Perawatan Wajah, Cerpen Tentang Kehidupan Sehari-hari

Masing-masing kisah cerpen keluarga yang dimuat disini memiliki keunikan dan ciri sendiri. Cerpen berjudul "perawatan wajah" ini misalnya merupakan gambaran keunikan dan kejadian lucu yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 

Ya, jika diamati banyak kejadian sehari-hari yang menarik di sekitar kita, misalnya kisah seorang gadis yang sudah cukup umur dan belum juga menikah, atau gadis yang tidak suka berdandan dan orang tuanya khawatir ia tidak mendapatkan jodoh. 

Pada cerpen tentang kehidupan kali ini kita akan mendapatkan kisah yang begitu menghibur dan menarik. Cerpen ini mengisahkan seorang gadis yang sangat cuek dan tidak begitu memperhatikan penampilan khususnya mengenai wajahnya sendiri.

Tidak seperti yang lain, bahkan ia sangat jarang melakukan perawatan wajah agar wajahnya halus dan cantik. Memiliki anak perempuan dengan sifat seperti itu tentu saja membuat sang ibu khawatir. Banyak kejadian menarik, lucu dan juga menegangkan. 

Tentu saja, dengan adanya karya terbaru kali ini diharapkan rekan semua yang sedang mencari cerita-cerita menarik bisa lebih mudah memilih cerita yang ingin dibaca. Mudah-mudahan cerpen kali ini bisa menghibur anda semua. Sekarang silahkan dibaca dulu cerpen tersebut di bawah ini.


Perawatan Wajah
Cerpen Oleh Irma

Matahari sudah hampir berada di atas kepala tapi Tartini masih saja bermalas-malasan di tempat tidur. Hari minggu memang menjadi hari yang sangat dinikmati oleh Tartini, ia tidak perlu bangun pagi dan terburu-buru berangkat kerja. Di hari itu ia bukan hanya enggan melakukan aktivitas apapun, mandi bahkan sekedar untuk membersihkan muka.

“Tini, Tini, kamu itu, boro-boro perawatan wajah biar cantik, cuci muka saja malas”, ucap Sutiah melihat anak gadisnya sedang bermain ponsel di tempat tidur. Tartini hanya terdiam tidak menjawab sepatah katapun.

“Nak, kamu itu gadis, sudah sewajarnya jika kamu rajin, coba sekali-kali kamu ikut perawatan wajah, agar wajahmu itu tidak kusam”, ucap Sutiah sembari menyapu.
“Malas Bu…”, jawab Tartini dari kamar
“La kamu apa mau selamanya seperti itu, nanti enggak ada yang suka sama kamu bagaimana?” ucap Sutiah

“Tenang bu… Tartini ini kan anak ibu yang cantik alami pakai inner beauty, banyak yang suka kok…”, jawab Tartini dengan percaya diri.
“Halah, cantik dari mana, wong dari pagi saja ndak mandi begitu!”, ucap Sutiah meledek sang anak.

Berbeda dengan gadis lain, Tartini memang mewarisi sifat almarhum sang ayah, meski dia berkeukupan namun ia tampil cuek dan apa adanya. Bahkan, teman-teman di kantornya pun sering heran bagaimana bisa Tartini cuek dengan penampilan, padahal dia seorang gadis.

“Tenang Khoe, kecantikanku ini tidak akan hilang hanya karena aku tidak menggunakan berbagai peralatan kecantikan”, ucapnya suatu hari pada Khoeriah temannya. “Eh, dasar kamu ya, perawatan wajah itu bukan untuk cantik-cantikan, tapi untuk menjaga kesehatan”, jawab Khoe kesal.

“Hush, coba lihat itu, biar pun aku tidak pernah perawatan wajah sekalipun tetap bos kita selalu curi-curi pandang, coba lihat”, ucap Tartini sembari tersenyum simpul. “Gede rasa kamu!”, jawab Khoeriah kesal.

