Cerita Cerpen Singkat tentang Buruh

Cerita kali ini adalah cerpen tentang buruh yang akan mengangkat bagaimana sulit dan pedihnya bekerja sebagai buruh. Cerita ini berpusat pada seorang remaja yang baru selesai sekolah dan mulai bekerja.

Sungguh jauh dari apa yang dibayangkan sebelumnya, ternyata bekerja itu tidak mudah sama sekali. Itulah pengalaman yang dialami oleh pemuda tersebut ketika pertama kali mencoba menimba pengalaman untuk bekerja pada orang lain.

Cerita ini menggambarkan bagaimana seorang remaja akhirnya menyerah karena tidak kuat dan tidak mampu menghadapi dan menjalani kerasnya kehidupan para pekerja. Tapi sebelum itu silahkan baca juga kisah berikut!

1) Kisah sukses jual souvenir
2) Kisah perjuangan hidup yang sulit
3) Pengalaman pahit menjadi seorang pekerja

Dari cerpen berjudul “sulitnya menjadi buruh kerja” tersebut bisa dilihat bahwa bisa saja pekerja atau buruh mengalami tindakan yang kurang berkenan dari atasan atau pemilik usaha. 

Tentu saja ada nasehat yang bisa direnungkan, ada pelajaran atau hikmah yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Lalu seperti apakah alur cerita dari cerpen tersebut selengkapnya? Kita baca saja langsung cerpen tersebut di bawah ini.

Sulitnya Menjadi Buruh Kerja
Cerita Oleh Gunarto

“Itu bungkus terigunya, kamu ini bagaimana, kerja kok malas amat!”. Ku jawab “ bukanya malas pak, namanya juga lagi belajar ya belum bisa cepat lah pak.” Itulah sepenggal cerita saat aku pertama kali lulus SMA langsung kerja di sebuah toko sembako.

Aku menerima tawaran kakak ku yang berjualan gorengan di Kota Bumi Lampung Utara. Ia sudah lama berjualan gorengan di pinggir jalan, setiap iya membutuhkan bahan baku ia selalu membeli bahan - bahan untuk pembuatan gorengannya itu di sebuah toko yang lumayan besar di dekat jalur kereta api lintas Sumatra.

Kakak ku adalah orang yang rajin ia selalu berjualan gorengan tanpa lelah pagi dan malam. Dan setiap kehabisan stok untuk bahan - bahan pembuatan gorengan itu kakak ku selalu meminta dulu kepada salah satu pemilik toko sembako besar di daerah Kota Bumi itu.

Karena sudah dipercaya, kakak ku terbiasa mengambil bahan bahan gorengan dulu seperti tepung terigu, tepung tapioca, penyedap rasa dan lain sebagainya, itu selalu mengambil dahulu baru kalau sudah ada hasil baru di bayar.

Kata kakak ku pemilik toko itu orangnya baik. Tidak perihitungan dulu kalau mau melayani pelangganya, ia juga tidak sombong kepada pelanggan pelanggan baru yang mau mengambil dulu bahan bahan gorengannya. Kakak ku berjualan tidak sendirian, ia banyak yang menemani, maksutnya tidak hanya kakak ku saja yang berjualan gorengan.

Suatu hari saat kakak ku pulang dari Kota Bumi iya melihatku sudah atau baru saja lulus SMA. Dia menawarkan pekerjaan untuk ku, sebagai pelayan toko katanya. Aku mau mau saja karena kakak sendiri yang menawarkan pekerjaan itu.

Kata kakak ku pekerjaan itu hanya sebagai pelayan toko di sebuah toko sembako yang biasa kakak ku mengambil bahan bahan untuk pembuatan gorengannya. Kata kakak ku dia sebelum pulang ditawari untuk mencarikan orang yang mau kerja di toko sebagai pelayan toko di toko sembako.

Setelah aku berbincang-bincang tidak lama aku menyanggupi untuk menerima tawaran pekerjaan itu, lagi pula aku saat itu menganggur dan ingin bekerja. Jadi aku saat itu terima saja pekerjaan itu.

