Cerita Pendek Menarik, Kaos Kesayangan

Berbeda dengan kebanyakan cerpen sebelumnya, cerita pendek menarik ini menggambarkan bagaimana usaha seseorang dalam menjaga baju kesayangan yang memiliki kenangan indah yaitu sebuah kaos. Cerita dalam cerpen pendek ini disusun sedemikian rupa sehingga terlihat benar-benar menggambarkan kejadian nyata.



Kali ini kita akan disuguhkan dengan kisah yang sederhana namun cukup menghibur. Ceritanya ada seorang remaja yang bernama Awang yang memiliki kaos kenang-kenangan dari seseorang. Nah, rupanya ada kejadian yang tidak diharapkan terjadi pada kaos itu.

Hanya sebuah kaos, tetapi mengapa kaos tersebut menjadi barang yang sangat disayangi dan dijaga? Tentu ada kisah dibalik baju kaos tersebut. Seperti apakah kisahnya, apakah yang terjadi pada kaos tersebut?

Pasti penasaran jika kita hanya melihat sekilas bagaimana cerita ini. Nah, dari pada buang-buang waktu, lebih baik kita gunakan waktu luang kita untuk membaca cerpen berjudul "kaos kesayangan" tersebut. 

Kaos Kesayangan
Cerpen Oleh Irma

“Hei, awas jangan sentuh kaos itu ya”, teriak Mustofa. “Halah, kaos seperti itu di pasar tradisional saja banyak kok”, ejek Awang. Ya, tidak bisa dipastikan bahwa kaos tersebut adalah kaos yang mahal tetapi kaos putih polos bertuliskan “just do it” itu memang menjadi salah satu barang berharga milik Mustofa.

Mustofa sama sekali tidak peduli dengan ejekan Awang sahabatnya. Ia benar-benar tidak memperbolehkan Awang memang kaos tersebut. Awang pun mengerti, sambil terus melanjutkan setrika baju, Awang juga bercerita bahwa dia juga memiliki barang istimewa dalam hidupnya.

“Hei Mustofa, seperti kamu, aku juga punya sesuatu yang sangat pribadi dan tak ada satu orang pun boleh memegangnya, termasuk kamu sekalipun”, ucap Awang sambil terus menyetrika. Tampak tak tertarik, Mustofa menjawab dengan nada ejekan, anak seperti kamu, mana bisa!” jawabnya.

Panjang labar akhirnya Awang pun bercerita, “dulu aku pernah menemukan sebuah ponsel berkelas, tapi kamu tahu sendiri kan kalau aku adalah orang yang jujur”, ucap Awang. 

“Pasti kamu kembalikan ponsel itu?”, ucap Mustofa menanggapi. “Iyalah, jelas”, jawab Awang. “Tapi setelah kamu habiskan pulsanya bukan, dasar kamu kok!”, lanjut Mustofa. “Eh, tapi kan…” jawab Awang.

Entah siapa yang mengawali, keduanya tiba-tiba tertawa. Sambil terus melanjutkan pekerjaannya mereka terus saja bercanda. Sampai akhirnya Mustofa pun tertidur pulas.

“Mus besok kan kita dapat gaji, bagaimana kalau kita jalan-jalan”, ucap Awang. “Kan sudah lama juga kita tidak santai, benar kan”, lanjut Awang. “Hei, Mus… ah dasar muka bantal”, ucap Awang kesal melihat sahabatnya sudah tertidur pulas.

Setelah selesai membereskan semua pakaian, Awang pun langsung tidur. Ke esokan harinya mereka berdua sama-sama sibuk. Seperti biasa mereka bangun pagi dan bersiap berangkat kerja. Tetapi ada sesuatu yang tiba-tiba mengganggu pikiran Mustofa.

“Awang, Wang, kamu lihat kaos ku tadi malam tidak?”, tanya Mustofa kepada Awang.
“Enggak, memang kenapa, bukannya tadi malam kamu yang beresin?”, tanya Awang.

“Iya, tapi semalam aku lupa, entah dimana aku meletakkan kaos itu”, ucap Mustofa sambil membalik-balik tumpukan baju.

“Ya sudahlah, nanti saja kita cari, sudah siang nih, nanti kita terlambat”, jawab Awang

Mereka berdua pun akhirnya berangkat kerja. Sesampainya di pabrik Mustofa masih saja teringat kaos miliknya yang entah kemana. Pikirannya sama sekali tak tenang, bekerja pun ia tidak begitu konsentrasi. Sampai jam istirahat siang pun ia masih memikirkan dimana kaos kesayangannya tersebut.

