Cerpen tentang Kasih, Telepon Salah Sambung

Ada banyak sekali jenis cerita pendek yang bisa anda baca disini, salah satunya yaitu cerpen tentang kasih berikut ini. Cerpen ini mengisahkan sebuah kejadian yang didasari rasa kasih sayang dalam diri seorang pemuda.

Adalah Rinto yang memiliki rasa kasih, tepatnya kasihan, kepada seorang wanita ibu – ibu yang sedang ditimpa kesulitan. Sebenarnya cerpen ini berisi kejadian salah sambung pada sebuah telepon. Biasa bukan, dalam kehidupan sehari-hari, salah sambung sering terjadi, bahkan kadang disengaja.

Tetapi, bagaimanakah kejadian dalam cerpen berikut? Apakah cukup menarik untuk kita simak bersama? Menarik atau tidak ternetu tergantung anda sebagai pembaca. Yang jelas, kisah yang diangkat ini cukup segar dan berbeda dari kebanyakan kisah lain.

Tujuan diberikannya cerpen berjudul “telepon salah sambung” ini selain untuk bahan hiburan tentunya juga sebagai sarana belajar. Anda bisa membaca kisah ini untuk belajar menulis cerpen sederhana, bagaimana tertarik?

Telepon Salah Sambung
Cerpen oleh Arif

Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya Rinto, tinggal di sebuah desa kecil di daerah Jawa. Saya akan menceritakan pengalaman lucu dan menarik saya , dan semoga dapat mengibur anda di kala waktu rehat anda.

Di pagi hari yang cerah ketika ku terbangun, aku melihat handphone berbunyi keras. Namun karena memang aku masih merasa mengantuk aku tidak bisa mengangkatnya. Ku biarkan sejenak bunyi telpon tersebut dan tak lama kemudian telpon tersebut pun berbunyi.

Namun setelah 10 menit berjalan handphone berbunyi lagi. Sangat merasa terganggu aku pun langsung mengangkatnya.”Halo, siapa ni...? “, bertanya-tanya karena memang nomor yang memanggil belum tersimpan.

Penelpon di seberang sana menjawab”, Rin, tolong saya, saya kena tilang polisi Rin”, jawab penelpon dengan penuh suara gugub. ”Iya Ibu siapa, “, Jawabku.”Sudah jangan banyak tanya, ini lagi di kantor polisi ini”, ucapnya keras.

Akupun berpikir dan bertanya ,”Siapa ya”.” Rin, kok  malah bengong, sudah nanti saya kirim alamatnya, kamu cepat kesini ya”, ucapnya lebih lanjut.

Karena terbawa perasaan aku pun menyanggupi, meskipun aku belum tahu siap yang menelponku tadi. Setelah telpon di matikan, penelpon tadi mengirim pesan yang berisi alamat kantor polisi tempat dia di tahan. Kantor tersebut kebetulah lumayan jauh dari rumahku, butuh 1 jam perjalanan.

Tanpa membuang waktu aku pun langsung mandi, untuk kemudian menemui penelpon misterius tersebut.  Ku hidupkan motor tuaku, aku pun langsung meluncur dengan kecepatan sedang. 

Namun, di perjalanan aku masih sempat bertanya-tanya di dalam hati siapakah gerangan yang menelpon. Karena hati gelisah aku pun menjadi ragu dan berpikir yang tidak-tidak. Namun di sisi lain aku mempunyai rasa iba dengan penelpon misterius tersebut, karena dilihat dari suaranya, penelpon tersebut sangat membutuhkan pertolongan.

Di jalan yang kebetulah ramai sekali, aku dengan gesitnya menerobos semua kendaraan yang ada di dekatku. Karena memang aku paham bahwa perjalananku masih panjang. Bila aku ingin cepat sampai maka harus cepat. Meskipun begitu aku juga tetap memperhatikan keselamatanku, dan selalu mengesen di kala hendak belok.

Setelah 1 jam di perjalanan aku pun telah sampai di kantor polisi yang dimaksud. Aku melihat ada empat orang polisi dan 1 ibu-ibu. Aku tidak merasa mengenal orang yang aku lihat. Namun karena memang sudah terlanjur sampai kantor polisi aku pun memastikan dengan menanya orang yang ada di kantor tersebut.

Aku,”Siang Pak, BU, apa benar Ibu yang menelpon saya dan meminta bantuan,”Tanyaku sambil menghadap ibu-ibu tersebut.

Ibu-ibu tersebut menjawab,”Saya tidak merasa memanggil atau menelpon anda”, Jawabnya sambil melihatku. Pak polisi,”Bukannya tadi ibu menelpon sanak saudara ibu, apakah ini bukan sanak saudara ibu..?”.

Ibu-ibu menjawab,” Iya pak tapi mas-mas ini bukan saudara saya, dan bahkan saya tidak mengenalnya”.

Aku ,” Gak mungkin bukan ibu yang menelpon saya , karena memang hanya ibu perempuan yang ada di kantor ini, saya mau bukti coba miskol nomor saudara yang ibu telfon.

Ibu-ibu tersebut pun menelponnya, tak lama handphoneku berbunyi. Sebenarnya aku pun merasa kecewa karena memang dipagi hari sudah ada nomor yang nyasar. Ibu-ibu tersebut pun meminta maaf kepadaku dan kemudian akupun memaafkanya.

--- Tamat --- 

Back To Top