Contoh Cerita Cerpen Perpisahan, Selamat Tinggal Karma

Kembali lagi, kali ini adalah sebuah contoh cerpen perpisahan yang cukup singkat. Seperti pada judulnya, cerpen ini adalah sebuah kisah cinta yang berakhir dramatis. Kisah ini terjadi diantara dua orang sahabat yang sudah sangat dekat bahkan saling mengisi satu sama lain.



Malang, meski menjadi sahabat yang sudah cukup lama namun cinta ternyata tidak tumbuh dalam hati salah satu sahabat itu dan akhirnya perpisahan pun harus terjadi. Cerpen ini diharapkan akan melengkapi berbagai koleksi yang sudah ada. Dengan begitu bagi anda yang mencari cerita menarik bisa memiliki lebih banyak pilihan.

Karya cerpen tentang perpisahan ini ditulis dengan begitu sederhana dan mudah dipahami. Bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari yang sederhana dan sangat sedikit mengandung unsur arti tersembunyi, misalnya saja majas.

Mudah-mudahan, anda yang selalu mengikuti situs ini dengan setia bisa terhibur dengan tambahan kisah terbaru yang menyentuh hati tersebut. Jangan lupa, jika berkenan bagikan juga kisah ini ke beberapa teman lain melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter. Sekarang silahkan baca langsung cerita berjudul "selamat tinggal karma" tersebut di bawah ini.

Selamat Tinggal Karma
Cerpen Oleh Irma

Aku mengenal Karma sudah sejak setahun yang lalu. Ya, namanya sedikit aneh tapi itu memang nama asli pemberian dari orang tuanya – yang entah kenapa memilih nama keramat seperti itu.

Kisah pertemuanku dengan Karma datar, tak ada yang menarik, sampai akhirnya pada pertemuan kedua ia mampu meluluhkan hatiku yang membatu. “Namaku Karma, tapi jangan salah, aku baik dan tidak sombong”, tegurnya ketika berpapasan denganku untuk yang kedua kalinya.

Entahlah, kalimat yang terucap dari bibirnya saat itu terdengar aneh dan menggelikan, sampai-sampai aku tak dapat menahan tawa mendengarnya. Meski kami saling mengenal sudah sekitar satu tahun lebih, namun kedekatan hubungan antara aku dan Karma berjalan begitu cepat.

Hari kedua bertemu kami sudah saling kenal bahkan saling canda. Jelas sekali saat itu bahwa Karma menjadi mahluk yang sangat menarik di mataku. Bukan karena wajah yang rupawan tetapi aku rasakan perasaan di hati kami sama.

Melihat tatapan matanya, aku merasa bahwa saat itu Karma juga sedang kesepian dengan hati yang hampa. Terlihat dari cara ia memandang dan bertutur kata, ia begitu menebar kehangatan.

“Tak usah khawatir terlalu dekat denganku, aku hanya ingin berteman, aku tidak akan menyandra hatimu”, candaannya terdengar begitu serius dan itulah yang membuat hati ini meleleh.

Sebagai lelaki ia dengan jujur memberikan kehangatan dan sebagai wanita aku juga jujur dalam membuka diri. “Aku sangat senang berkenalan dengan kamu Karma”, aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaan hangat yang aku dapatkan dari tatap matanya.

Satu bulan lalu aku masih memiliki kekasih, pasangan yang menjanjikan aku sebuah rumah cinta yang abadi. Tapi aku memutuskan untuk meninggalkannya, “aku jenuh, bosan”, tanpa basa-basi aku memutuskan hubungan itu.

Bukan, bukannya aku player, tapi aku memang tidak mendapatkan perasaan yang membuat hatiku damai. Karena itulah aku memutuskan untuk meninggalkannya. Entah kenapa aku ingin mengenal dunia lebih jauh, mengenal sesuatu yang tidak tertata rapih, yang berantakan.

Satu bulan berlalu ketika aku melihat sosok Karma tepat di depan mejaku. Wajahnya begitu urakan, rambutnya sama sekali tak teratur, begitu juga dengan gerakan tangannya. “Sungguh mahluk Tuhan yang sempurna”, gumamku saat itu.

Jiwa petualang warisan leluhur, aku tak bisa menahan diri. Meski tak berani mendekat namun aku memberanikan diri melempar senyum padanya. Saat itulah terbentang kisah yang akan kita lalui.

Modalnya adalah perasaan yang sama, aku dan Karma merasa begitu dekat dan satu hati. Tanpa dibuat, kedekatan antara kami pun nyata dengan sendirinya. “Awas ya nanti malam kalau telat”, ucapku suatu sore mengingatkan Karma akan janjinya.

Ya, malam minggu, biasa kita habiskan untuk bersantai, kadang hanya duduk ditaman kota melihat anak-anak ABG yang berduaan, kadang mengisi absen ke bioskop kesayangan dan kadang berlama-lama nongkrong di café. Begitulah sampai akhirnya rindu pun menggumpal dalam dada kami.

“Satu hari enggak bertemu kamu ternyata kangen juga ya”
“Iya lah, aku gitu… eh, tapi kamu juga bikin aku kangen kok”
“Kita ini seperti orang pacaran saja ya”
“Lah, kita ini enggak pacaran ya, lalu yang kemarin itu?”

Tampak ia kaget mendengar perkataanku mengenai status kedekatan kami berdua. Ya, memang begitu yang aku rasakan. Antara aku dan Karma sama sekali bukan sebuah hubungan cinta kasih. Mungkin lebih tepatnya hanya hubungan timbal balik, atau persahabatan.

Tapi tidak begitu yang aku lihat dalam diri Karma. Malam itu, ketika kami selesai merayakan hari ulang tahun Karma, tiba-tiba ia memegang tanganku erat. “Terima kasih, engkau telah menjadi satu-satunya orang yang paling berarti bagiku”, ucapnya waktu itu.

Bukan kalimat yang ia ucapkan tetapi tatapan matanya, remasan tangannya memiliki arti yang begitu dalam. Aku tahu, dari sinar matanya ia ingin mengatakan padaku bahwa ia mencintaiku.

Sungguh, aku sama sekali tidak ingin melihatnya kecewa atau bersedih. “Karma…”, aku tak bisa melanjutkan kata-kataku, ku tatap matanya dalam sambil ku belai pipinya. Saat itulah timbul rasa bersalah pada Karma yang selama ini telah menjadi pendamping ku.

Sebuah perasaan cinta yang tak terungkap, dengan sangat terpaksa harus ia pendam. Sedangkan aku, hanya bisa termenung meratapi nasib.

Kini, orang yang telah begitu dekat, yang sangat menyayangiku dan selalu menyediakan waktu untukku harus menerima karma-nya mencintai gadis yang salah.

“Maafkan aku Karma, aku harus mengucapkan selamat tinggal. Semoga perpisahan ini bisa melahirkan pendamping yang jauh lebih baik dari diriku”, ucapku sambil meninggalkannya sendiri.


--- Tamat ---

Back To Top