Peralatan Makan, Cerpen tentang Sekolah

Untuk tambahan koleksi bagi rekan pelajar, berikut akan dibagikan sebuah cerpen tentang sekolah. Dalam cerpen ini tentu saja mengisahkan tentang anak sekolahan dengan kegiatan belajarnya. Seperti apakah ceritanya, apakah ceritanya menarik, bagus dan tidak membosankan?

Jangan khawatir, cerpen berjudul "peralatan makan" berikut ini memiliki alur yang berbeda. Jalan ceritanya sangat berbeda dengan cerpen pada umumnya karena mengangkat kehidupan sehari-hari siswa sekolah. 

Dapat dilihat dari judulnya, cerpen ini mengisahkan persiapan sekelompok siswa dalam menghadapi lomba memasak. Biasanya kan di sekolah pada waktu-waktu tertentu memang ada lomba seperti itu bukan? 

Nah, ceritanya untuk lomba, satu kelompok siswa mendapatkan tugas untuk mempersiapkan peralatan makan untuk menyajikan makanan yang akan dibuat. Dalam menyiapkan peralatan tersebut ternyata ada masalah yang terjadi. Pokoknya seru, silahkan dibaca langsung ceritanya berikut.


Peralatan Makan
Cerpen Anak Sekolah oleh Irma

“Kita bagi saja menjadi 5 kelompok, kelompok 1 dan 2 menyiapkan menu dan bahan, kelompok 3 dan 4 menyiapkan peralatan makan dan alat masak, sedangkan kelompok 5 sisanya”, ucap Rohmah menjelaskan kepada teman-temannya. Suasana kelas saat itu sangat sibuk dan ramai, tak ada satu pun yang bersantai karena seminggu lagi mereka akan ikut lomba memasak di sekolah.

Yang membuat mereka semangat bukan kegiatannya tetapi hadiahnya, juara pertama lomba memasak akan mendapatkan uang Rp. 5 juta ditambah dengan seragam sekolah untuk masing-masing siswa. “Sekarang dari masing-masing kelompok silahkan pilih kedua dan bagi tugas masing-masing”, lanjut Rohmah menjelaskan kepada temannya.

Sekarang kelas menjadi semakin gaduh, “kelompok kita siapa yang menjadi ketua, kalau tidak ada aku saja”, ucap Tantri lantang. “Ya sudah, kamu saja, setuju semua kan?”, tanya yang lain. “Setuju”, jawab lainnya kompak.

Sementara kelompok lain sibuk berdiskusi memilih ketua, kelompok Tantri sudah siap mulai menjalankan tugas. “Kamu, tolong buat daftar peralatan makan yang nanti kita butuhkan, semua jangan sampai terlewat”, ucap Tantri kepada salah satu anggota, “kamu buat daftar jenis – jenis sendok, kamu buat daftar jenis piring, kamu kebagian mangkuk” lanjut Tantri dengan piawai memberikan instruksi kepada teman-temannya.

Waktu terus berlalu, satu persatu kebutuhan sudah dicatat, kelompok Tantri paling pertama menyelesaikan daftar hal yang harus disiapkan. Setelah mencatat dengan rapi apa saja yang akan disiapkan, Tantri lalu menemui Rohmah untuk mendiskusikan hal tersebut. Setelah sedikit perdebatan dengan Rohmah akhirnya semua sudah pas, tinggal menyiapkan berbagai kebutuhan tersebut.

Begitulah, suasana kelas begitu gaduh sampai akhirnya satu persatu kelompok menyelesaikan tahap awal tugas mereka masing-masing. Tak ada satu pun meja yang berada di tempatnya, begitu juga kursi. Melihat suasana yang begitu kacau tersebut Rohmah pun mengambil sikap. 

