Cerpen tentang Pengalaman Menarik, Salah Jalan

Cerita pengalaman yang ada dalam cerpen berikut cukup menarik. Cerpen ini mengisahkan sebuah pengalaman yang cukup lucu, unik dan pasti bisa membuat kita tersenyum. Kenapa haru cerpen pengalaman menarik?



Ya, karya cerita pendek yang ini juga dimaksudkan untuk melengkapi berbagai cerita cerpen yang sudah ada. Siapa tahu ada yang ingin mencari cerita-cerita seputar pengalaman hidup sehari-hari yang segar dan bisa menghibur.

Kisah dalam cerpen kali ini juga bersumber dari inspirasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kadang kala, kita kan dalam kehidupan sering melakukan kesalahan-kesalahan kecil, benar tidak? Jika diamati, kesalahan-kesalahan seperti itu sebenarnya cukup membuat kita tertawa, seperti yang dialami oleh Raka dan Dimas.

Ceritanya, dalam cerpen pengalaman berjudul "salah jalan" ini kedua pemuda itu mencari pekerjaan di kota besar. Nah, di kota itu rupanya penduduknya sudah sangat padat sehingga pemukiman memiliki begitu banyak gang sempit yang membingungkan. 

Ceritanya mereka berdua ya salah jalan, sampai akhirnya mereka mengalami kejadian yang sungguh di luar dugaan. Seperti apakah pengalaman mereka berdua, lebih baik kita baca langsung cerpen berikut ini.

Salah Jalan
Cerpen Oleh Irma

“Kalau di kota hati-hati, jangan asal jalan saja baca petunjuk arah, nanti tersesat!”, Raka masih ingat benar pesan kedua orang tuanya ketika ia hendak berangkat mencari kerja di Jakarta bersama Dimas.

Dan benar saja, karena belum paham dengan arah jalan serta gang di sekitar tempat tinggalnya Raka pun mengalami kejadian yang menakutkan, menegangkan sekaligus menggelikan.

Bagaimana tidak, suatu hari ketika Raka dan Dimas hendak melamar kerja mereka tersebut dan sampai di satu gang yang disana ada sebuah pesta pernikahan yang cukup besar. Begitu muncul di muka gang mereka langsung disambut oleh bagian penyambut tamu dan langsung mempersilahkan mereka masuk.

Dengan sangat terpaksa akhirnya mereka masuk, mengambil makanan dan ikut berpesta disana. Setelah selesai makan mereka pun bingung dan ketika melihat ada tamu yang berpamitan mereka pun langsung mengikutinya.

Tak ada amplop dan tak ada kado, ketika mereka hendak keluar akhirnya Raka mendapatkan ide dan menulis sepucuk pesan untuk kedua mempelai, “selamat ya, semoga kado yang aku kirim kemarin berkenan, dari Raka dan Dimas”, menggelikan tetapi mereka bisa sukses keluar dengan selamat.

Kejadian itu awalnya bermula ketika Raka dan Dimas mendapatkan informasi ada lowongan di pabrik dekat mereka tinggal. Karena sekalian ingin hemat maka mereka memutuskan untuk mencari pabrik itu jalan kaki.

“Raka, bagaimana, besok jadi kita mencari pabrik itu?”, tanya Dimas
“Iya dong, kita kan sudah hampir satu bulan disini dan belum dapat kerja, lagi pula uangku sudah menipis”, jawab Raka singkat.
“Memang kamu sudah menulis lamarannya?”, tanya Dimas lagi
“Belum, ya sudah kita tulis sekarang saja”, jawab Raka.

Mereka berdua pun akhirnya menyiapkan surat lamaran dan berkas-berkas lain yang dibutuhkan. Setelah sekitar 1 jam lebih akhirnya semua persiapan selesai.

“Sudah selesai, bagaimana punya kamu”
“Sudah, ini”
“Ya sudah, tapi besok kita mau melamar kerja dengan siapa, kita kan belum tahu daerah sini?”
“Kita sendiri saja, jalan kaki”
“Apa, jalan kaki?”
“Iya, jalan kaki, tenang saja sih, kita pasti bisa menemukan pabrik itu kok”

Tampak bahwa awalnya Raka sedikit ragu dengan keputusan mereka untuk jalan kaki. Tetapi karena Dimas memaksa maka akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi berdua jalan kaki. Segera setelah semua mereka siapkan, Raka dan Dimas pun memeluk bantal masing-masing dan tertidur pulas.

