Perlengkapan Bayi untuk Mantan - Cerpen Singkat

Jangan heran, kalau kalian sering berkunjung ke situs ini pasti kalian akan mendapatkan banyak cerpen singkat yang bagus-bagus dan paling baru. Cerpen disini rata-rata paling panjang hanya 2 halaman kertas folio, kebanyakan satu lembar sampai satu lembar setengah.

Seperti cerpen singkat berjudul "perlengkapan bayi untuk mantan" berikut ini. Cerpen ini hanya terdiri dari kurang lebih 600 kata, sekitar 1.5 lembar. Meski pendek namun ceritanya tetap menarik dan sangat menghibur. 

Seperti terlihat pada judul, karya berikut mengisahkan seseorang yang sepertinya harus memberikan sebuah pemberian, sebut saja kado, yaitu perlengkapan bayi. Kado tersebut akan diberikan kepada mantan kekasih yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.

Kalau dilihat dari inti ceritanya, cerpen yang cukup singkat tersebut menggambarkan kisah yang sangat sedih. Tetapi apakah hanya ada kesedihan dalam kisah tersebut?

Ya, kalau berbicara mengenai mantan memang rasanya macam-macam. Namun pada cerita kali ini kita akan mendapatkan kisah yang sedikit berbeda. Seperti apa ceritanya, lebih baik kita baca langsung di bawah ini.

Perlengkapan Bayi untuk Mantan
Oleh Mandes

Di balkon lantai tiga rumahku, aku terpekur seorang diri memandang bulan yang tak tampak. Gemercik sisa air hujan terdengar sayup masih menetes di atap rumah. Angin malam tak mau meningalkanku, mengitari dan mengelilingi tubuh yang dibalut jaket tebal.

Anganku menerawang, tak tentu arah. Sesekali ku dengar suara binatang malam menertawaiku yang duduk sendiri. Entahlah, aku memang sedang tidak berselera, perasaan hati ini begitu gelisah, putus asa dan tiasa semangat. Kaki yang biasanya begitu ringan pun terasa begitu berat ku gerakkan.

Masih ku ingat jelas kejadian tadi pagi yang mampu meruntuhkan seluruh hariku. “Selamat pagi, apa benar ini rumah Rudi?” ucap seorang tamu yang tak aku kenal. “Iya, benar”, jawabku singkat kala itu.

Tanpa basa-basi pria itu langsung mengutarakan maksud kedatangannya. “Ini mas, saya diutus oleh Tania untuk menyampaikan undangan”, ucapnya sambil menatapku. “Apa…undangan apa, dari siapa?” jawabku gugup. “Tania mas, dia akan menikah, katanya Mas Rudi adalah sahabatnya”, pria itu pun menjelaskan.

“Bukan hanya sahabat”, pikirku dalam hati, “aku adalah kekasih yang ia tinggalkan” lanjutku bergumam. Setelah undangan itu ku terima pria itu pun langsung mohon diri, pergi meninggalkan hatiku yang hancur.

Tania adalah satu-satunya sosok wanita yang pernah membuatku nyaman, ia pernah menjadi kekasih sebelum akhirnya ia pergi tanpa kabar. Baru sekitar satu bulan kami putus komunikasi, terakhir ia berkata bahwa ia akan pergi ke luar kota dan tidak ingin aku mencarinya.

Pedih memang, tapi ini sudah menjadi bagian hidup yang harus aku jalani dan harus aku lalui. Satu minggu lagi, aku harus hadir atau setidaknya memberikan ucapan selamat kepadanya. Ya, aku harus hadir kalau aku tidak ingin dianggap sebagai lelaki tak bermoral. Jelas dong, mantan kekasih akan menikah kok tidak hadir dan memberikan selamat.

Kadang aku mencoba mengabaikannya tapi ketika malam datang semua itu tetap menjadi beban dan membuahkan derita. “Maafkan aku Rud, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini”, masih ku ingat benar kalimat itu terucap dari bibirnya yang mungil. “Kenapa, kenapa harus begitu”, sebuah jawaban konyol yang seharusnya tak pernah keluar dari mulutku.

