Susahnya Mendapatkan Beasiswa, Cerpen Pengalaman Pribadi

Sebuah cerpen atau lebih tepatnya cerita pengalaman menarik yang ditulis berdasarkan inspirasi kejadian nyata sang penulis. Apakah kisah yang diangkat cukup menarik, anda pasti penasaran dengan isi ceritanya bukan?

Mungkin karya ini tidak begitu bagus namun bisa memberikan hiburan dan juga bahan pembelajaran kita semua. Ada hikmah yang bisa kita ambil, ada nasehat yang bisa kita renungkan dalam cerpen berjudul

"Susahnya Mendapatkan Beasiswa" tersebut. Lalu apa yang bisa kita ambil dari kisah cerpen seperti ini? Ada, pertama kita bisa mengetahui bahwa untuk sesuatu yang penting dan berharga ternyata memang tidaklah mudah untuk diraih.

Semua harus diperjuangkan, bahkan untuk sekedar beasiswa sekalipun. Ya, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa kita dapatkan dengan gratis, harus ada pengganti yaitu sebuah usaha yang setidaknya harus dilakukan.

Cerpen berikut memberikan pesan kepada kita bahwa sebaiknya kita jangan takut untuk berusaha sesuatu yang baik dan bermanfaat. Jangan pikirkan hasilnya, biarkan hasil menjadi buah dari kerja keras dan usaha yang kita lakukan.

Penulis cerpen tentang pengalaman berikut ini adalah Gunarto. Beliau mencoba menghadirkan sebuah karya cerita yang menggambarkan sebuah pengalaman berharga.

Bahasa yang digunakan dalam cerita berikut sangat sederhana, menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami maknanya. Dalam alur-nya, ada sedikit ketegangan, ketidakpastian, dan putus asa. Dari pada penasaran lebih baik kita baca saja kisah selengkapnya di bawah ini.

Susahnya Mendapatkan Beasiswa
Cerpen Pengalaman Oleh Gunarto

Susahnya mendapatkan beasiswa tapi susah. Itulah salah satu petikan cerita ku kali ini. Saat aku mengajukan beasiswa pemda tetapi begitu su,lit aku mendapatkanya, prosesnya sangat rumit.

Hari Sabtu, Minggu yang lalu aku bertanya kepada salah satu teman ku yang bersekolah di salah satu politeknik negeri di salah satu kota ku. Aku bertanya kepadanya bagaimana cara mendapatkan beasiswa pemda dengan baik dan benar.

Tanpa menunggu lama aku langsung bertanya kepadanya yang kebetulan pada saat itu dia baru saja pulang kuliah karna liburan.

Dia adalah teman sekaligus sahabatku saat aku dan dia duduk di bangku SMA. Hanya saja dia lebih beruntung dari ku karena dia selepas lulus SMA langsung bisa melanjutkan kuliahnya sedangkan aku adalah anak petani miskin yang tidak punya apa apa untuk dapat melanjutkan sekolah ku sampai perguruan tinggi.

Selepas SMA aku langsung bekerja selama dua tahun ini. Aku baru menyadari bahwa sekolah itu lebih baik pada saat ini dari pada aku harus bekerja keras tetapi hasilnya belum tentu memuaskan.

Datang kerumahnya lah aku, dan bertanya kepada sahabatku itu. Aku bertanya bagaimana mendapatkan beasiswa pemda dan bagaimana cara mengurusnya. Teman ku itu namanya Febi.

Aku: “Feb bagaimana si cara mendapatkan beasiswa di sekolah kamu.
Febi: “Maksutnya beasiswa yang seperti apa.”

Aku: “Ya beasiswa, dan jenis jenisnya.”
Febi: “Kalau beasiswa di kampusku itu banyak, la kamu mau memilih atau ngambil yang mana aku siap membantu.

Aku: “Beasiswa Pemda Feb.”
Febi: “Oh beasiswa pemda.” Kalau beasiswa pemda itu agak ribet mengurusnya tapi kalau daprt ya lumayan.
Aku: “Bagaimana mengurusnya Feb.”