“Raka, Raka, bangun… aku diterima!” teriak Dimas membangunkan Raka yang masih sibuk membuat pulau.
“Ada apa sih Dim?”, Raka terbangun sambil mengusap-usap matanya, “aku masih mengantuk nih”, lanjutnya.
“Dasar pemalas, aku diterima di pabrik itu, besok aku mulai kerja!”, teriak Dimas kembali.
“Apa! Bagaimana bisa??”, jawab Raka kaget.

Ia langsung berdiri dan melihat berbagai berkas lamaran yang mereka letakkan di atas meja. “Ya ampun Dimas….! Woi bangun!!!”, teriak Raka ditelinga Dimas.

Dimas pun kaget lalu tersungkur di atas bantal miliknya. Ia kemudian membuka matanya dan melihat Raka duduk tepat dihadapannya. “Kamu ngigau ya, bangun-bangun cuci muka sana”, ucap Dimas.

Raka pun merasa bingung dengan apa yang terjadi. Samar-samar ia ingat bahwa tadi ia baru saja mendapatkan pengumuman bahwa dia diterima bekerja di sebuah pabrik. Melihat dirinya yang masih lusuh memakai kaos, sesaat kemudian ia pun sadar bahwa semua itu hanya mimpi. “Ah, ternyata hanya mimpi”, ucapnya lirih menahan kecewa.

Dimas pun lalu beranjak ke belakang membersihkan diri sementara Raka masih tetap duduk di pembaringan sambil melamun. Beberapa menit kemudian Dimas pun duduk disamping Raka.
“Sudahlah Raka, sabar, kita memang masih berjuang untuk cari kerja”, ucap Dimas, “sekarang masih jam 4 pagi, kita tidur lagi saja”, lanjutnya.

Paginya, Raka dan Dimas bangun lebih awal dan segera menyiapkan diri untuk melamar pekerjaan. Tidak seperti Dimas, Raka tampak tidak bersemangat untuk mengajukan lamaran kerja.
“Hei, jadi tidak?”
“Iya, jadilah…”

Mereka akhirnya berangkat jalan kaki. Mereka menyusuri gang sempit di sekitar tempat tinggalnya mencari pabrik yang mereka tuju. Sesekali mereka bertanya kepada penduduk setempat dimana letak pabrik yang sedang buka lowongan tersebut.

Diperjalanan mereka lebih banyak diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Sampai-sampai mereka tidak sadar bahwa mereka berputar dan melewati gang yang sama lebih dari dua kali. Saat mereka sadar dan sama sekali tidak mengenali gang yang mereka lewati akhirnya mereka pun mulai panik.

Saat itulah pikiran mereka sudah mulai kacau dan bingung jalan mana yang akan mereka lalui. Hari menjelang siang ketika mereka sampai dipersimpangan gang yang cukup sempit.
“Waduh, yang mana ini, kita pasti tersesat ini, yang kanan atau kiri Dim?”
“Ah, aku juga bingung, ke kanan saja biar berkah”

Mereka pun memilih jalan ke arah kanan menuju gang yang sangat sempit. Di gang itu tidak ada satu kendaraan pun yang bisa lewat. Untuk bersimpangan dua orang saja mereka harus berhimpitan. Di tengah gang mereka pun semakin ragu, tetapi mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan.

Mereka pun kaget, dari kejauhan terdengar suara musik yang begitu keras. “Seperti suara musik”, ucap Dimas. “Iya, seperti ada yang hajatan”, sambut Raka. Sampai di ujung gang mereka pun terkejut mendapati halaman rumah yang penuh dengan orang.

Beberapa orang yang melihat mereka keluar gang pun langsung mendatangi mereka. “Selamat datang, ayo silahkan masuk, langsung saja”, ucap orang itu. Ternyata, mereka sampai di sebuah acara pernikahan.

--- Tamat ---

Back To Top