Cerpen Remaja yang Singkat, Menggapai Mimpi

Cerpen Remaja yang Singkat Menggapai Mimpi - Melengkapi karya-karya terdahulu yang sudah lama kita baca kali ini kita tambah lagi koleksi yang ada dengan sebuah karya berjudul "menggapai mimpi". Karya ini memiliki kisah yang begitu unik karena ada kombinasi antara kisah inspirasi perjuangan menggapai kesuksesan dan juga masalah cinta.



Anda pasti terkejut bagaimana kisah tersebut dikemas dalam sebuah kisah yang apik. Adalah Krisna dan Maysa, dua sahabat yang akhirnya mampu menggapai mimpi yang selama ini tertanam dalam hati mereka. Kisah yang dimiliki oleh dua orang tersebut berakhir bahagia tidak seperti kisah cinta yang sudah banyak kita ceritakan.

Dalam cerita yang digambarkan cerpen ini, kita bisa mendapatkan pelajaran yang berharga. Pertama, sebagai seorang pasangan maka memang sudah sewajarnya jika kita saling mendukung dan tentunya saling sabar. Mengetahui kelemahan pasangan juga penting agar kita bisa selalu ada saat dia membutuhkan.

Begitulah, pasangan menjadi dewa penolong sekaligus menjadi sumber inspirasi, tenaga, semangat dan impian dalam meniti kehidupan yang lebih baik. Pokoknya cerpen remaja kali ini cukup menarik dan wajib dibaca. Sekarang kita baca saja langsung cerita selengkapnya di bawah ini.

Menggapai Mimpi
Cerpen Oleh Irma

Krisna dan Maysa adalah dua sahabat sejati, mereka berteman dari kecil hingga saat ini ketika mereka sudah remaja. Ada yang berbeda di persahabatan mereka kali ini karena saat ini mereka sudah mulai mengenal cinta.

Ada rasa cemburu, isi, dan bahkan perasaan saling menghianati tetapi ada satu yang tidka berubah sama sekali yaitu mimpi mereka menjadi sukses. Untuk hal yang satu ini mereka tak pernah selisih paham, selalu kompak menggapai mimpi yang mereka inginkan.

“Krisna, ingat pesan orang tuamu, apa kamu ingin mengulangi kesalahan mereka!” ucap Maysa. Saat itu Maysa sama sekali tidak ingin melihat sahabatnya terjebak dalam situasi yang sulit, apalagi hanya sekedar masalah cinta yang tak jelas akhirnya.

“Aku bukan cemburu, terserah jika kamu mau menemani aku sampai mati, aku suka tetapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah kamu sudah lupa tujuan kamu ke sini, ingat mimpi kamu”, teriak Maysa yang nasehatnya tidak didengarkan. “Memangnya salah mengerjakan dua hal sekaligus”, ucap Krisna membela diri.

“Salah, karena kamu sudah terbukti tidak mampu melakukannya. Kamu masih ingat bukan saat dulu menjelang ujian SMP!”, ucap Maysa dengan nada serius, “dulu masalah cinta, dan sekarang akan diulang lagi!”, tambahnya.

Kata orang, hidup adalah pilihan, begitulah kenyataan yang dirasakan oleh kedua remaja tersebut. Segala keterbatasan yang ada membuat mereka suka tidak suka harus memilih mana yang harus didahulukan. Orang tua mereka tidak cukup kaya untuk memberi bekal uang atau pun harta. Yang menjadi bekal bagi mereka adalah cerita sedih kegagalan dipecundangi hidup.

Karena itulah, dalam situasi apapun Krisna dan Maysa pada akhirnya harus menyerah kembali ke jalan yang seharusnya. “Kita tidak boleh gagal, kita harus bisa sampai dan menggapai mimpi kita”, ucap Maysa.

