Cerita Nasehat Pendek, Ingat Jalan Pulang

"Ingat Jalan Pulang" adalah sebuah cerita nasehat pendek yang menggambarkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan. Pada waktunya, siapapun akan kembali pada-Nya sang pembuat hidup. Seperti halnya rumah, manusia akan pulang ke rumah seperti burung yang akan pulang ke sangkarnya.


Cerpen berikut jelas sekali menggambarkan sebuah nasehat hidup yang sangat berharga. Di dalamnya ada pesan bahwa manusia hendaknya tidak lupa akan hakekat penciptaannya, manusia tidaklah selamanya hidup di bumi ini.

Melalui cerpen nasehat yang pendek ini kita bisa mendapatkan hiburan sekaligus renungan yang sangat berarti. Kalau dilihat dari sisi cerita, cerpen berjudul ingat jalan pulang ini cukup menarik dan bagus. Dalam cerpen ini dikisahkan seorang lelaki yang bernama Muzakir dengan kehidupannya yang keras.

Memiliki keluarga yang kurang harmonis membuat dia lebih betah dan nyaman tinggal di penginapan milik Surti. Baginya, penginapan tersebut seperti rumah sendiri yang nyaman dan memberikan kedamaian. Seperti apakah kisah selengkapnya, mari kita baca saja ceritanya berikut!

Ingat Jalan Pulang
Cerpen oleh Irma

Sejauh apapun burung mencari makan ia akan pulang ke sarang. Kemanapun engkau bekerja, pasti engkau akan kembali ke rumah, dan manusia pun pada akhirnya akan pulang kepada sang pencipta.

Tetapi, sebagai hamba Tuhan Muzakir tidak seperti itu, saat langit mulai memerah ia menuju ke penginapan Surti. Bukan karena tidak punya rumah atau istri tetapi rumah dan istrinya tidak memberikan suasana rumah yang kebanyakan orang dambakan.

Di penginapan Surti ia mendapatkan suasana rumah, dihargai, dikasihi dan dirindukan. Surti adalah wanita malam yang menghabiskan waktunya untuk melayani orang. Ia mengorbankan hidupnya untuk membiayai anak-anaknya karena suaminya sudah lama minggat entah kemana.

Surti menjadikan penginapan miliknya sebagai rumah bagi siapapun yang kehilangan rumah seperti Muzakir. “Bang Muz, tumben jam segini sudah pulang”, sapa Surti suatu sore.

“Iya, aku sedang tidak bersemangat”, ucapnya pelan.
Surti tidak menjawab, ia hanya tersenyum simpul sambil menyediakan segelas kopi untuk tamu-nya tersebut.

“Bayangkan saja, hari ini pekerjaan begitu banyak, aku seolah menjadi mesin uang di perusahaan itu, aku mulai jenuh”, ucap Muzakir memaksa Surti untuk mendengarkan.

Surti yang mendapati seminggu ini cerita itu berulang, terlihat begitu bosan mendengarkan cerita Muzakir. “La itukan memang sudah pekerjaan Abang, benar bukan?”, jawab Surti. “Entah kenapa, akhir-akhir ini aku selalu ingin di rumah, menghabiskan waktu berlama-lama di tempat tidur, menikmati secangkir kopi buatanmu”, lanjut Muzakir.

“Seandainya engkau mau memberikan seluruh hartamu untuk secangkir kopi itu”, ucap Surti pelan. “Kopi mu cepat dingin Ti!”, tiba-iba suara Muzakir menyeruak di keheningan sore.

“Bukan kopi itu yang cepat dingin Bang, tapi hati mu yang sedang tidak karuan”, ucap Surti seolah kesal. “Kalau rindu rumah, kenapa tak pulang saja Bang, kamu kan punya istri dan rumah?” ucap Surti kemudian.

“Istriku adalah kamu Ti, dan penginapan ini adalah rumahku”, jawab Muzakir sambil menyeruput kopi yang mulai dingin. “Kalau aku istrimu, seharusnya aku tak menjadi istri orang lain juga kan Bang?”, ucap Surti protes.

“Ya, aku tahu Ti, pertemuan kita mungkin hanya sekejab, dan kebersamaan kita mungkin tak membuahkan rasa”, ucap Muzakir tegas, “tapi aku merasakan semua itu disini, bukan di rumah dengan istri yang selalu saja tak peduli”, lanjutnya.

“Sampai kapan Bang, manusia harus punya rumah, suatu saat mereka harus pulang”, ucap Surti dengan menatap tajam ke arah Muzakir. “Ah, kamu tidak tahu seberapa muak aku dengan kata itu Ti”, jawab Muzakir.

“Sesungguhnya aku iba melihatmu seperti ini bang”, ucap Surti. “Jangan kau gadaikan seluruh waktumu, jangan kau habiskan seluruh waktumu di jalan. Pulanglah bang, bangun tempat peristirahatan mu sendiri!”.

Muzakir terus terdiam, ia memutar-mutar cangkir yang ia pegang. Terlihat jelas ada sesuatu yang ingin ia lemparkan sejauh mungkin. Sesekali, di sela kesibukannya melayani tamu, Surti melirik ke wajah Muzakir.

Terlihat beberapa warna putih menyembul di kepala sosok lelaki yang sedari tadi duduk di warungnya. Warna itu menyadarkan Surti bahwa sebenarnya Surti dan juga Muzakir pelanggan setianya itu sudah mulai renta.

“Kamu bisa membuang setiap sedihmu disini Bang, tapi rumahmu bukan disini”, ucap Surti lagi. “Jangan lupa jalan pulang Bang, ingat kita akan mati”, ucap Surti serius.

Tiba-tiba Muzakir menatap tajam wajah Muzakir. Ada bara api yang memancar disana, sungguh itu kali pertama Surti melihat pancaran mata Muzakir yang memerah.

Mendapat tatapan mata itu Surti pun tiba-tiba gundah. Ia takut perkataannya tadi membuat lelaki tua dihadapannya meradang, marah. Perlahan ia pun menunduk.

“Aku tahu Ti, aku tidak akan lama lagi. Tapi tidak bolehkah aku memilihmu menjadi istri tempatku berpulang, tidak bolehkah aku menganggap penginapan ini sebagai rumah pribadiku?” ucap Muzakir seolah memohon.

Belum sempat Surti menjawab perkataan Muzakir tiba-tiba lelaki tua itu tersungkur ke tanah. Ia jatuh tertelungkup dengan mulut bersimbah darah, pulang menuju sang pencipta.

--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Religi
Back To Top