Perawatan Rambut, Cerpen Bulan Ramadhan

Di bulan ramadhan, membaca cerpen juga bisa menjadi kegiatan positif asal tidak seharian. Misalnya kita bisa membaca cerpen bertema ramadhan yang bernuansa keagamaan. Salah satunya yaitu cerpen yang berjudul "perawatan rambut" yang akan kita baca berikut ini. 



Sesuai dengan tema, cerpen bulan ramadhan berikut memberikan nasehat akan nilai-nilai religius yang sebaiknya ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya yaitu dalam menjaga aurat seorang wanita muslim. 

Dalam cerpen ini diceritakan ada seorang remaja yang justru terlalu sibuk dengan perawatan rambut dan lupa akan kewajiban untuk menutup aurat. Tentu saja, sebagai remaja yang hidup di dunia serba modern ia tidak begitu saja menerima, apalagi ia sudah terbiasa dengan gaya hidup seperti itu.

Untungnya ada seorang sahabat yang berperan dan mampu memberikan nasehat. Bukan hanya nasehat tetapi sahabat tersebut juga dapat memberikan contoh dan teladan yang baik. Suatu saat timbullah masalah hingga akhirnya sang gadis pun tidak memiliki pilihan, ia bertobat.


Perawatan Rambut
Cerpen oleh Irma

Sore yang cerah, udara sejuk menyergap setiap insan yang lewat. Aku berjalan beriringan dengan sinar mentari yang mulai beringsut. Sesekali kulihat beberapa pasang mata mengikutiku dengan takjub. Ada juga yang tak tahan dan berucap “Hai manis, cantiknya…”.

Beberapa pemuda yang sedang santai memegang gitar juga tampak terpesona dan membuat pemandangan sore itu menjadi lebih indah. Sesekali ku rapikan helai rambutku yang diterpa angin. Hari itu merasa seperti menjadi putri dari langit. Pasalnya, setelah menyelesaikan perawatan rambut aku seperti terlahir kembali.

Bagi seorang wanita, rambut adalah sebuah mahkota, itulah yang sering diucapkan banyak orang dan memang begitu menurutku. Dengan rambut panjang, lurus dan berkilau aku terlihat begitu cantik, buktinya setiap aku jalan pasti saja ada orang yang menggodaku.

Itulah sebabnya di sela kesibukanku aku selalu menyempatkan diri melakukan perawatan rambut. Kadang aku memilih perawatan rambut rontok tradisional untuk mencegah hal buruk terjadi pada mahkota kesayanganku itu.

Tapi kadang aku heran dengan Ana, bisa-bisanya ia tidak setuju dengan apa yang sering aku lakukan itu, “tapi tidak harus seperti itu juga geh Lin”, ucapnya. Ana mengatakan kepadaku bahwa meski rambut sangat penting tetapi aku tidak boleh berlebihan. 

“Ingat Lin, cantik yang abadi adalah dari dalam”, ia menasehatiku. “Coba lihat aku, aku juga memanjakan rambut tetapi tidak seperti kamu yang hampir setiap hari harus melakukan perawatan rambut rontok, padahal rambut kamu sehat!”, tambahnya.

Ya, kadang aku setuju sih dengan apa yang dikatakan oleh Ana tapi ya bagaimana lagi, sekarang aku sudah biasa perawatan rambut rontok di salon meski harganya mahal untuk dompet ku. Sampai akhirnya suatu pagi…
“Mama…….rambutku!”, teriakku ketika aku bercermin dan menyisir rambutku. Aku melihat beberapa helai rambut menempel disisir, “gawat rambutku rontok” pikirku.

Benar saja, mungkin aku sedang diingatkan atau aku sedang ditegur. Sejak pagi itu aku bolak-balik ke klinik perawatan rambut dan mencoba mencari cara mengatasi masalah tersebut. Tapi bukannya selesai justru rambutku semakin banyak yang rontok. Aku pun pergi menemui Ana untuk minta solusi.

“Ana… tolong aku, aku sudah tidak tahu pakai cara apa lagi mengatasi masalah ini”
“Masalah apa sih Lin, sepertinya penting benar?”
“Ini, rambutku rontok?”
“Ya ampun Lin, tubuh juga punya proses alami, satu dua rambut rontok itu tidak jadi masalah”
“Tapi ini tidak pernah terjadi sebelumnya!”
“Bukan tidak pernah tetapi tidak disadari Lin”

“Sudah, begini saja, lupakan masalah rambut, tidak mungkin rambut kamu rontok sampai botak kalau tidak ada penyakit, sekarang santai saja”
“Santai bagaimana sih Ana, kamu ini sahabat ada masalah bukan dibantu malah begitu!”
“Itu solusi pertama, sudah dek nurut sama aku! Kalau kamu gak mau ikuti saran aku ya sudah!”
“Trus apa?”
“Satu dua hari ini jangan pikirkan itu saja, pikirkan yang lain. Aku yang jamin, tidak akan lebih parah kok!”
“Ya sudah, awas kamu ya!”

Ana menasehatiku agar memperhatikan kebersihan rambut seperti biasa tetapi yang sangat penting ia menyarankan aku untuk back to nature alias menghindari penggunaan obat kimia untuk rambut.

Beberapa hari berlalu, masih ada satu dua helai rambut yang rontok, aku pun kembali ke Ana. “Ya sudah, biarkan proses alami yang akan membuat rambutmu tambah indah, jangan dipaksakan Tin”, ucap Tina memberi nasehat.

“Lagi pula, sudah saatnya kamu itu berpikir yang lebih jauh”, lanjut Tina. “Maksud kamu apa Lin?”, ucapku bingung. “Ya, kamu kan dianugrahi paras yang cantik, rambut yang indah, kenapa kamu tidak bersyukur? Coba deh pakai pakaian yang lebih baik lagi, agar kecantikanmu bukan hanya dari rambut tapi terpancar dari diri kamu sendiri.”, jelas Ana.

“Tin, kamu itu melenceng dari permasalahan yang ada!”, ucapku kesal
“Iya deh, maaf ya An, aku enggak bermaksud begitu”, lanjut Tina.

Aku hanya terdiam mendengarkan ocehan Tina kala itu. Aku tetap saja semakin murung karena masalah ku belum teratasi. Tapi sepertinya sahabatku itu tahu apa yang sedang ia lakukan. Hingga akhirnya ia membuat kesepakatan dengan ku.

“Ya sudah, begini saja, aku akan ajak kamu melakukan perawatan rambut alami seperti yang aku lakukan, dijamin beres. Tapi ada syaratnya!”

“Apa syaratnya?”
“Ya kalau dikasih rambut indah ya harus dijaga bukan hanya dirawat dan dipertontonkan kepada orang lain, pakai jilbab ya?”
“Ya sudah deh, yang penting rambutku tidak rontok”

Benar, ajaib, meski melakukan perawatan rambut secara sederhana dan alami namun permasalahan rambut yang aku khawatirkan ternyata tidak terjadi. 

Dan karena aku sudah berjanji pada Ana maka aku mulai belajar memakai jilbab. Sekarang tidak ada lagi orang yang tahu bagaimana indahnya rambutku. Semoga, pasanganku kelak bisa menghargai ini.


--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Religi
Back To Top