Jam Tangan, Cerpen Cinta yang Romantis

Katanya sedang mencari cerpen cinta yang romantis, ya ini dia? Makanya, baca dulu cerpen ini, jangan hanya lihat judulnya saja, meski judulnya terlihat tidak keren namun cerita yang ada didalamnya cukup menarik. 



Cerpen berjudul "jam tangan" ini bukan mengisahkan orang yang jatuh cinta gara-gara jam tangan tetapi ceritanya tentang seorang pria yang memiliki kebiasaan datang terlambat. Ya, berhubungan juga bukan? 

Bisa berhubungan karena sang kekasih, yaitu seorang pria yang cukup berada, selalu memakai jam tangan yang bagus tetapi disisi lain ia tidak pernah tepat waktu. Parahnya bahkan di acara ulang tahunnya sendiri saja ia sampai telat, jelas saja sang kekasih marah.

Nah, pada akhirnya kebiasaan tersebut tentu saja berubah - setidaknya akan berubah - akibat peran dan tekanan dari sang pacar. Tapi malang, belum sempat membuktikan bahwa ia sudah tidak suka terlambat sang pria jatuh sakit. Bagaimana cerita selengkapnya?


Jam Tangan Couple
Cerpen oleh Irma

“Tinggal lima menit lagi”, pikir Muji sembari mempercepat langkah kakinya. Ia tidak mau ketinggalan lagi untuk kesekian kalinya, kali ini harus tepat waktu, tekad-nya bulat sambil terus melangkahkan kaki setengah berlari.

Muji tidak mau kejadian beberapa hari lalu terulang lagi ketika ia harus rela acara ulangtahunnya dimulai sebelum ia datang. Kali ini di acara ulang tahun Mirna, Muji harus menjadi yang terdepan. Tinggal beberapa langkah dari lokasi perayaan tersebut, Muji menyempatkan diri melirik jam tangan seiko yang melekat setia di tangan kirinya.

Jam tangan itu menjadi saksi bisu Muji yang tidak pernah datang tepat waktu. “Sudah Muji, jual saja jam tangan original milikmu itu, atau kau kasih aku saja lebih berguna”, ucap Mirna tepat di hari ulang tahun yang beberapa hari lalu dilaksanakan.

“Mungkin Muji perlu ganti merek lain, misalnya jam tangan swiss army original, mungkin bisa membuat dia tidak telat melulu”, ucap yang lain menimpali.

Ya, untuk seorang lelaki tampan yang tidak kekurangan uang, Muji sebenarnya sudah beberapa kali ganti jam tangan sejak pertama kali ia menggunakan jam. Jam pertama-nya adalah jam tangan original yaitu jam tangan alexandre christie pemberian sang ayah. “Kamu bisa mengatur waktu dengan menggunakan jam ini Muji”, ucap ayahnya kala itu.

Muji merasa tak cocok, ia pernah berganti dengan jam tangan murah yang justru membuat kulit tangannya alergi. Beberapa hari lalu, sebelum ia ulang tahun ia juga sudah berniat mengganti penampilan dengan jam tangan swiss army. Belum terlaksana tetapi ia sudah lebih dulu mendapatkan kesan buruk dari keterlambatannya.

Tapi tidak untuk kali ini, sejak beberapa hari lalu Muji sudah berlatih dan berusaha lebih keras untuk tidak datang terlambat. Bukan hanya karena ia sudah bosan di ejek tetapi karena Mirna adalah seseorang yang khusus bagi Muji. Mirna adalah kekasih yang baru saja ia dapatkan satu bulan lalu tapi Mirna sudah mulai mengetahui kebiasaan buruk yang dimiliki oleh Muji.

“Akhirnya…”, ucap Muji dengan keringat bercucuran. Muji sampai di lokasi tepat waktu, dua menit sebelum Mirna gelisah dan memulai acara tanpa dirinya. Mirna tersenyum simpul melihat kekasihnya datang dengan bermandikan keringat. Ia langsung melambaikan tangan memberi tanda Muji untuk menghampirinya.

Sekali dalam sepuluh tahun terakhir, Muji datang tepat waktu dan tidak terlambat. “Sungguh prestasi yang membanggakan”, gumamnya lirih. “Apa sayang, kamu bilang apa?”, ucap Mirna. “Tidak, tidak apa-apa”, ujar Muji.

“Sayang, terima kasih ya, kamu sudah datang di acara ini”, ucap Mirna. “Ya, pasti dong, pasti aku datang…”, jawab Muji. “Bukan hanya itu, terima kasih karena tidak terlambat”, balas Mirna sambil tersenyum.

Muji hanya tersenyum kecut dengan sikap kekasihnya itu. “Iya, maaf ya, selama ini aku sering telat dan terlambat datang…”, ucap Muji dengan dahi berkerut. “Iya, tenang aja, besok – besok pasti kamu tidak akan terlambat lagi kok”, jawab Mirna.

