Memory Card, Cerita Sedih Keluarga Petani

Cerita sedih tentang keluarga petani, lebih tepatnya cerita tentang kesedihan yang dialami oleh anak seorang petani. Dalam keluarganya, berperan dengan tugas sudah menjadi tanggung jawab sehari-hari. Begitu juga yang dialami oleh Andi, anak seorang petani sukses di kampung.



Dalam cerpen terbaru kali ini, diceritakan bahwa Andi begitu sedih dan murung karena memory card yang ia miliki sudah tidak berfungsi dengan baik. Padahal, di saat bersamaan ia mempunyai tugas yang sangat membosankan yaitu menjaga padi dari hama burung.

Awalnya kartu memori tersebut tidak begitu menjadi perhatiannya, namun karena ia harus menunggu padi di tengah sawah selama berhari-hari maka akhirnya ia benar-benar bosan dan sedih. Karena terlalu bergantung pada hiburan dari ponsel maka akhirnya ia teledor dan membiarkan banyak padi rusak dimakan burung.

Ayah Andi tentu kecewa, akhirnya ia diminta untuk di rumah saja dan ayah-nya yang menggantikan tugasnya. Tentu saja meski ayah tidak berkata keras tetapi ia merasa bahwa ayahnya kecewa kepada dirinya. 

Akhirnya, ia sadar dan meminta untuk kembali menjalankan tugasnya tersebut. Tidak mau anaknya mengalami hal yang sama, setelah memberikan pengertian maka sang ayah pun memberikan bekal memory card baru untuk ia gunakan. Bagaimana kejadian sebenarnya dalam cerita keluarga tersebut, simak berikut!


Memory Card
Cerpen oleh Irma

Dunia seakan kiamat, langit yang tadinya cerah seolah gelap gulita ketika Andi mendapati kartu memori miliknya kembali tidak terbaca. Padahal waktu itu ia sedang mengemban misi penting, menunggu tanaman padi milik orang tuanya yang mulai menguning dari burung.

Angin yang berhembus pun terasa begitu panas, membuat seluruh tubuh Andi basah dengan keringat. “Ah, sial”, ucapnya sembari terus mencoba memperbaiki ponsel dan memory card yang tidak terbaca. “Padahal, harga memory card ini cukup mahal bagi ku”, pikirnya sambil terus berusaha membuat kartu tersebut berfungsi.

Setengah jam berlalu, matahari tepat di atas kepala ketika akhirnya Andi menyerah dan meletakkan ponsel miliknya. “Pusing, lebih baik makan dulu ah, sudah siang, ibu buat bekal apa ya?” ucap Andi pada diri sendiri.

Ia pun mulai membuka bekal yang dibawanya dari rumah. Nasi putih, sayur nangka, sambal dan beberapa ikan asing, “hem, lezat…”, ucapnya sembari langsung menyantap bekalnya dengan lahap.

Tanpa terasa dua bungkus nasi putih habis dilahapnya, udara yang semilir dengan bunyi burung pipit dari kejauhan membuat matanya tiba-tiba terasa berat. Setengah terpejam ia kembali ingat memory card terbaik miliknya yang sedang pundung, ia pun menghidupkan ponselnya kembali.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa juga”, ucapnya sembari berjingkrak kegirangan.

Pencet sana sini, akhirnya ia menemukan lagu kesukaannya, lagu dangdut, ia pun lalu meletakkan ponsel di sebelah kiri sembari tiduran. Tangan kanannya sibuk mengayun-ayunkan tali yang terhubung dengan kaleng-kaleng susu bekas yang mengitari sawah. Di kejauhan tampak beberapa burung pipit terbang menjauh dari sawah miliknya. “Aman….”, sambil tersenyum ia pun memejamkan matanya.

Andi adalah anak seorang petani padi yang sukses. Keluarganya dari dulu bertanam padi dengan sistem alami khususnya dalam menangani hama tanaman. Sebagai anak petani ia punya kewajiban untuk membantu orang tuanya seperti ketika mendekati musim panen seperti ini. Ia ditugaskan untuk menjaga padi dari burung.

Berbekal ponsel tua dan memory card tidak terbaca ia harus membuktikan hasil maksimal. jika itu terjadi barulah ia mungkin bisa mendapatan jenis memory card baru yang lebih baik. Untuk menjalankan tugasnya, ia berangkat sangat pagi dan pulang menjelang petang. Begitu seterusnya sampai masa panen tiba. Ketika matahari sudah mulai tenggelam ia baru beranjak dari gubuk dan menuju ke tumah.
“Ndi, bagaimana tadi, banyak burung tidak?”, sapa ibunya di rumah
“Enggak bu…”, jawabnya singkat
“Ya sudah, kamu mandi dulu setelah itu makan, ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu, kebetulan ayah dan ibu juga belum makan jadi nanti kita makan sekalian…”, ucap ibunya.

Setelah selesai membersihkan diri, Andi langsung menuju ke meja makan. Disana telah menunggu ayah dan ibunya sambil meminum secangkir teh. Sambil makan, ayah dan ibu Andi pun bertanya tentang tugas Andi menjaga tanaman pagi mereka.

