Contoh Cerpen 5 Orang, Pengalaman Singkat

Kali ini sebuah cerita pendek yang merupakan sebuah kisah pengalaman singkat yang dialami oleh tiga orang pemuda. Pengalaman tersebut seputar kejadian ketika mereka pertama kali hendak mencari kerja di kota besar. 



Ceritanya, tiga pemuda tersebut yaitu Andi, Dika dan Bayu ingin mencari kerja di kota. Sesampainya di kota mereka mendapatkan pengalaman yang tidak begitu bagus. Ketika hendak ke rumah salah satu keluarga mereka harus menggunakan jasa ojek.

Parahnya, ojek disana rupanya sangat mahal karena masuk-masuk gang yang sempit. Mereka bertiga harus membayar ojek sebanyak tiga ratus ribu untuk tiga orang. Tentu saja, mereka yang dari desa dan hendak mencari kerja sangat terkejut dengan harga tersebut.

Lebih lanjut, karena tidak memiliki bekal yang cukup dari desa akhirnya mereka mau tidak mau harus menerima pekerjaan apapun yang diberikan oleh saudaranya di kota. Lucunya pekerjaan yang didapat bukan seperti yang dibayangkan.

Apakah pekerjaan mereka, bagaimanakah kejadian yang sebenarnya mereka alami pada saat itu. Ya, lebih baik anda membaca sendiri cerpen dengan 5 orang pemain tersebut di bawah ini. Bagus kok, ada lucunya dan ada yang mendebarkan, silahkan dibaca.

Pengalaman Singkat
Cerpen Oleh Irma

Hari sudah menjelang sore ketika Andi, Dika dan Bayu melangkah meninggalkan sebuah stasiun kereta. Suasana stasiun masih begitu ramai dan justru terlihat lebih ramai menjelang malam hari. Sedikit berbeda, udara yang berhembus terasa lebih dingin dari pada saat mereka sampai di stasiun kereta tersebut.

Sesekali mata Andi melirik kedua sahabatnya yang berjalan di sampingnya. Ini adalah pengalaman pertama Andi pergi jauh dari rumah bersama dua sahabatnya yaitu Dika dan Bayu. Hari itu rencananya mereka akan ke kota, mencari pekerjaan untuk menimba pengalaman.

Sesekali terdengar beberapa tukang ojek berteriak menawarkan jasa kepada mereka. Namun karena masih diarea stasiun maka mereka membiarkannya. “Ingat, nanti kalau sudah sampai di stasiun kereta kalian cari ojek saja, tetapi kalian jalan dulu keluar dari stasiun”, pesan saudara Bayu ketika mereka mau berangkat.

Demi keamanan mereka pun harus melakukan itu. Setelah sedikit jauh dari stasiun mereka pun menghentikan langkah. Andi kemudian meletakkan tas yang ada dipundaknya yang mulai terasa berat sedangkan Dika langsung jongkok menahan pegal di punggung. Bayu terlihat santai sambil mengamati jalan menuju ke kota.

Beberapa saat kemudian ada dua orang pengendara motor yang menghampiri mereka. “Ojek-ojek, kalian mau kemana, antar ojek aja ya”, ucap salah satu pengendara sambil menghentikan motornya.

Andi, Dika dan Bayu saling pandang satu sama lain seolah ragu dengan keberadaan dua tukang ojek tersebut. “Sudah, tidak usah takut, kami ojek pangkalan kok, udah ayo naik…” ucap tukang ojek lainnya.

Mereka bertiga pun tak bisa menolak ketika dua tukang ojek tersebut setengah memaksa mereka untuk naik motor. Saat itu Bayu hendak menolak tukang ojek tersebut karena ragu dengan mereka karena dua sahabatnya sudah naik duluan akhirnya ia pun mengikuti mereka.

Tak lama kemudian – sekitar satu setengah jam – mereka pun sampai di alamat yang dituju. Sedikit lama memang karena lokasi rumah yang dituju Andi, Dika dan Bayu masuk dalam gang-gang yang cukup sempit.

Kemudian mereka pun diturunkan di depan sebuah gang. Rumah yang mereka tuju sudah terlihat di ujung gang tetapi karena gang terlalu sempit maka tukang ojek pun tidak bisa menghantarkannya sampai rumah. “Maaf ini ya, sampai disini saja, soalnya gang sempit motor tidak bisa masuk”, ucap salah satu tukang ojek.

“Ya sudah bang, ini ongkosnya semua berapa?”, tanya Andi
“Semua tiga ratur ribu”, jawab sang tukang ojek

Dika dan Bayu pun terkejut setengah mati mendengar ongkos ojek yang begitu mahal. Padahal mereka hanya membawa uang pas-pasan. “Wah, mahal amat bang, masak ojek sampai segitu?”, jawab Dika.

“Ya memang mahal, kan hanya ojek yang bisa masuk ke sini, tidak ada angkutan umum, apalagi taksi”, jawab salah satu tukang ojek.

Memang benar, melalui gang yang cukup sempit tersebut tidak ada kendaraan umum yang bisa mereka gunakan kecuali ojek. Akhirnya mereka pun memberikan ongkos kepada tukang ojek.

“Edan, baru kali ini aku naik ojek ongkosnya begitu mahal”, keluh Dika.
“Iya, itu tadi bukan orang sini kelihatannya”, sahut Bayu
“Ya sudahlah, yang penting kita sudah sampai, yuk kita langsung ke rumah paman mu”, ajak Dika ke Bayu.

Mereka pun langsung masuk ke gang tersebut dan menuju rumah yang ada di foto. Untung saja, ketika mereka sampai paman Bayu yang bernama Alif sedang duduk di teras rumah.

“Eh, Bayu, kamu sudah sampai, cepat benar”, ucap Alif melihat Bayu datang.

“Iya paman, lumayan cepat perjalannya, oh iya paman, ini teman-temanku yang kemarin mau mencari kerja”, ucap Bayu kemudian.
“Oh, iya, kamu siapa namanya?”, tanya Alif
“Aku Andi Om dan ini Dika”, sahut Andi memperkenalkan diri.

Akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah mereka disambut oleh Nensi istri Alif. Kemudian mereka pun disuruh membersihkan diri. Setelah itu mereka di ajak makan malam bersama keluarga Alif.

Ke esokan harinya mereka mengutarakan niatnya untuk mencari kerja karena mereka sudah lulus sekolah dan tidak melanjutkan. “Disini, meski di kota tetapi mencari pekerjaan sulit. kalau kalian mau kerja kasar aku akan ajak kalian kerja bersamaku”, ucap paman Bayu.

“Yang penting kami bisa langsung kerja Om, soalnya kami sudah tidak punya uang”, jawab Andi. “Lah, kalian memang tidak bawa bekal dari rumah?” tanya Alif

Uang mereka habis untuk bayar ojek paman, tadi mereka diminta tiga ratus ribu”, jelas Bayu kepada Alif dan Nensi.

Akhirnya, Alif pun mengajak Andi, Dika dan Bayu untuk bekerja di tempat Alif. Mereka bekerja di peternakan yaitu memelihara kambing. Andi sempat terkejut dan ragu dengan pekerjaan itu. Ia berpikir jauh-jauh ke kota mereka hanya di suruh bekerja memelihara kambing, sama saja di kampung.

Tapi begitulah, mereka tidak memiliki pilihan selain bekerja ikut Bayu dan pamannya Alif. “Benar-benar sebuah pengalaman yang singkat, jauh – jauh dari kampung bekerja di kota hanya menjadi tukang kambing, nasib-nasib”, gumam Andi.

--- Tamat ---

Back To Top