“Dari pada kita pusing dengan hal-hal semacam itu, bagaimana jika kita ikut seminar saja?”, ajak Maysa suatu hari. “Malas ah, belajar terus”, jawab Krisna. “Eh, kamu tega membiarkan aku jalan sendiri, bagaimana kalau aku digoda cowok?”, jawab Maysa manja.

“Ah, kamu itu bisa saja kalau merayu, bagaimana kalau kita pacaran saja?”, ucap Krisna mengejek. “Ogah ah, pengangguran gitu, he ehe e..”, jawab Maysa sambil tertawa.

Melalui canda tawa kecil, mereka selalu bisa mengalihkan sedih dan kedukaan, karena sebenarnya, kebersamaan mereka sejak kecil telah menumbuhkan rasa sayang diantara mereka.

Berkat Maysa yang sabar dan berkat Krisna yang memiliki insting tajam, akhirnya mereka bisa membuktikan pada dunia bahwa mereka mampu. Menjadi pengusaha sukses kini telah di depan mata, bekal ketekunan mereka dalam belajar kini mereka sudah mulai berani menentukan arah.

“May, aku sudah bosan belajar terus, aku ingin mencoba kemampuanku!”, ucap Krisna suatu hari.
“Maksud kamu?”, jawab Maysa tak paham.
“Bagaimana kalau aku membuka usaha, apa menurutmu aku mampu?”, ucap Krisna serius.
“Tidak, kamu memang pandai, tapi kamu tidak akan mampu!”, ucap Maysa, “kecuali ada aku yang mendampingimu”, lanjut Maysa

“Ah, kamu selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan”, ucap Krisna.
“Hem, habis kamu manis sih”, balas Maysa
“Sudah ah, sekarang serius, kira-kira usaha apa ya?”, tanya Maysa
“Usaha kuliner, aku bisa mendampingimu sampai sukses, tapi ada syaratnya”, ucap Maysa
“Iya, aku juga berpikir begitu, usaha kuliner kan tidak pernah sepi pembeli”, ucap Krisna melanjutkan.

“Iya, kita buka restoran saja, atau café tepatnya”, mumpung masih ada satu tahun sebelum kita selesai kuliah”, ucap Maysa
“Apa hubungannya?”, tanya Krisna
“Kan, kamu enggak mengerti, kan kita bisa manfaatkan teman kampus sebagai target market”, jawab Maysa serius.

“Benar juga ya…”, jawab Krisna
“Tapi ingat, ada syaratnya kalau kamu ingin aku membantumu!”, ucap Maysa lagi.
“Idih, apaan sih, pakai syarat, memangnya apa syaratnya?” ucap Krisna penasaran.
“Kalau sukses dan bisa beli mobil kamu harus menikahi aku dan kalau tidak kamu boleh meninggalkanku?”, ucap Maysa dengan nada serius

“Ha.. ha…aha…”, Krisna hanya tertawa mendengar syarat dari sahabatnya itu.
“Ye, jangan gede rasa ya, aku hanya bercanda”, ucap Maysa melanjutkan.

Melalui perjalanan yang panjang, dengan goadaan, masalah dan hambatan yang cukup banyak, akhirnya Krisna dan Maysa bisa mendirikan sebuah usaha yang cukup maju.

Lima tahun berlalu, dengan Krisna sebagai pemilik dan Maysa sebagai tangan kanan, bisnis café mereka semakin maju. Bahkan omzet yang mereka hasilkan pun cukup besar. Sampai pada akhirnya Krisna pun teringat pada kata-kata yang pernah Maysa ucapkan.

“Dulu aku tidak pernah mengatakan iya atau tidak, tapi kebersamaan denganmu sangat berarti dan aku tidak mungkin bisa hidup tanpa kamu disisiku”, ucap Krisna pada suatu malam di tengah keramaian café.

“Tidak usah memintaku seperti itu, bahkan jika kamu tidak melamarku,  aku akan memaksamu menikahiku segera, karena aku tidak bisa hidup tanpamu”, jawab Maysa sembari tertawa.


--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Kehidupan
Back To Top