Contoh Cerita Cerpen tentang Pemulung

Berikut ini merupakan contoh cerpen tentang pemulung yang tentu saja cerita di dalamnya memuat kisah seputar pemulung. Kisah cerita seperti ini biasanya sangat menyentuh hati dan sedih. Karena itu biasanya cerpen yang memuat kesenjangan sosial seperti ini banyak ditujukan sebagai sindiran, nasehat atau sekedar sarana mengingatkan untuk orang lain yang peduli akan sesama.

Sekaligus, kisah yang dituangkan juga bisa menjadi inspirasi agar kita lebih bersyukur atas apa yang kita miliki karena diluar sana masih banyak orang lain yang nasib dan kehidupannya lebih keras dari yang mampu kita bayangkan.

Cerpen ini bukan mengisahkan pemulung dewasa namun menceritakan seorang anak yang ayahnya pemulung dan ia juga harus bekerja sebagai pemulung demi membantu orang tuanya. 

Sedikit saya ceritakan mengenai kisah tersebut, diceritakan ada seorang anak yang masih usia sekolah yang orang tuanya bekerja sebagai pemulung. Diantara teman lain, anak tersebut termasuk masih lebih beruntung karena meski orang tua dan dirinya harus bekerja sebagai pemulung ia masih bisa bersekolah. 

Ada sisi kepedihan yang coba diungkapkan penulis namun juga ada gambaran semangat yang begitu besar yang disampaikan. Seperti apa kisah dalam cerpen tersebut? Sebelum membaca cerpen tersebut lebih baik kita lihat juga beberapa kisah lain seperti di bawah ini.

1) Contoh cerpen tentang pemulung
2) Cerpen seorang pemulung
3) Kisah hidup seorang pemulung
4) Kisah seorang pemulung
5) Teks eksposisi tentang anak pemulung

Titik berat dari kisah ini sebenarnya bukan mengenai ketidakmampuan seorang pemulung namun lebih kepada sisi lain yang mereka alami. Terlihat, inti cerita sebenarnya fokus pada kehidupan anak-anak yang tak lepas dari kata bermain, bahkan untuk anak pemulung sekalipun. Ingin tahu cerita selengkapnya, baca langsung berikut!

Teman Sang Pemulung
Cerita Oleh Gunarto

Pagi itu aku berangkat pagi pagi karena ingin berebut Koran dan kardus bekas yang biasa aku kumpulkan. Aku berangkat pagi pada pukul 3 malam karena dipukul ini orang belum banyak yang berdatangan ke tempat pembuangan akhir sampah. Aku sendiri adalah pemulung barang barang bekas. Nama ku Fendi. Aku saat ini duduk di bangku smp pelita harapan di salah satu kota kecil di jawa.

Aku berasal dari keluarga tidak mampu, ayahku adalah pemulung seperti ku dan aku sendiri mengikuti jejak ayahku sebagai pemulung. Ibuku sendiri adalah buruh cuci yang setiap hari selalu menghampiri tetangga yang mau mencucikan pakaiannya karena mereka tidak mampu untuk mencuci sendiri pakaiannya.

Aku mengerti dengan keadaan orang tuaku jadi aku sadar akan kewajiban ku kepada orang tua ku dan aku juga sadar harus juga menyelesaikan kewajiban ku sebagai siswa. Aku bukan lah anak yang cengeng yang selalu bergantung kepada orang tua dan selalu mengandalkan orang tua untuk mencukupi kebutuhan kami sendiri.

Setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah aku selalu memunguti sampah sampah plastic dahulu atau bahasa lainya aku memulung. Kebetulan sekolah ku masuknya sekolah itu jam 7 pagi jadi aku bisa memulung itu dari jam 4 pagi sampai jam 6 pagi. Sesudah memulung baru aku menunaikan tugasku sebagai pelajar dan bersekolah.