Tak lama setelah meminta izin kepada bapak dan ibu aku keesokan harinya aku berangkat ke Kota Bumi dengan mengendarai sepeda motor yang biasa kakak ku bawa untuk berdagang. Hatiku saat itu sangat senang karena baru sudah lulus sudah memperoleh pekerjaan. Kebetulan pekerjaannya sesuai dengan jurusan ku yaitu marketing.

Kami hanya membutuhkan waktu setengah hari untuk kami sampai di Kota Bumi, itu pun kami sambil santai. Karena tempat kami dan Kota Bumi itu hanya berjarak sekitar 50 km dari rumah ku. Aku merasa yakin dengan pekerjaan ini.

Setelah aku sampai di Kota Bumi, aku langsung diperkenalkan dengan pemilik toko itu dan langsung diberikan kamar sendiri untuk melaksanakan dan kemudahan pekerjaan ku itu. Tidak lama setelah itu aku langsung berkenalan dengan bapak pemilik toko sembako itu. Dan ku lihat respon pemilik toko itu sangat baik dan aku sendiri saat itu tidak menyangka pemilik toko buku itu sangat baik.

Karena aku merasa nyaman dengan pemilik toko sembako itu aku lantas mencoba pekerjaan itu dengan hati hati dan merasa yakin karena kakak ku bilang memang pemilik toko itu sangat baik kepadanya.

Tidak lama setelah itu kakak ku pergi dan menyerahkan atau mengizinkan pemilik toko itu untuk mengajariku, bagaimana berjualan dan belajar bekerja. Hari hari ku jalani setelah aku seminggu di toko itu.

Mulai kurasakan ada yang aneh dengan kata kata pemilik toko itu. Iya setiap pagi selalu berkata “ kamu disini kerja yang bener jangan aneh aneh “ apa maksutnya kupikirkan pad saat itu karena aku baru lulus SMA belum begitu paham dengan orang.

Bapak pemilik toko itu kebetulan juga adalah pegai negeri sipil yang bertugas di kantor dinas pekerjaan umum lampung utara. Makanya sebelum bekerja iya selalu berkata seperti itu, tapi saat itu ku biarkan saja.

Hari hari terus ku jalani pekerjaan ku itu, aku bekerja tidak hanya melayani pembeli tapi juga lebih dari itu, aku bekerja missal membungkus tepung terigu, menurunkan barang barang yang berat dari truk yang baru saja datang, membungkus minyak dan gula ke dalam drum dan kedalam kemasan, banyak lah.

Sering aku dengar kata - kata kasar dari pemilik toko sembako itu saat dia kesal mungkin. Aku sedang membungkus terigu dan minyak tiba-tiba dia sering berkata “kerja itu pakai otak jangan pakai dengkul “ masa kerja lambat seperti itu.

Mendengar kata - kata itu aku tidak menghiraukan dan aku lebih memilih bekerja. Tapi dia malah berkata lagi “kalau orang lagi berbicara itu di liat, di dengerin.”

Akhirnya karena aku sudah tidak kuat lagi, setelah satu bulan aku bekerja aku memutuskan untuk mengundurkan diri dan bilang jujur kepada kakak ku itu, bahwa aku sudah tidak kuat dengan sifat pemilik toko sembako itu yang kata kakak ku orangnya baik tapi pada kenyataannya sama sekali tidak baik.

Kakak ku pun mengerti keadaan ku itu dan membolehkan ku untuk keluar dari pekerjaan itu. Alhamdulilah gaji sebulan ku keluar dan aku memutuskan untuk membantu kakak ku saja berjualan gorengan di pinggir jalan. Itu lebih baik di pikiran ku.

… Sekian …

Kualitas cerpen yang singkat tentang buruh di atas mungkin tidak sebaik cerpen hasil penulis profesional namun setidaknya kisah ceritanya bisa dijadikan pelajaran berharga bagi pembaca semua. Bagi yang masih ingin membaca kisah lainnya kami sarankan coba lihat beberapa judul cerpen pilihan yang sudah disiapkan dibagian akhir cerita ini. 

Disana ada beberapa kisah yang hampir sama dengan tema yang di atas. Mudah-mudahan satu dari sekian banyak kisah yang dibaca ada yang berkenan di hati. Itu saja, terima kasih telah menjadi pengunjung setia situs ini.

Back To Top