Contoh Cerita Cerpen Singkat Horor, Jalan Keramat

Yang ingin cerita hantu bisa membaca contoh cerita cerpen singkat horor berikut ini. Cerita berjudul "jalan keramat" ini adalah sebuah kisah yang terjadi pada dua orang pemuda yang melihat penampakan yang sangat membuat mereka takut. Hantu atau bukan, tentu tergantung percaya atau tidak dengan hal gaib seperti itu.

Contoh Cerita Cerpen Singkat Horor, Jalan Keramat

Dalam kisah ini anda akan merasakan sensasi yang benar-benar nyata. Anda seolah bisa benar-benar merasakan ketegangan dan ngeri yang nyata ketika membaca bagaimana alur cerita tersebut. Meski ditulis dengan bahasa sederhana namun gambaran kejadiannya begitu jelas hingga bisa membuat yang membaca takut.

Kalau anda takut dengan cerita-cerita hantu maka sebaiknya anda tidak membaca cerita ini. Takutnya anda akan ingat terus sehingga bisa mengganggu dan membuat anda sendiri tidak nyaman. Namun, bagi anda yang suka dan merasa tertantang bisa segera menyimak bagaimana kisah sebenarnya. 

Dibagikannya kisah ini diharapkan bagi rekan pengunjung semua - siapapun itu - yang ingin membaca kisah hantu menyeramkan bisa lebih mudah menemukan karya yang diinginkan. Mungkin karya cerpen horor berikut bukan yang paling bagus tetapi paling tidak bisa menambah referensi kita semua. Sekarang kita baca saja kisah selengkapnya di bawah ini.

Jalan Keramat
Cerpen Oleh Irma

“Lewat sana saja yang dekat”, pinta Tono kepada Hadi. “Eh, jangan lewat sana, aku lebih baik jalan memutar saja!”, teriak Hadi. Hadi memang sudah pobia dengan jalan yang satu itu, bagaimana tidak, ia pernah melihat hantu di jalan itu.

Keramat adalah nama jalan yang sangat menakutkan bagi Hadi. Kala itu adalah malam jumat ketika ia harus lari tunggang-langgang meninggalkan sepeda motornya di selokan. Saat itu ia baru kembali dari rumah saudara, tiba-tiba begitu masuk jalan itu motor yang dikendarainya berhenti.

Setengah jam coba ia hidupnya ternyata motor tidak bisa hidup, setelah dilihat ternyata bensin habis. Ia pun terpaksa mendorong motor itu sampai kios terdekat.

Belum sampai di kios tiba-tiba motor yang ia dorong terasa begitu ringan, seketika itu juga ia menoleh ke belakang, “astagfirullah!!”, ia berteriak. Ia melihat sosok tinggi besar berwarna hitam ikut mendorong motornya. Sontak Hadi langsung melepaskan motornya dan berlari. Ia masih sempat melihat kebelakang ketika sorot bola mata merah seolah mengejarnya.

Semakin kencang ia berlari, hingga beberapa kali terjatuh. Kebetulan saat itu juga tidak ada satu orang pun di jalan itu yang ia temui. Akhirnya ia pun meninggalkan sepeda motor itu sampai pagi.

Itulah sebabnya ia menolak ajakan Tono untuk pulang melalui jalan itu lagi. “Kenapa sih, takut benar kamu!”, tanya Tono penasaran.  “Pokoknya kita memutar saja, kalau kamu mau lewat jalan itu silahkan sendiri”, ucap Hadi serius.

“Sudahlah Di, kita lewat sana saja, tenang kalau masalah preman pasti tidak ada yang mau kalau kamu sama aku”, ucap Tono meyakinkan sahabatnya. “Bukan preman, tapi hantu!”, jawab Hadi.
“Alah, apalagi hantu, paling juga hantu itu takut sama aku, sudahlah yuk!”, ucap Tono

Hadi pun tidak bisa menolak karena saat itu Tono yang membawa motor. Akhirnya mereka pun melintasi jalan keramat tersebut.

