Naskah Drama Cerita Rakyat Asal Usul Sungai Kawat

Banyak yang meminta naskah drama cerita rakyat, maka dari itu kali ini saya akan memberikan satu contoh khusus untuk naskah drama ini. Drama berikut disusun berdasarkan sebuah cerita rakyat yang berasal dari Kalimantan Barat yaitu cerita rakyat asal usul sungai kawat. 

Tidak ada perbedaan yang berarti di drama ini dengan cerita rakyat aslinya. Ingin tahu seperti apa bentuknya, mari kita lihat di bawah ini. Cerita rakyat tersebut mengisahkan tentang seorang nelayan serakah yang akhirnya hidupnya tragis karena keserakahan yang ia lakukan. Ia dan anak lelakinya tenggelam di sebuah sungai ketika memancing ikan. 

Seperti apa sebenarnya cerita nelayan tersebut? Drama cerita rakyat 6 orang pemain ini mengisahkan cerita yang diambil dari dan sesuai dengan kisah tersebut. Namun tentunya akan ada babak yang mungkin akan lebih hidup. Dari pada penasaran lebih baik cek langsung di bawah ini.

Asal Usul Sungai Kawat
Oleh Mandes

Pemain:
1) Paijo (Nelayan miskin, lugu, bodoh)
2) Painem (Istri Paijo, Cerewet)
3) Paijan (Anak lelaki pertama Paijo, penurut)
4) Paijem (Anak perempuan Paijo, manja)
5) Peri Sungai (Baik hati)
6) Paelan (Teman paijo, pintar, bersahabat)

Pesan moral:
Sifat serakah adalah sifat yang sangat buruk dan akan merugikanmu dimasa yang akan datang.

Beberapa tahun silam, hiduplah satu keluarga nelayan yang sangat miskin dengan dua orang anak yaitu Paijo. Istri paijo bernama Painem, anak pertamanya bernama Paijan dan anak keduanya bernama Paijem. Sehari-hari Paijo menghidupi keluarganya dengan mencari ikan. Suatu hari persediaan makanan yang mereka miliki semakin sedikit dan anak istrinya mulai khawatir.

Painem: Jo! Bagaimana ini, kita sudah tidak punya persediaan makan. Beras sudah habis, ikan pun sudah tak ada, mau makan apa kita!
Paijo: Aku sudah tahu Nem! Sudah diam, tidak usah menambah pusing saja!
Painem: Lalu kenapa kami hanya diam, kenapa kamu tidak pergi usaha! Anak-anak mau makan apa, apa mereka bisa makan batu!

Paijo: Kamu kasih saja mereka tanah kalau tidak bisa makan batu! Sebagai istri seharusnya kamu bisa mengerti, bisa membantu, bukan menambah keruh suasana!
Paijan: Bu, Paijan lapar, mana makanannya, kenapa tidak ada apa-apa?
Paijem: Iya bu, aku juga lapar?
Paijo: Cari makanan di dapur, bukan di sini Jan, ajak adikmu! Anak laki-laki kok cengeng, baru satu jam tidak makan sudah ribut!
Paijan: Iya yah, baik.

Paijem: Tapi ya, kan aku lapar!
Paijo: Sudah jangan ribut, jangan tiru ibumu yang bisanya hanya makan dan mengomel! Tiap hari yang dipikirkan hanya makan, makan melulu!
Painem: Namanya orang hidup ya harus makan Jo!
Paijo: Sudahlah! Paijan sini kamu! (sambil berteriak kepada anaknya)
Paijan: Iya Yah!
Paijo: Besok pagi kamu ikut ayah, cari ikan!

Paijan: Baik Ayah.
Paijo: Paijem!! Kamu di rumah jangan hanya makan saja, menanam sayuran kan bisa!
Paijem: Tapi Yah, aku kan…
Paijo: Kamu ini kalau diberi tahu selalu membantah saja! Mau jadi seperti ibumu itu!
Paijem: Enggak yah! Iya…
Paijo: Sudah sana!

Keesokan harinya paijo pun berangkat untuk mencari ikan di sungai dengan ditemani anak pertamanya. Ia berangkat sangat pagi berharap bisa mendapatkan tangkapan yang cukup untuk keluarganya.

Paijo: Jan! Bangun, mau jadi pemalas apa kamu!
Paijan: Em… Iya Yah!
Painem: Ada apa ini pagi-pagi sudah teriak-teriak!
Paijo: Buruan Jan, sudah siang! (tidak menghiraukan istrinya)
Paijan: Iya Yah.