“Perhatian semua, sekarang karena sebentar lagi jam pelajaran terakhir di mulai saya minta tolong meja kursi kita rapi kan lagi, kita selesaikan tugas kita selanjutnya di luar kelas, yang terpenting kita sudah mendapatkan gambaran apa saja yang harus kita siapkan. Beberapa menit kemudian guru datang ke kelas dan pelajaran pun dimulai seperti biasa.

Kegaduhan di dalam kelas tadi berlanjut ke luar kelas. Sesaat setelah pelajaran usai Tantri berkumpul dengan kelompok-nya di kantin sekolah. “Sekarang bagaimana nih?”, tanya salah satu murid. “Ya, sekarang kita tinggal bagi tugas, siapa yang menyiapkan piring, mangkuk dan seterusnya”, ucap Tantri. “Iya, lebih cepat lebih baik, aku sudah lapar nih”, jawab yang lain.

“Ya sudah, sekarang kalian pilih masing-masing, tapi jangan berebut, sisanya nanti kita bagi”, akhirnya mereka mengambil bagian masing. Karena jumlah peralatan makan yang dibutuhkan jenisnya sedikit maka masing-masing anak sudah mendapat jatah sendiri.

Kemudian Tantri pun memberikan penjelasan lanjutan, “karena ini adalah untuk lomba maka semua peralatan makan yang nanti dikumpulkan harus bagus, cantik, menarik dan bukan yang seperti biasanya kita pakai di rumah. Mulai besok kita kumpulkan peralatan tersebut di rumahku”, jelas Tantri.

Ke esokan harinya murid-murid mulai sibuk, terutama kelompok Tantri yang harus menyiapkan peralatan makan dan minum. Satu persatu murid membawa berbagai peralatan yang mereka miliki di rumah. Dalam dua hari semua peralatan makan cantik yang mereka butuhkan sudah terkumpul di rumah Tantri.

Hari itu, pulang sekolah mereka pun berkumpul di rumah Tantri untuk melihat persiapan yang ada. “Tantri, kira-kira apa kita butuh multipan party set peralatan makan murah?”, tanya salah seorang teman Tantri. “Tidak usah, kita kan bukan hendak jual peralatan makan. Kita tidak perlu menyiapkan yang seperti itu”, jawab Tantri.

“Apa kira-kira ini semua sudah cukup bagus ya?”, tanya yang lain. “Sekarang dari pada kita penasaran lebih baik kita susun peralatan ini seperti saat akan digunakan di meja makan, dengan begitu akan terlihat mana yang cocok dan mana yang tidak”, ujar salah satu teman. “Ya, benar itu, sekarang coba kita susun dulu”, lanjut Tantri.

Mereka pun menyusun berbagai peralatan tersebut di meja yang sebelumnya sudah disiapkan. Setelah selesai mereka coba mengamati masing-masing. “Sendok ini janggal, tidak cocok dengan yang lain”, ucap salah satu dari mereka.

“Tunggu, jangan diambil dulu, nanti bubar”, ucap yang lain. “Kita cari penggantinya dulu, baru diambil”, jawab yang lain. Penyesuaian pun terus diakukan sampai akhirnya masing-masing dari mereka puas dengan tampilan peralatan makan yang tertata rapi di meja.

“Sip, sepertinya sudah”, celetuk salah satu dari mereka. “Iya sudah bagus”, timpal yang lain. “Mantap”, lanjut Tantri, “tapi….”, ucap Tantri lagi. “Tapi apa…?” tanya yang lain serempak.
“Sadar tidak sih kalian kalau semua itu masih terlihat biasa, nih coba lihat gambar peralatan makan restoran yang sudah aku siapkan, bandingkan, bagaimana?”, ucap Tantri.

“Iya, benar kalau melihat contoh peralatan makan yang ada digambar ini benar-benar pas, cantik dan mewah”, ucap salah satu dari mereka. “Iya benar, tapi kan yang kita bawa ini sudah yang paling bagus yang kita punya”, ucap yang lain sedikit kecewa.