Perasaan Hadi semakin menjadi-jadi, rasa takut itu semakin besar ketika ia melihat jam menunjukkan tepat jam 6 sore. “Ini waktunya magrib Ton, persis sama kejadian aku!”, ucap Hadi pelan.

“Hush, sudah diam!”, jawab Tono membentak. Sebenarnya pada saat itu Tono sedang melihat bayangan penampakan yang tak lazim. Tetapi ia tetap tenang mengendarai motornya, ia tidak menunjukkan rasa gugup dan takut meski sebenarnya dalam hati ada rasa risih.

Penampakan yang Tono lihat itu sama dengan yang diceritakan oleh Hadi, tinggi besar berwarna hitam, ditambah tatapan mata merah menyala, ia benar-benar melihat dengan jelas karena ia tampak di depan jalan yang akan dilalui.

Saat mereka melewati bayangan tersebut tampak jelas mata itu mengawasi Tono dan Hadi. Kemudian Tono masih sempat melihat penampakan hantu tersebut di kaca spion motor, “aneh”, pikirnya dalam hati.

Sesampainya mereka di rumah Hadi, ia tidak menceritakan apa yang ia lihat di sepanjang jalan keramat tersebut. “Untung saja tadi kita tidak melihat apa-apa”, ucap Hadi.
“Ya, lain kali berpikir positif, santai dan tidak perlu panik, lagian disana kan banyak rumah, kalau ada apa-apa tinggal teriak saja sekuatnya”, ucap Tono.

Dalam benak Tono ia yakin jika ia menceritakan apa yang ia lihat maka Hadi pasti tidak akan mau lagi menuruti dia, apalagi untuk lewat di jalan itu.

Ke esokan harinya, Hadi sudah lebih berani, siang itu ia melintasi jalan tersebut sendiri tanpa ada rasa takut. Sesampainya di bawah pohon tua di tengah perjalanan ia baru sadar kalau setelah itu ada bau yang sangat menyengat seperti mengikutinya, bau bangkai.

“Ah, mungkin bau bangkai tikus”, ia tidak begitu berpikir yang aneh. Sesampainya di rumah ia pun sebenarnya masih mencium bau tersebut tetapi ia abaikan begitu saja.

Tono yang sudah dari tadi menunggunya pun bertanya kepada Hadi, “Hei, dari mana saja kamu ini!”, tanya Tono. “Dari depan”, jawab Hadi singkat

“Lewat mana, jalan keramat, sudah tidak takut kamu Had?”, tanya Tono

“Iya, enggak lah, kan siang juga!”, jawab Hadi sedikit sombong.

“Kalau boleh memberi saran, sebaiknya kamu tidak usah lewat jalan itu lagi”, ucap Tono menasehati. “Memang kenapa!”, tanya Hadi penasaran.
“Ada yang tidak suka sama kamu disana, buktinya, ia masih terasa sampai rumah”, ucap Tono
“Maksud kamu apa sih Ton!”, tanya Hadi semakin penasaran.

“Kamu mencium bau busuk tidak saat tadi lewat jalan itu?”, tanya Tono lebih lanjut.
“Oh, iya sih, memang kenapa?”, tanya dia lagi
“Bau itu mengikuti kamu sampai sini, coba deh kau rasakan!”, ucap Tono.

Benar, Hadi masih mencium aroma tidak sedap yang ia rasakan sejak dari jalan tadi. Ia pun mulai takut dan bingung. Tono pun langsung menyarankan kepada Hadi untuk mandi, mengambil air wudu dan sholat. 

Hadi yang ketakutan pun langsung menuruti perintah sahabatnya itu tanpa banyak bertanya lagi. Setelah selesai sholat kemudian Tono pun menceritakan apa yang ia lihat kemarin malam. Ia pun tak lupa mengingatkan Hadi agar memilih jalan lain.

--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Horor
Back To Top