Contoh Cerita Singkat, Waktu Untukmu

Melalui contoh cerita singkat kali ini anda akan mendapatkan bacaan tentang sebuah kekaguman seorang lelaki kepada seorang wanita yang sangat cantik. Mungkin bisa ditebak dari judulnya, cerpen berjudul “waktu untukmu” berikut memang menceritakan seorang pemuda yang memberikan waktu begitu banyak untuk seorang gadis.


Kisah cerita cerpen singkat ini merupakan kisah cinta yang cukup menyedihkan, tahu kenapa? Kisah berikut merupakan kisah cinta yang tidak kesampaian dimana ada seorang lelaki yang hanya bisa mengagumi seorang gadis tanpa bisa berkenalan atau bahkan menyatakan cinta.

Cerita berisi bagaimana hari demi hari ia (lelaki itu) menghabiskan harinya. Begitu banyak waktu yang ia berikan untuk sang gadis. Bahkan hanya sekedar untuk memandang wajahnya sekilas atau bahkan hanya untuk menunggu kedatangan dan kemunculannya.

Tragis dan menyedihkan, memiliki rasa cinta yang begitu besar di dada tetapi tidak terungkap. Jangankan untuk mengungkapkan cinta, mengetahui siapa nama gadis yang ia puja saja lelaki itu tidak tahu. Maka dari itu hari-harinya hanya dipenuhi dengan bayang semu, bayang gadis yang ia suka, di siang dan malam yang ia lalui.

Waktu Untuk Dia
Cerpen Oleh Irma

Telah ribuan juta detik waktu yang ku berikan setiap harinya hanya untuk memimpikan dia. Bahkan berkali lipat dari itu aku selalu merindukan setiap senyum kecil itu, yang selalu menghiasi wajah tirus-nya.

Ayu, mempesona, setiap hari yang aku lalui tak pernah luput dari bayang itu. Segala gerak langkahnya menghiasi malam yang aku lewati. “Sungguh, tiada waktu yang lebih indah selain waktu yang kuhabikan untuk dirinya”, ucapku lirih sambil memeluk bulan di peraduan.

Pagi, enam empat puluh tujuh menit aku selalu sudah duduk menanti dia di stasiun kereta itu. Disana aku selalu melihat rabutnya yang terurai saling berkejaran. Beberapa buku di genggaman, seutas kabel headset terlihat membelah menuju satu celana.

Indah, sejurus kemudian aku akan menyaksikannya duduk dibangku kereta dengan membaca sebuah buku. Di balik jendela itu, selalu terlihat wajah yang sama setiap paginya.

Siang, di sela jam istirahat aku selalu sibuk menerka dan menebak apa yang sedang ia lakukan. “Ah, mungkin dia sedang santai di mall”, pikirku, “tapi tidak mungkin, kelihatannya dia bukan tipe wanita seperti itu”, lanjutku.

Dari tampang dan penampilannya, memang dia bukan tipe wanita yang selalu bersolek atau terlalu perduli dengan penampilan. Nyatanya, penampilannya sederhana, meski terlihat sangat cantik.

“Dia kan selalu membaca buku, mungkin dia sedang dikampus, belajar”, ucapku setengah berteriak. Ya, wanita cantik itu, dalam setiap pertemuan rahasiaku, memang selalu dekat dengan buku. “Tapi…. Mungkin saja buku cerpen atau novel”, pikirku ragu untuk menebak.

Di sore hari, berbeda dengan pagi dan siang, aku selalu menghabiskan waktu untuk menunggunya di stasiun tempat ia berangkat. Selalu, sampai batas jam enam sore tak satu pun sosok yang mirip dengan dirinya, “semoga hari ini ia pulang dengan kereta yang sama”, harapku cemas.

Selalu saja begitu, satu kali dua puluh empat jam, waktu ku untuk dia tidak terganti dengan apapun. Bahkan, perjalanan waktu itu telah menjadi catatan sejarah hidup yang tak lupa aku bukukan dalam ingatan.

Selepas magrib, menyadari ia tak muncul di stasiun kereta itu, beberapa menit ku mengasap, menguap entah kemana. Angan dan khayal ku membumbung, mencoba mencari kemanakah rimba gadis nan rupawan itu saat ini.

Aku benar-benar tak puas mendapat kenyataan bahwa aku hanya bisa bertemu dengannya di pagi buta itu, hanya sekejab, tanpa kata tanpa makna. Terus, aku mencari ke seluruh penjuru alam, bahkan sampai ditempat-tempat yang paling kelam.

Riuh pasar ku datangi, sepi hutan ku lalui, hanya untuk mengejar bayang sang gadis pujaan, sampai akhirnya aku letih dan tertatih. Deru kereta jam tujuh malam memaksaku terbangun dari mimpi, membangkitkanku seolah berkata keras, “waktumu telah habis, sekarang kau harus pulang”.

“Sial”, ucapku kaget. Kenapa begitu cepat hari berganti, kini hari telah gelap dan aku harus kembali berjuang di gelapnya malam dalam jeruji dinding yang aku buat sendiri. Seindah apapun dinding kamar itu aku buat, aku selalu terpenjara dalam sunyi dengan bayang wajahnya yang menghantui.

--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Cinta
Back To Top