Harusnya aku tahu dari dulu bahwa apa yang terjadi pada kami adalah semu. Seharusnya aku mengerti bahwa ia hanya hiasan yang tak akan pernah aku miliki. “Kado apa yang harus aku berikan?” tiba-tiba pikiranku teringat akan hari pernikahan Tania yang tinggal beberapa hari lagi.

Entahlah, aku sama sekali tak punya ide apapun, sampai akhirnya ku ingat sahabatku Dian. Aku pun langsung menghubungi Dian, “Halo Dian, sedang apa, maaf mengganggu malam-malam begini…” ucapku. “Ada apa Rud, tumben sudah malam begini menelpon?”, jawabnya.

“Iya, aku mau tanya sesuatu, kalau kado pernikahan yang bagus apa ya?” aku melanjutkan. “Terserah, biasanya yang banyak ya perlengkapan bayi”, lanjut Dian. “Oh, yang lain kira-kira apa ya?” aku kembali bertanya pada Dian dan berharap ada jawaban lain.

“Terserah kamu sih, memang siapa yang mau menikah Rud?”, tanya Dian. “Anu, si Tania…” jawabku singkat. “Ow… maaf, maaf ya….”, jawabnya. “Iya tidak apa-apa, ya sudah, besok bantu aku cari kado buat dia bisa tidak?” pintaku pada Dian. “Oh, bisa-bisa…” jawabnya. “Ya sudah, besok aku jempur…”, jawabku.

Bersama Dian sahabatku akhirnya aku mencarikan kado perlengkapan bayi untuk mantan kekasihku. Sebenarnya aku tidak enak merepotkan Dian tapi hanya dia yang aku punya.

Setelah kesana kemari akhirnya kami mendapatkan apa yang kami cari, sebuah kado yang cukup besar yang berisi berbagai perlengkapan untuk bayi. Setelah selesai aku pun mengajak Dian untuk istirahat sejenak di café.

“Jadi merepotkan kamu nih…”
“Sudah, tidak usah sungkan Rud…”
“Iya, aku sering benar merepotkan kamu…”

“Eh, memang bagaimana sih kamu kok bisa pisah sama Tania?”
“Dia pergi, hanya bilang tidak bisa melanjutkan hubungan”

Entah kenapa tiba-tiba aku tersadar bahwa selama ini Dian selalu ada di sisiku. Aku pun merasa nyaman dan tenang jika ada dia. Dian selalu bisa membantu dan menjadi pengobat semua duka lara dan kesulitan. “Sudahlah Rud, kan masih ada aku, aku kan juga cantik sih?”, ucap Dian sambil tertawa.

Entah apa maksud Dian tapi aku benar-benar terhibur dengan adanya Dian. Kemudian, sebelum pulang aku pun meminta Dian untuk menemaniku ke acara pernikahan Tania esok. “Tenang, aku akan dandan yang cantik melebihi pengantinnya” jawab Dian sambil tersenyum.

Keesokan harinya, setelah sepanjang pagi menjalankan rutinitas seperti biasa aku menjemput Dian. Sesampainya di rumah Dian aku benar-benar terkejut melihat penampilan Dian.

“Sore Tante, Dian ada?”
“Iya, ada nak Rudi, silahkan masuk, Dian sedang ganti baju”
“Iya terima kasih Tante”

Setelah beberapa menit Dian keluar dari lantai atas memakai pakaian putih di balut selendang merah muda, begitu anggun, begitu cantik. “Itu benar Dian, cantik juga ya” gumamku dalam hati. “Eh…malah melamun, yuk berangkat” ucapnya.

Setelah berpamitan dengan orang tuanya kami pun berangkat. Tanpa canggung Dian menggandeng tanganku menuju mobil. Sesampainya di rumah Tania, Dian pun melakukan hal yang sama, bak sepasang merpati kami berjalan bergandengan tangan.

Aku sebenarnya canggung tetapi ketika kulihat Dian sepertinya dia begitu senang dan aku pun akhirnya mencair. Kado telah diberikan, akhirnya setelah beberapa kali diajak foto aku dan Dian berpamitan.

Di perjalanan pulang, Dian tetap sama, bersandar di bahu, dan entah mengapa aku pun merasa nyaman dan tenang.


--- Tamat ---

Tag : Cerpen
Back To Top