Febi: “Pertama kamu harus benar benar anak petani dan bapak kamu ikut gabungan kelompok tani. Kemudian kamu harus nembusin penyuluh pertanian setempat, kemudian penyuluh itu merekomendasikan kamu untuk mendapatkan surat dari badan penyuluh pertanian baru kamu mengurus surat itu kamu urus sendiri ke kantor badan penyuluh pertanian yang ada di pemda kabupaten.

Setelah itu kamu memberikan kepada penyuluh tadi agar memberikanya kepada kantor penyuluh pertanian yang ada di kecamatan agar mendapatkan stempel dan tanda tangan ketua badan penyuluh pertanian di kecamatan. Setelah itu baru kamu bisa mengajukan berkas kamu ke kampus ku, oya jangan lupa juga sebelumnya kamu harus daftar on line juga agar mudah mengurus administrasinya.

Aku: “Wah ribet juga ya Feb.”
Febi: “Ya memang begitulah keadaannya, aku dulu juga begitu mengurusnya susah tetapi aku tetap semangat demi kuliah ku biar bisa meringankan beban orang tua.

Aku: “Oh jadi kamu kuliah dapat beasiswa.”
Febi: “Ya iyalah, kan biar ringan.

Setelah kami berdua berbincang bincang aku lantas pulang dan menuju kabupaten untuk meminta atau mengambil surat rekomendasi beasiswa dari badan penyuluh pertanian dan kehutanan. Aku mengendarai motor dengan teman ku. Panas panasan keujanan tidak ku hiraukan demi beasiswa itu.

Setelah aku sampai di badan penyuluh pertanian aku langsung masuk dan meminta surat itu kepada bapak kepala badan penyuluh pertanian itu. Tapi apa yang terjadi, bapak itu malah meminta surat rekomendasi dari penyuluh setempat sebagai syarat jika ingin mengurus surat rekomendasi dari badan penyuluh pertanian itu. 

Tapi memang pada saat itu aku lupa tidak meminta surat dari penyuluh pertanian setempat. Akhirnya aku pulang kembali dan meminta surat dari penyuluh pertanian setempat, dan alhamdulillah diberikan aku surat itu. Kemudian aku lantas kembali ke pemda di badan penyuluh pertanian.

Sesampainya disana tidak ku sangka kepala badan penyuluh pertanian itu sedang pergi dan sekretarisnya meminta aku agar menunggu. Lama kami menunggu 3 jam kemudian bapak kepala badan penyuluh pertanian itu datang dan kami lantas masuk kedalam ruangan nya dan meminta surat rekomendasi darinya.

Tetapi akhirnya alhamdulillah dia memberikan nya dengan sukarela. Karena persyaratan nya telah kami berikan. Kami pun setelah mendapatkan surat rekomendasi itu kami lantas pulang. Dengan muka gembira aku berjalan pulang. Tinggal pengajuan berkas pikir ku.

Setelah aku pulang aku langsung mempersiapkan semua berkas yang di perlukan untuk pengajuan ke kampus Politeknik tersebut tetapi saat aku bertanya kepada Febi melalui telpon Febi menjawab juga agar aku mendaftar secara online juga.

Saat itu aku berpikir aku kan tidak bisa online. Dari sana aku mengalami kesulitan kesulitan yang luar biasa hingga aku akhirnya menggagalkan niat ku itu. Itulah pengalaman ku.

--- Sekian ---

Demikianlah, cerpen pengalaman pribadi yang berjudul “susahnya mendapatkan beasiswa” telah selesai kita baca bersama. Semoga ada hikmah yang bisa kita ambil. Semoga menjadi inspirasi dan motivasi untuk kita bisa berusaha lebih baik lagi.

Jangan lupa, jika berkenan mohon untuk tidak lupa membagikan karya di atas kepada teman lain di media sosial seperti facebook, twitter dan lainnya.  Itu saja, jika masih ada cerita lain yang ingin dibaca silahkan lihat juga beberapa cerpen terbaru yang sudah disiapkan dibagian bawah.

Ada beberapa cerita menarik yang secara khusus sudah kami siapkan untuk rekan semua. Silahkan dipilih mana yang menarik menurut rekan semua. Jangan sungkan untuk menghubungi kami jika ada permintaan cerpen khusus yang ingin di baca. Sampai disini, selamat membaca!

Back To Top