baginya. Ade melanjutkan aktivitas setiap harinya dengan duduk di balik kursi busa di sebuah perusahaan teknologi terbesar di kota itu.

Jam berlalu, hari berganti dan bulan berulang, Ade hanya menjalani rutinitas yang sama. Posisinya sebagai pemilik sekaligus pemimpin dari beberapa perusahaan teknologi terkemuka membuat ia menjadi sosok yang tak pernah kekurangan harta. Bahkan beberapa kali ia dinobatkan menjadi pengusaha termuda dan terkaya di negara itu.

Pada satu titik, Ade tersadar akan apa sebenarnya yang sedang ia jalankan. “Untuk apa semua ini, untuk apa aku bekerja setiap hari?”, ada kekosongan dalam hatinya. Di saat harta yang dimiliki begitu melimpah ia sama sekali tak merasakan manfaat dan fungsi dari kekayaannya tersebut.

“Benar Ade, kamu bekerja siang malam, menjadi pengusaha muda terkaya tetapi yang kamu habiskan hanya sebesar itu saja”, ucap Rama. Tak bisa menangkap apa yang ingin disampaikan sahabatnya tersebut Ade pun bertanya, “apa maksudmu Rama?”.

“Coba bayangkan, berapa rupiah yang kamu dapatkan dalam sehari dan berapa rupiah yang kamu habiskan setiap hari”, ucap Rama. “Dari seratus juta yang kamu dapatkan dalam satu hari kamu mungkin hanya menghabiskannya sebagian saja, begitu seterusnya, lalu untuk apa sisa yang kamu dapatkan tersebut, tidak ada gunanya untuk kamu bukan?”, lanjut Rama.

“Ya, kamu benar, tapi sisa pendapatan ku adalah investasi masa depan”, jawa Ade.
“Lalu untuk apa, kita bahkan tidak bisa membeli nyawa untuk tetap hidup dan menghabiskan harta yang sudah kita punya, benar bukan?”, jawab Rama.

Sebuah kalimat yang benar-benar tertancap di hati. Ade langsung terdiam, lama ia berpikir keras untuk menemukan jawaban dari pertanyaan sang sahabat. “Untuk apa harta sebanyak itu, dan kenapa aku harus terus mencari harta meski aku tak bisa menggunakan semua?”, ucapnya pelan.

“Akhir-akhir ini aku juga merasa demikian, pendapatan melimpah, kedudukan yang tinggi juga tidak memberikan apa-apa”, ucap Rama, “pada akhirnya aku merasa semua sia-sia”, lanjutnya. “Apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini?”, ucap Ade pelan. “Mungkin kebahagiaan”, jawab Rama. “Tapi apakah kamu pernah bahagia dengan apa yang sudah kamu miliki?”

“Lalu bagaimana kita mendapat kebahagiaan?”, pertanyaan tersebut muncul di benak dua orang sahabat tersebut. Meski ada ruang hampa yang ada dalam hati mereka namun kesibukan tetap harus dijalankan. Mereka pun tetap menjalankan apa yang sudah mereka mulai dari awal, sampai akhirnya, mereka tak sengaja bertemu dengan seseorang.

Berawal dari rasa jenuh dengan udara kantor yang dingin ber-AC, secara tak sengaja Ade menemukan sebuah saluran televisi yang menayangkan seorang wanita yang sedang berceramah. “Hakekat manusia di dunia ini untuk ibadah, jika anda ingin bahagia dan hidup damai maka serahkan semua pada Tuhan”, kalimat itu terdengar berulang-ulang di telinga.

Ade kebetulan memang pemuda yang lahir di keluarga yang tak mengenal Tuhan. Di keluarganya tidak ada konsep Pencipta dan Ciptaan. Karena itulah kalimat tersebut terus ia ingat sampai pada satu kesempatan ia pun mengatakannya kepada sang sahabat.

“Rama, aku pernah mendengar bahwa jika manusia ingin hidup damai dan bahagia maka manusia harus menyerahkan dirinya pada Tuhan, bagaimana pendapatmu?”, tanya Ade.
“Itu namanya agama dan kepercayaan, di dalamnya ada konsep seperti itu”, jelas Rama.

Percakapan berlanjut seputar keindahan, kedamaian, cinta dan kebahagiaan. Mereka sepakat bahwa semua hal yang mereka lakukan akan sia-sia jika hati dan jiwa mereka hampa dan tidak bahagia.

Petualangan pun dimulai ketika mereka tidak lagi peduli dengan kekayaan yang mereka miliki. Ade akhirnya memulai menyusuri kota dengan cara berbeda. “Selama ini aku tidak pernah melihat kota ini dari sudut pandang berbeda”, ucapnya dalam hati. Di sisi lain, Rama yang memang sudah mengenal beberapa titik mulai mencari dan mencari. Melalui keindahan yang ia lihat ia mengabadikan sesuatu yang unik, menarik sampai akhirnya ia terduduk didekat seorang kakek yang penuh dengan senyum menyapanya.

“Beli buku Den, silahkan dipilih”, ucap pak tua itu
“Tidak kek, saya hanya jalan-jalan saja”, jawab Rama
“Ow… tidak apa-apa, silahkan singgah jika berkenan…” ucap kakek itu

Merasa sedikit letih setelah berjalan beberapa waktu, Rama pun duduk di sisi kakek tersebut. “Ada apa Den, tampaknya sedang banyak beban pikiran?”, tanya sang kakek tiba-tiba. “Apa wajahku terlihat demikian kek?”, tanya Rama.
“Helaan nafasmu Den yang terdengar begitu berat”, jawab sang kakek.

Akhirnya, mereka berbincang seolah sudah kenal lama. Sedikit demi sedikit Rama pun tak sadar mulai berkeluh kesah pada seorang kakek penjual buku di pinggir jalan yang baru saja ia kenal. Anehnya, Rama merasa begitu nyaman dan tidak merasa bahwa ia baru mengenal orang itu. Di akhir percakapan, saat mentari mulai pulang, Rama diajak orang tua itu untuk menuju ke masjid.

Sementara Rama menghabiskan sore bersama seorang pedagang buku di pinggir jalan, Ade terpesona dengan kehidupan seorang pemulung bersama istri dan satu anaknya yang maish kecil. Pertama kali, Ade melihat sang pemulung menggendong keranjang yang penuh berisi barang bekas.

Ade memutuskan untuk mengikuti orang itu ketika ia sadar bahwa di dunia ini ada orang yang untuk sekedar sesuap nasi saja harus melakukan kegiatan yang begitu menjijikkan. Sementara dia sendiri justru sebaliknya, merasa uang dan harta yang dimilikinya tiada berguna.

Ketika Ade mengikuti lelaki itu sampai ke rumahnya, betapa terkejutnya ia ketika di gubuk tersebut sudah menanti seorang wanita yang tersenyum cerah. Beberapa detik, terlihat ada pancar kegembiraan pada keluarga itu. “Apa yang membuat mereka tersenyum senang?”, tanya Ade dalam hati.

Hari itu Ade mendapatkan pertanyaan yang sangat berharga untuk dijawab, sementara Rama sendiri melihat dan merasakan bahwa kebahagiaan bisa datang dari mana saja. Alloh, yang menjadikan manusia ada, akan memberikan kebahagiaan dimanapun dan kapanpun.

--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Cinta
Back To Top