Berawal dari Kamera Butut - Contoh Cerpen Paling Singkat

Rata - rata cerpen di sini sebenarnya tidak terlalu panjang namun masih ada saja yang mencari contoh cerpen paling singkat. Tapi tidak apa-apa, untuk anda yang sedang mencari karya cerita pendek yang tidak terlalu panjang anda bisa mencoba melihat cerpen berikut.



Cerpen berjudul "berawal dari kamera butut" berikut ini merupakan cerpen yang sangat singkat. Cerpen ini terdiri kurang dari 1000 kata, jadi hanya sekitar satu atau setengah halaman. Anda yang ingin mendapatkan bacaan seperti itu bisa mencoba membacanya. 

Yang terpenting, karya cerpen tersebut memiliki kisah yang cukup menarik. Cerpen ini - yang bisa dikatakan sebagai cerpen pengalaman - berisi kisah seorang remaja dan kehidupannya yang berakhir cemerlang. Di masa muda, berkat hobi yang dimiliki Dina akhirnya memiliki bisnis yang menjanjikan.

Tapi tentu saja kisah dalam cerpen singkat tersebut tidaklah mulus dan lurus saja. Tentu ada hal yang merupakan suka duka yang ia alami. Dari pada hanya melamun dan penasaran dengan kisah tersebut lebih baik luangkan waktu untuk membaca kisahnya berikut.

Berawal dari Kamera Butut
Cerpen oleh Mandes

Hari begitu cerah, semilir angin kemarau begitu terasa menyejukkan. Daun menguning yang jatuh diterpa angin membuat suasana sekitar kampus begitu dramatis, apalagi ditambah dengan sayup-sayup pantulan suara kendaraan yang saling berkebyaran.

Dengan sesekali mengusap dan membersihkan kamera tua di tanganku, aku duduk sendiri menghabiskan sisa waktu sebelum mata kuliah kedua di mulai. Bangku taman yang warna cat-nya mulai memudar seolah menambah keceriaan yang ku rasakan. Hari ini adalah hari dimana aku benar-benar bahagia, setelah sekian lama aku berjuang, akhirnya aku sampai di semester akhir dan sebentar lagi wisuda.

Bukan hanya itu, selama masa kuliah aku pun sukses merintis karir yang awalnya hanya iseng sampai membuahkan hasil yang lumayan. Bisnis sampingan rental kamera yang aku jalankan selama ini memberikan penghasilan yang cukup untuk biaya kuliah dan kehidupanku selama belajar.

Setelah kuliah, sudah jelas arah yang akan aku tempuh, aku akan melanjutkan bisnis kecil ini, menjadi seorang wirausaha dengan bekal ilmu yang aku dapat. Kebetulan aku kuliah mengambil jurusan manajemen bisnis, jadi sangat cocok untuk bekal usahaku tersebut.

“Sudah, tak usah kau usap-usap terus kamera butut itu, tak kan ada jin yang keluar dari sana Dinda”, ucap Kanya membuyarkan lamunanku. Begitulah, banyak teman yang masih sering iseng dan cemburu melihat aku dan kamera tua ini, bahkan sahabatku Kanya sekalipun.

Aku menjalani hari-hari kuliah selama ini bersama Kanya, ia adalah embun yang selalu menyejukkan hatiku. Ia adalah pagar yang selalu melindungiku dari tanaman liar, bahkan pemburu sekalipun.

Sejak pertama kuliah, aku berteman dengan Kanya yang kebetulan memiliki hobi yang sama denganku yaitu fotografi. Bedanya, Kanya dengan senjata andalannya kamera dslr dan aku dengan kamera butut peninggalan ayah.

Ditahun kedua kami kuliah akhirnya aku memutuskan untuk berbagi pengalaman dan mencoba mencari uang tambahan dan Kanya dengan ikhlas membantuku. Kanya mulai memperkenalkanku dengan berbagai informasi seputar kamera, bahkan tentang pengertian kamera yang selama ini aku abaikan.

Dari banuan Kanya, akhirnya aku banyak mengenal berbagai jenis kamera, mulai dari kamera canon, kamera slr dan bahkan isu tentang kamera tembus pandang sekalipun. Pengetahuan semacam itu ternyata sangat penting ketika aku memutuskan untuk berbisnis di bidang fotografi.

Awalnya aku menjual jasa sebagai tukang foto, hasilnya untuk biaya kuliah dan aku tabung. Secara rutin aku mulai menambah kamera yang kumiliki. 

Beberapa bulan sekali aku semakin rutin berkunjung ke toko kamera di sekitar kota, kebetulan, saat itu harga kamera digital tidak terlalu tinggi, tak terasa aku memiliki beberapa kamera yang bagus.

Juru foto pun mulai beralih, kini selain jasa tersebut aku juga menyediakan jasa sewa kamera untuk berbagai kebutuhan. Kebanyakan konsumennya yaitu teman kuliah dan anak-anak kuliah dari jurusan lain.

Berkat kerja keras dan bimbingan dari ilmu yang aku dapatkan di kampus, aku mempu menjalankan usaha sampingan tersebut dengan baik. Pada tahun ke-empat, akhirnya bisa dikatakan bisnis itu sudah cukup mapan. Setiap bulannya aku mampu mendapatkan puluhan juta dari jasa sewa dan juga juru foto.

“Din, masih ada waktu luang tidak?” tanya Kanya seusai perkuliahan berlangsung. “Huh, hari-hari seperti ini sibuk benar, badan serasa hancur lebur, apalagi harus lembur skripsi terus…”, jawabku mengeluh pada Kanya. “Jadi, ada waktu tidak? 

Ditanya apa jawabnya apa kamu ini…” ucap Kanya sedikit sewot. “Eh, iya, ada apa memang?”, jawabku. “Ada satu order prewedding, minta kepastian sore ini, bagaimana, masih ada waktu?” ucapnya menjelaskan. 

“Oh, ada-ada, untuk hari apa memang?”, jawabku semangat. “Uh, dasar, kalau masalah uang aja langsung semangat dia!” lanjut Kanya mengejek. “Jadwal disesuaikan, harga ngikut…”, lanjut Kanya menjelaskan.

Begitulah, Kanya adalah salah satu tangan kanan yang memberikan banyak sekali job. Hampir setiap minggu dia bisa mendatangkan pelanggan baru untukku, dan setelah itu mereka pasti akan langsung menjadi pelanggan setia. 

Untuk acara apapun mereka pasti menghubungiku, ulang tahun anak, acara sekolah adik, perpisahan keponakan dan sebagainya.

Bahkan sekarang aku sudah memesan aplikasi kamera untuk bisnis ku tersebut. Dengan aplikasi tersebut pelanggan dapat dengan mudah memesan jasa apapun dari usaha yang aku jalankan, menarik bukan?


--- Tamat ---

Back To Top