Aku tidak pernah mengeluh dengan keadaanku sebagai pemulung aku selalu optimis dengan apa yang ku rasa dan aku lakukan selama itu baik dan halal. Setiap hari aku memulung disaat orang sedang terlelap tidur aku sudah berangkat pagi pagi untuk mencari rizki.

Pernah suatu ketika saat aku sedang memulung , saat itu tepatnya jam 6 pagi sesudah aku memulung dan pulang menuju rumah, aku melintasi lapangan bola foli., kebetulan aku suka dan sangat senang dengan olahraga bola foli.

Sejenak aku terdiam dan berdiri melihat anak anak seumuran ku aku ingin sekali bermain seperti mereka tapi aku sadar aku tidak mungkin bermain dengan mereka karena kesibukan dan mereka juga tidak mau bermain dengan ku karena aku miskin dan anak pemulung.

Tapi kenyataanya tidak demikian karena kebetulan pada saat aku berdiri di dekat lapangan itu tiba tiba bola voli itu terlempar di dekatku dan aku ambilkan. Lalu aku peragakan apa yang sudah pak guru ajarkan tentang teknik teknik bermain bola voli yang baik dan benar.

Langsung aku lempar bola itu ke dalam lapangan dengan teknik bermain yang sudah pak guru ajarkan kepadaku saat aku sekolah. Dan saat bola itu masuk kedalam lapangan anak anak yang sedang bermain bola itu, melihatku bahwa aku yang mengambilkan dan melemparkan bola itu.

Anak anak itu sontak mendekatiku, aku kira mereka marah kepadaku karena sudah ikut ikutan bermain bola tetapi setelah mendekat mereka bilang :
“Wah kamu, cara melempar bola itu bagus, dari mana kamu belajar teknik seperti itu.”

Lantas aku menjawab “ pak guru yang mengajariku.”Lalu anak anak itu malah mengajaku bermain, padahal aku harus pulang dan berangkat sekolah.
“Teknik kamu bagus, apa kamu mau mengajari kami.” Tanya anak anak itu.

Aku pun menjawab “ iya aku mau, kita belajar sama sama kan kita juga masih sama sama belajar.”
“Oke deh, tapi tetap ajari aku ya karena permainan kamu kan lebih baik dari kami”. Jawab anak anak itu.
“Oke siap.” Jawab ku.

Aku lantas bermain dengan mereka dan aku sampai sampai lupa waktu bahwa saat itu sudah menunjukan pukul 7 sudah saatnya aku harus pulang dan berangkat sekolah. Aku sampai lupa kewajibanku karena aku sangat senang bermain dengan anak - anak yang aku kira menganggapku remeh tapi ternyata mereka sangat baik.

Aku pun lantas berhenti bermain dan meminta izin kepada mereka karena aku harus sekolah dan pulang. Tetapi akhirnya mereka mengerti dan mereka malah mengajaku lain kali untuk bermain dengan mereka lagi.

Aku pun langsung bergegas pulang dan berangkat sekolah. Sejak saat itu aku selelu bermain dengan anak-anak yang sebelumnya tidak aku kenal tetapi pada saat ini telah menjadi teman karib ku.

… Sekian …

Benar tidak, cerita dalam contoh cerpen khusus tentang pemulung di atas memang lebih menggambarkan masa kehidupan anak-anak yang tidak bisa lepas dari bermain. Kisah hidup yang dikemas dalam dua sisi dan sudut pandang berbeda.

Ada kesedihan jika dilihat namun ada pula kebahagiaan apabila kita mengamati seorang anak pemulung yang semangat dan tetap mau belajar. Mudah-mudahan, bagi anak pemulung di mana pun berada bisa memiliki semangat yang kuat untuk terus berjuang, berpikiran positif, cerita dan tidak putus asa.

Mudah-mudahan kisah di atas bisa mengingatkan kita yang mampu untuk berbagi dan peduli dengan saudara kita yang kurang beruntung. Itu saja, silahkan dilanjutkan dengan beberapa cerita lain dibagian bawah. Terima kasih!

Tag : Cerpen, Kehidupan
Back To Top