Pakaian Wanita, Cerpen Menarik tentang Keluarga

Beda, jelas beda, cerpen di situs ini memang jauh berbeda dengan yang lain seperti cerpen menarik tentang keluarga yang akan segera kita baca kali ini. Cerpen kali ini mengangkat tema tentang kehidupan sehari-hari yang banyak terjadi di masyarakat.

Coba lihat judulnya, "pakaian wanita", kira-kira cerita didalamnya bagaimana ya? Sedikit bocoran saja, cerpen ini menceritakan kisah seorang anak yang bernama Adan. Nah, Adan tersebut adalah anak laki-laki satu-satunya yang selalu saja menjadi andalan di rumah terutama bagi ibu, kakak perempuan dan adik yang masih kecil.

Sebagai seorang lelaki tentu saja membantu keluarga adalah kewajibannya tetapi bagaimana jika yang dibantu masalah pakaian dalam hal ini belanja? Ya, jelas kurang begitu nyaman bukan pasalnya Adan seolah menjadi sopir yang harus selalu siap mengantar ibu, kakak perempuan dan juga adiknya dalam berbelanja khususnya pakaian.

Anda tahu kan bagaimana proses belanja baju, harus menunggu lama dan tentunya membosankan, itulah yang dirasakan Adan. Tapi itu kisah yang datar saja, ada bagian-bagian yang melibatkan emosi, perasaan dan juga mengundang tawa. Penasaran bukan? Makanya baca langsung cerpen keluarga berikut.
Pakaian Wanita
Cerpen oleh Irma

Paling repot kalau berurusan dengan pakaian wanita, mulai dari awal bulan puasa sampai akhir puasa yang paling banyak disibukkan adalah baju. Musim seperti ini menjadi saat-saat yang paling menyebalkan untuk Adan, “Dan buruan, Ibu antar ke butik”, teriakan Ibu Adan memecah keheningan siang.

“Paling menyebalkan, jadi tukang antar jemput setiap jam tanpa dibayar”, Adan mengomel. “Sudah Dan, jangan mengomel terus, kamu diminta tolong sama Ibu sendiri kok begitu”, ucap Ibunya ketika mendengar Adan berceloteh.

“Iya, iya buruan Bu, aku sudah mengantuk!”, balas Adan. Itu baru untuk satu butik saja, untuk mencari pakaian wanita terbaru tak jarang ibunya mondar-mandir dari satu toko ke toko lain sementara Adan harus sabar berjam-jam menemani ibunya belanja.

Matahari sudah mulai beringsut ketika Adan pulang dari mengantar ibunya mencari pakaian. Sesampainya di rumah Adan langsung merebahkan tubuhnya di kursi sofa, sangat lelah, Adan pun jatuh tertidur.

“Dan, Adan…. Bangun Dik, sudah sore….”, ucap kakak Adan. Adan yang masih sangat lelah hanya menjawab “iya” kemudian tertidur lagi. Sampai akhirnya Nita kakaknya membangunkannya lagi.
“Dan…. Sudah hampir magrib, bangun!”
“Ya Kak….”

Tugas Adan ternyata belum selesai, sehabis magrib rupanya sang kakak memintanya untuk menemani mencari kerudung, tentu saja sekaligus pakaian wanita. “Aduh Kak, besok lagi kenapa? Adan sudah lelah seharian antar Ibu..” ucapnya memelas.

“Sekali ini aja Dik, ini mumpung sedang ada diskon besar”, ucap kakaknya merengek. Akhirnya karena tak tega melihat wajah kakak-nya yang memelas Adan pun berangkat. Lagi dan lagi, Adan harus berjibaku dengan rasa bosan menunggu kak Nita belanja.

“Kak, kenapa tidak ke grosir pakaian wanita sekalian sih, disana kan banyak pilihan!”, ucap Adan
“Kamu ini aneh Dan, kakak itu kan hanya beli satu dua pasang baju, itu pun kalau cocok”, jawab kakak-nya.

Menjadi anak satu-satunya di rumah memang membuat Adan selalu sibuk, ada ibu yang selalu meminta antar, ada kakak yang selalu takut jalan sendiri dan ada juga adik yang selalu saja merengek minta diantar kemana pun.

Hal seperti itu berulang, bukan sekali dua kali tetapi sering, bahkan dari tahun ke tahun selalu begitu. Kadang ketika Adan merasa sangat lelah ia terpaksa menolak. Tapi akhirnya ia merasa bersalah juga.

Namanya juga anak laki-laki, jadi Adan kadang juga membutuhkan ruang pribadi untuk bermain. Sebenarnya ibu dan kakak serta adiknya tahu akan hal itu. Tetapi mereka melakukan itu juga agar Adan tidak asal bergaul dan menghabiskan waktu di luar rumah terlalu sering, apalagi bersama teman yang tidak jelas.

Atas konsekuensi yang terjadi, bagaimanapun Adan mendapatkan perhatian yang cukup besar dari mereka. Adan sering sekali dibuatkan makanan kesukaan oleh ibunya, ia juga sering diberi hadiah oleh sang kakak. Sedangkan sang adik, sering sekali menghiburnya ketika ia sedang murung. Sampai pada suatu hari…
“Dan…. Sini nak”, ibunya memanggil
“Adan… kamu dimana?” kakaknya berteriak dari lantai atas.
“Kak Adan….!” Adiknya berteriak.

“Apaaa…..!”, teriak Adan dari ruang depan dengan sedikit emosi. Beberapa saat kemudian Adan pun masuk rumah dan menemukan mereka bertiga sedang menuju ke arahnya.
“Ibu, kalau ibu mau belanja baju, ibu cari adapakaian wanita online, kakak juga. Rini, kamu jangan apa-apa kakak ya, belajar mandiri ya sayang…”, ucap Adan ketika itu

“Apaan sih Adan ini, ibu kan hanya mau memberikan ini”, ucap ibunya sembari menyodorkan kue kesukaan Adan.
“Iya, kakak juga cuma mau memberikan jam tangan ini, bagus kok, kemarin kakak lihat di toko dan sepertinya cocok untuk kamu…”, ucap kakaknya.
“Aku kak, aku… aku bantu kerjakan tugas ya…”, tambah adiknya tak mau kalah.

Adan pun akhirnya tertawa sendiri. “Ya sudah, tapi pokoknya mulai hari ini tidak ada antar-antar untuk beli baju. Yang mau beli pakaian wanita murah atau yang bagus atau apalah lebih baik lewat situs online. 

Jadi, belanja langsung di antar ke rumah”, ucapnya panjang lebar sambil mengambil kue dan jam yang kakaknya berikan. Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama.


--- Tamat ---

Tag : Cerpen
Back To Top