“Bagaimana kalau kita menyewa saja?”, ada salah satu teman yang memberikan usul untuk menyewa peralatan makan yang dibutuhkan. Tetapi Tantri menolak tegas dengan alasan itu akan menambah beban pengeluaran mereka. Akhirnya Tantri pun mengambil keputusan bijak, “ya sudah, kalian sudah memberikan yang terbaik sekarang tinggal aku”, ucap Tantri.

“Kemarin aku sudah minta izin ibuku untuk meminjam satu set peralatan makan yang paling bagus. Sekarang tolong kita lengkapi kekurangan yang ada dengan memilih dari peralatan makan milik ibuku, bagaimana?”, tanya Tantri.

Mereka pun setuju, sebelum mengeluarkan peralatan milik ibu Tantri mereka membereskan peralatan lain yang tidak akan dipakai. “Kenapa susah susah memilih yang pas, kenapa tidak kita gunakan peralatan Tantri saja?”, usul salah satu teman.

“Tidak begitu, peralatan ini juga tidak lengkap jadi kita tetap harus menggunakan yang sesuai”, sambil membagikan sebuah kertas Tantri menjelaskan kepada teman-temannya, “itu daftar menu yang akan kelas kita buat, Rohmah dan semua perwakilan kelompok sudah setuju jadi tugas kita sekarang menyiapkan semua kebutuhan peralatan makan untuk menu-menu tersebut”.

Akhirnya setelah berdiskusi dan melakukan banyak sekali penyesuaian dipilihlah satu set alat masak yang sesuai. Tetapi, tiba-tiba ketika mereka sedang menyusun peralatan tersebut… “Prang….”, terdengar sesuatu terjatuh ke lantai. “Aduh….. kamu ini bagaimana sih, kok bisa jatuh?”, ucap Tantri.

“Aduh maaf, wah ini yang paling penting lagi, bagaimana ini?”, ucap Risma yang menjatuhkan piring saji untuk menu utama. “Tambah pekerjaan deh…”, ucap yang lain.

“Sudah, sudah tidak apa-apa, kita memang sudah lelah”, ucap Tantri, “kita bereskan saja, besok kita cari penggantinya”, lanjutnya.

Waktu berjalan begitu cepat, semua kelompok sudah menyiapkan segala sesuatunya dan tinggal menunggu hari lomba, kecuali kelompok Tantri. “Bagaimana ini Tan, kita belum mendapatkan piring pengganti yang cocok”, ucap Risma. “Kamu sih, teledor…”, iya sih, maaf”, jawab Risma.

“Ya sudah, nanti sore kamu ke rumah, kita ke tempat saudaraku”, ucap Tantri. “Saudara siapa, ke rumah Dion ya, asyik…”, ucap Risma. “Hust… jangan genit deh, kita kesana mau meminjam piring unuk menu utama kita, awas ya!”, ucap Tantri sambil mencubit tangan Risma.

Akhirnya, kelompok Tantri mendapatkan piring untuk melengkapi peralatan makan yang sudah ada. Sekarang semua tinggal menuju waktunya lomba. Semua surah siap, para siswa yang ditunjuk sebagai koki utama sudah berlatih setiap hari, anggota lain pun sudah siap dengan bagian masing-masing.

“Apapun hasil lomba nanti, yang terpenting kita sudah memberikan yang terbaik”, ucap Rohmah, “dan yang paling utama kita sudah bisa menunjukkan kerja sama yang sangat baik, aku bangga pada kalian semua”, lanjut Rohmah. 

“Terima kasih buat teman-teman semua yang sudah memberikan kepercayaan kepada ku untuk menjadi koordinator, tanpa kerja sama kalian aku pasti tidak bisa berbuat apa-apa, sekali lagi terima kasih”, ucap Rohmah membuat seluruh temannya terharu. “Semangat…..!” ucap mereka kemudian sebelum memulai perlombaan tersebut.


--- Tamat ---

Tag : Cerpen
Back To Top