Tidak ada salahnya memang Tartini melakukan hal itu. Meski tidak seperti teman kantor lain yang menghabiskan banyak uang untuk kecantikan, Tartini yang cuek tetap memiliki wajah yang mulus. Ia sama sekali tidak pernah melakukan perawatan wajah berjerawat, ia hanya melakukan perawatan wajah alami yang ia dapat dari mendiang nenek-nya dulu.

Saat masa sekolah Tartini memang sering di tinggal Sutiah di rumah sang nenek, disanalah Tartini banyak belajar mengenai kecantikan tradisional ala putri keraton. Selama ini Sutiah sang ibu memang tidak tahu bagaimana anaknya merawat tubuh agar cantik.

Hanya sesekali saja dan sangat jarang ia mendapati anaknya sedang melakukan perawatan wajah tradisional seperti yang ia lakukan. Karena itu ia selalu cerewet agar anaknya berubah peduli dengan diri sendiri.

Tapi, yang namanya karakter dan kepribadian, meski banyak di kritik namun Tartini tetap saja bisa membawa diri. Bahkan sifat-nya yang serba tidak perduli dengan kecantikan membuat sang atasan selalu melirik padanya.

“Kamu adalah satu-satunya karyawan saya yang memiliki karakter unik. Selain kerja kamu bagus kamu juga dapat membawa diri dengan baik, saya suka itu”, ucap Samsul atasannya.
“Apa, pak Samsul suka sama saya, ah yang benar pak, saya jadi malu”, ucap Tartini polos.
“Bukan, bukan itu, bukan begitu maksud saja”, jawab Samsul dengan sedikit terbata.

Karena sifat Tartini yang selalu apa adanya tersebut justru atasannya menjadi salah tingkah sendiri. “Ya sudah, sana, besok kamu saya kasih tugas tambahan”, ucapnya sambil menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah.
“Siap…siap bos.. eh siap pak”, jawab Tartini.

Di kantor ia selalu mendapatkan pujian dari atasan tetapi di rumah ia selalu di marah oleh ibunya. Masalah apa lagi kalau bukan masalah muka yang dianggap ibunya terlihat kusut.
“Tartini…. Kamu ini mau menghukum ibu ya, ibu ini sudah tua…”, ucap Sutiah
“Ada apa sih ibu sayang…”, ucap Tartini memotong kata-kata ibunya.

“Nak, ibu itu sudah tua, bapakmu juga sudah lama tidak ada, tolong kamu berubah supaya kamu bisa cepat mendapatkan jodoh, sebelum ibu mati nanti…” ucap Sutiah dengan nada serius.
“Ibu ini bilang apa, tidak boleh bilang begitu bu, tenang saja, ibu mau menantu berapa satu, dua atau tiga?”, jawab Tartini sambil tersenyum.
“Hush, kamu itu kalau orang tua bicara selalu saja bercanda…”, jawab Sutiah sedikit kesal.

Kemudian Tartini pun mendatangi Sutiah dan memeluknya, “Ibu, ibu tenang saja ya, meski Tartini tidak memiliki teman dekat tapi Tartini yakin kok kalau sebentar lagi akan ada lelaki gagah yang datang melamar Tartini…”, bisik Tartini di telinga ibunya.

“Haduh, siapa itu, orangnya bagaimana, ganteng tidak, pekerjaannya apa?”, Sutiah menghujani anak gadisnya dengan banyak pertanyaan. “Itu kan, belum apa-apa sudah begitu…”, jawab Tartini.

Keyakinan Tartini ternyata memang beralasan karena ia merasa bahwa atasannya yang bernama Samsul memang suka dengan dia. Ia juga yakin bahwa Samsul tidak akan bisa selamanya menyembunyikan perasaannya tersebut.

Benar saja, enam bulan berlalu akhirnya perasaan dan keyakinan Tartini akan jodoh yang akan datang pun menjadi kenyataan. Hari itu tepat saat hari ulang tahunnya ketika Samsul datang menemui Sutiah untuk melamar.


--- Tamat ---

Tag : Cerpen
Back To Top