“Yakin benar kamu…”, jawab Muji. “Iya dong, jelas aja, buktinya kamu hari ini bisa datang on time, jadi pasti bisa dong”, lanjut Mirna.

Selesai acara, Muji sedikit puas dengan apa yang dialami hari ini. “Setidaknya hari ini tidak banyak orang yang mengolok aku”, pikirnya sambil melangkah pergi.

Itu pemikiran Muji, tapi tidak dengan pemikiran orang tuanya. Karena dia sempat berkunjung ke rumah teman maka akhirnya ia pulang ke rumah agak larut. “Sudah malam begitu baru sampai rumah kamu, lihat jam tanganmu, sudah jam berapa”, ucap ibunya ketika ia menjejakkan kaki di rumah.

Kali ini tidak biasa, entah mengapa suasana hati Muji menjadi sangat kesal atas ucapan ibunya tadi. Sampai di dalam kamar ia langsung membanting jam tangan yang sedari tadi melekat di tangannya tersebut. “Mulai hari ini aku tidak akan pakai jam tangan, terlambat-terlambatlah sekalian”, ucapnya kesal.

Emosi hanya mendatangkan keburukan saja, Muji yang tidak memakai jam tangan pun tetap tidak bisa mengelola waktu dengan baik.

Sebenarnya masalahnya hanya satu yaitu malas, Muji memang malas mendahului, ia memang sudah biasa santai dan tidak pernah ingin berangkat lebih awal, untuk urusan apapun.

Sampai akhirnya Mirna jengkel dengan kelakuan Muji tersebut. “Tiap kali diajak jalan selalu saja telat, bosan aku!”, ucap Mirna suatu hari. “Ya mau bagaimana lagi, aku sudah berangkat lebih awal kok”, jawab Muji membela diri.

“Sudahlah, aku pulang saja”, jawab Mirna ketus sembari langsung pergi meninggalkan Muji. Muji hanya bisa terdiam, bingung harus bagaimana. Ia juga tahu kalau sudah seperti itu maka mau diapakan saja Mirna pasti tetap jengkel.

Ke esokan harinya Muji merasa bersalah kepada kekasihnya tersebut. Ia pun inisiatif meminta maaf, “Hari ini aku ingin minta maaf sama Mirna, mudah-mudahan dia mau memaafkan aku”. 

Berbekal seikat bunga mawar ia berangkat. Malang, di perjalanan hujan deras, dilema dirasakan Muji, mau pulang sudah terlanjur, mau lanjut hujan begitu lebat.

Akhirnya Muji nekat menuju rumah Mirna dengan basah kuyup. Untung saja Mirna di rumah, orang tuanya membukakan pintu dan mempersilahkan Muji masuk. 

Tak berapa lama Muji langsung mengungkapkan niat kedatangannya, “Mir, aku minta maaf ya, aku janji, demi kamu aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi”, ucap Muji. “Tapi kamu sudah terlalu sering seperti ini…”, jawab Mirna.

“Kalau aku telat lagi, kamu boleh langsung meninggalkanku selamanya”, ucap Muji pasrah. Mirna tidak menjawab, ia hanya terdiam. Bagaimanapun ia tak tega melihat Muji yang basah kuyup kedinginan. Mirna menawarkan Muji untuk meminjam baju kakaknya namun Muji menolak.

“Enggak usah, aku hanya ingin bilang itu saja, sekarang aku permisi dulu”, jawab Muji polos. Tampaknya Muji sedang tidak berselera berlama-lama di rumah Mirna, tanpa menunggu jawaban ia pun langsung berlalu.

Sebagai seorang kekasih, Mirna tahu benar bahwa Muji bersungguh-sungguh ingin meminta maaf. Ia pun bersyukur dan berharap serta berdoa semoga Muji bisa mewujudkan janji yang telah ia ucapkan.

Satu minggu berlalu, Muji tak hadir, tak menampakkan batang hidungnya sekalipun. Ketika Mirna mencoba menghubunginya nomor ponsel Muji tidak aktif. Akhirnya Mirna penasaran dan khawatir, ia pun datang ke rumah Muji.

Sesampainya di rumah Muji, tidak ada satupun disana, hanya seorang satpam. Satpam itulah yang mengatakan bahwa sejak beberapa hari lalu Muji sakit dan dirawat di rumah sakit.

Hati kekasih mana yang tak sedih mendengar kekasihnya sakit, Mirna langsung meluncur ke lokasi. Sebelum sampai ke rumah sakit, ia teringat terakhir kali ia bertemu dengan Muji. Ia pun berhenti sejenak di sebuah toko, ia membeli jam tangan couple yang sudah terbungkus rapih. “Semoga, jam tangan g shock ini bisa membuatnya tersenyum”, harapnya dalam hati.


--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top