“Tadi bagaimana Ndi, tidak banyak burung kan?”, tanya ayah membuka pembicaraan.
“Lumayan banyak si Yah, tapi alat pengusir burung yang kita pasang berfungsi dengan baik, hanya di bagian barat sedikit bermasalah”, jawab Andi menjelaskan.
“Loh, kenapa memang, bahaya itu kalau tidak di atasi?”, tanya ayah penasaran
“Kalengnya terlalu jarang jadi suaranya kurang keras yah…”, jelas Andi
“Ya sudah, besok ayah bantu memperbaikinya…”, jawab ayah
“Tapi ada satu masalah lagi Yah…”, lanjut Andi
“Masalah apa lagi Nak? Kok banyak benar?”, ibunya menambahkan
“Memory card error, bu, jadi aku kesal karena tidak ada hiburan”, jawab Andi sedikit manja
“Apa itu Ndi?”, tanya ayahnya sedikit bingung.
“Itu lo Yah, yang buat mendengarkan musik di handphone Andi rusak…”, ucap ibu menjelaskan pada ayah.
“Oh… ayah kira apa, gampang itu….?”, ucap ayah sambil memasukkan sesuap nasi ke mulut.
“Gampang bagaimana Yah?”, tanya Andi dengan serius.
“Besok beli yang baru, tapi habis selesai panen…”, jawab ayah
“Duh ayah, kalau besok sudah tidak penting ya, kalau sekarang kan memang untuk teman di sawah…” jawab Andi sedikit kecewa.
“Iya benar itu Yah, kasihan Andi Cuma berteman dengan burung saja di sawah…” ibunya coba membujuk sang ayah.
“Iya, sudah-sudah, besok ayah carikan, mau yang memory card v gen atau yang apa?”, tanya ayah
“Lah…itu ayah kok bisa menyebutkan nama kartu memori, sok tahu ayah ini”, ucap Andi sambil tersenyum
“Eh… jangan salah ya, ayah juga gaul kok, ada kan memory card tidak bisa diformat, misalnya sudah rusak, ada juga memory card tidak terbaca di blackberry, benar kan Ndi?”, jawab Ayah tidak mau kalah
“Halaaah bapak ini, sama anak mbok ya mengalah saja….”, ibunya menimpali.

Begitulah, keesokan harinya Andi masih harus berangkat dengan masalah yang sama. Sejak dari rumah ponselnya sudah tidak bisa untuk memutar musik. Jadi ia hanya bisa bergegas ke sawah sebelum padi-nya habis dimakan burung.

Karena terlalu sibuk dengan masalah sendiri, Andi pun lupa akan kewajibannya, ia terbawa perasaan sedih karena tidak ada hiburan. Padi pun banyak yang dimakan burung dan ketika ayah-nya datang tentu saja ayah Andi merasa begitu sedih melihat tanaman padi yang berantakan. 

Akhirnya, melihat Andi yang sama sekali tak siap menjalankan tugas sang ayah pun meminta Andi istirahat di rumah. "Ayah marah ya", ucap Andi. "Bukan marah Ndi, tapi sedih, coba lihat tanaman kita itu", jawab sang ayah. 

Sesampainya di rumah, malam harinya Andi dinasehati banyak hal baik oleh Ayah maupun Ibu. Ia pun merasa menyesal dan ikut sedih melihat orang tuanya yang kecewa. Sebagai gantinya Andi bertekad menjaga padi dengan lebih baik lagi. "Besok aku yang jaga Yah, ada atau tidak ada memory card", ucap Andi.

Pagi itu Andi berangkat lebih dulu karena sang ayah hendak menyiapkan beberapa alat untuk memperbaiki pengusir burung yang dipasang. Menjelang siang ayahnya baru datang dan Andi sedari tadi hanya duduk di gubuk sembari sesekali berjalan mengitari sawah.
“Ndi, ayah bawa kue, dimakan dulu sanah, ayah akan memperbaiki pengusir burung dulu”, teriak ayah dari jauh.

Andi pun bergegas ke gubuk dan menyantap beberapa kue. Sambil terus mengamati areal sawah ia kembali menghidupkan ponsel, berharap ia bisa mendengarkan lagu. Dicoba beberapa kali tetap tidak bisa, akhirnya ponsel ia letakkan kembali. Beberapa saat kemudian…

“Sekarang sudah beres, di coba Ndi…”, Andi pun mencoba pengusir burung yang diperbaiki, beres semua sudah berfungsi maksimal. Ayah pun duduk di samping Andi sambil meraih satu potong kue buatan ibu.
“HP kamu sudah bisa Ndi, mbok ya putar lagu yang asyik gitu loh…”, ucap ayah
“Belum yah, nih…”, jawab Andi
“Sini, ayah yang coba…”, jawab ayah sambil mengambil ponsel

Ayah memegang dan mengotak-atik ponsel seolah ia bisa memperbaikinya. “Nih, coba sekarnag cari lagunya”, ucap ayah.

Benar rupanya ponsel Andi sudah bisa untuk mendengarkan musik, “tapi….”, ucap Andi. Kenapa lagunya jadi berbeda begini ya Yah? Ternyata, ayah membelikan memory card baru untuk Andi dengan lagu-lagu yang berbeda.


--- Tamat ---

Back To Top