“Sudah aku ingat-ingat tapi kok tetap lupa ya, pasti kamu yang menyembunyikan kaos itu, iya kan?” ucap Mustofa kepada Awang.

“Enggak, benar kok… buat apa aku menyembunyikan kaos itu”, jawab Awang serius.

Hari itu mereka menerima gaji, tapi Mustofa tidak segirang Awang. Setelah sebulan penuh mereka bekerja dan mendapatkan upah, Mustofa sama sekali terlihat biasa saja.

“Mus, nanti jangan pulang dulu, kita jalan-jalan yuk”, ajak Awang
“Enggak ah, aku mau mencari kaos ku itu”, jawab Mustofa menolak
“Ya ampun, kamu masih ingat kaos itu lagi, sudahlah tidak mungkin hilang, mungkin hanya terselip saja”, ucap Awang mencoba menenangkan sahabatnya.

Tetap saja, Mustofa tidak mau menerima ajakan Awang untuk jalan-jalan. Akhirnya Awang pun menyerah dan membatalkan keinginannya itu. Awang tidak jadi jalan-jalan karena ia memang tidak terbiasa jalan sendiri.

Akhirnya selesai kerja mereka pun langsung pulang ke rumah. sesampainya di rumah Mustofa langsung mengobrak-abrik lemari pakaian miliknya. Ia terus mencari dan terus mencari tetapi kaos putih polos itu tak juga terlihat.

Melihat sahabatnya yang seperti kebakaran jenggot akhirnya Awang pun tak tega. Ia pun membantu Mustofa mencari kaos tersebut. Sampai larut mereka berdua tak bisa menemukan yang dicari.

“Kok bisa ya hilang, padahal tadi malam aku bawa tidur”, ucap Mustofa
“Iya, aku juga heran, tapi benar Mus aku tidak tahu dan tidak menyembunyikan kaos milikmu itu”, ucap Awang meyakinkan temannya. “Eh, dikolong sudah kamu cari belum?” lanjut Awang.
“Sudah, hanya ada kardus-kardus”, jawab Mustofa tak semangat.

Sampai satu minggu Mustofa masih saja mencari dan terus mencari. Melihat sahabatnya yang masih saja mencari kaos itu Awang pun semakin penasaran dengan kaos tersebut. “Sebenarnya kenapa sih kaos itu begitu berharga untuk kamu Mus?”, tanya Awang

“Kaos itu adalah kenang-kenangan dari seorang gadis yang aku suka Wang”, ucap Mustofa
“Oh, pacar kamu ya, apa mantan?” tanya Awang
“Bukan pacar atau mantan tetapi gadis yang sama sekali tak aku kenal namanya”, jawab Mustofa
“Loh, kok bisa”, tanya Awang penasaran

“Kamu ingat waktu kita baru pertama kerja di pabrik, waktu itu aku pulang dengan baju kotor dan basah, bahkan kamu sempat mengejekku jatuh dari got”, ucap Mustofa
“Oh, iya, iya aku ingat, terus”, tanya Awang

“Ya, waktu itu ketika aku sedang jalan tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang dan melintasi genangan dan aku tepat disamping genangan itu, jadi air digenangan jalan tersebut mengotori semua bajuku. 

Saat itu aku marah-marah, dan melihat aku marah dan berteriak-teriak pengemudi mobil itu pun menghentikan mobilnya. Ternyata yang bawa mobil itu cewek.”, cerita Mustofa

“Ow…”, ucap Awang masih tidak paham dengan jalan cerita Mustofa
“Gadis itu sangat, sangat cantik, saat itu aku langsung suka padanya. Dan saat itu, melihat bajuku yang kotor ia langsung minta maaf dan memberikan kaos itu”, lanjut Mustofa

“Ow, jadi kenang-kenangan cinta yang terpendam?”, ucap Awang
“Iya, hanya kaos itu yang bisa membuat aku mengingatnya terus”, jawab Mustofa
“Kasihan kamu Mus, kalau begitu aku bersyukur kaos itu hilang agar kamu bisa beralih dan tidak memikirkan gadis yang tak jelas”, ucap Awang

Tetap saja Mustofa tidak bisa dengan mudah melupakan gadis itu, bahkan meski kaos pemberiannya pun sudah hilang.

Waktu terus berlalu, hari berganti begitu cepat sampai akhirnya suatu hari kaos itu kembali ditemukan oleh Awang. Tapi sayang, kaos itu sudah sobek dan rusak. 

Rupanya, kaos itu dibawa tikus ke dalam kolong tempat tidur, dibagian kanan sudah sobek, bagian atasnya juga. Akhirnya, dengan berat hati Mustofa membuang kaos yang sudah tak berbentuk tersebut.

--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Kehidupan
Back To Top