Meraka akhirnya berangkat menuju sungai meski hari masih sedikit gelap. Mereka berangkat dengan perut kosong, tanpa mandi, tanpa sarapan apapun.

Paijem: Abang kemana Bu?
Painem: Sudah berangkat sama ayahmu!
Paijem: Berangkat kemana bu, kok pagi buta?
Painem: Cari ikan (menjawab dengan ketus)

Di sungai, paijan dan ayahnya mulai mendorong dayungnya menuju lokasi sungai untuk memancing. Tak lupa mereka menyiapkan segala kebutuhan memancing seperti umpan dan alat memancing lainnya.

Paijo: Sudah kamu siapkan pancing kamu Jan?
Paijan: Siap semua Yah.
Paijo: Umpan, kail ayah?
Paijan: Sudah ayah!
Paijo: Ya sudah, kita dorong perahu kita, kita cari lokasi yang bagus!
Paijan: Baik Yah!

Paijan pun membantu ayahnya mendorong perahu ke tengah sungai. Tak lama, mereka menghentikan perahu di sebuah lokasi sungai. Mereka pun memancing di sana.

Paijo: Siapkan kailmu Jan, kita memancing di sini.
Paijan: Iya Yah.
Paijo: Ya sudah, yang benar agar kita dapat ikan banyak.
Paijan: Iya ayah, tapi ayah diam, ikannya nanti takut!
Paijo: Iya..

Paijan: Ayah, ada yang menarik kailku!
Paijo: Tunggu sebentar!
Paijan: Waduh, waduh Yah, tolong!
Paijo: Tarik Jan…. langsung tarik saja!

Paijan: Ah…. Putus yah, sepertinya ikan besar!
Paijo: Ah kamu, begitu saja tidak bisa!
Paijan: Tadi berat Yah, mungkin ikannya memang besar Yah!
Paijo: Ya sudah, kita coba lagi!
Paijan: Iya

Setengah jam kemudian…

Paijo: Ada yang menarik kail ayah!
Paijan: Paijan juga Yah, berat yah!
Paijo: Waduh, ikannya besar ini!
Paijan: Em…(Sibuk menarik kailnya dan tidak menghiraukan ayahnya)
Paijo: Aish….. lumayan ini

Paijan: Yah, yah, yah, tolong bantu yah, ini ikan besar benar sudah kelihatan
Paijo: Mana Jan, wah benar itu, sebentar ayah naikkan kail ayah dulu!
Paijan: Ah…. Lama ayah!! Buruan…
Paijo: Iya…. (belum juga beranjak membantu Paijan)
Paijan: Ayaaah….!

Paijo: Iya Jan, tarik saja!
Paijan: Ah…. Patah joran aku!!
Paijo: Haa….. bagaimana bisa, sepertinya kail ayah menyangkut di kayu!
Paijan: Ah, ayah ini bagaimana sih, satu ikan tadi cukup untuk makan satu minggu yah!

Paijo: Ya sudah, tidak apa-apa. Sekarang bantu ayah mengangkat kail ayah yang tersangkut!
Paijan: Ayah sendiri sajalah! Kesal aku!
Paijo: ya sudah, ayah turun dulu ke sungai

Paijan hanya terdiam kesal. Paijo turun dari perahunya dan menyelam mengangkat kail yang tersangkut di sebuah akar kayu. Setelah itu mereka melanjutkan memancing namun sampai tengah hari tak ada satu ikan pun yang menyentuh kail mereka. Akhirnya mereka mencoba mencari lokasi lain dengan menyusuri sampai ke hulu sungai.

Paijo: Jan, sepertinya sudah tidak ada ikan di sini. Kita pindah saja!
Paijan: Iya (Paijan menjawab dengan singkat)
Paijo: Bagaimana kalau di sini?

Paijan: Terlalu terang, sepertinya tidak akan ada ikan disini!
Paijo: Ya sudah (kembali mendayung)
Paijan: Coba disini Yah!
Paijo: Baik, sepertinya bagus!

Karena tak kunjung mendapatkan ikan mereka terus mencari tempat lain, contoh naskah drama cerita rakyat. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan sahabatnya yaitu Paelan. Paelan mengingatkan bahwa hari sudah mulai sore dan biasanya ikan sudah mulai susah dipancing.

Paijo: Kenapa tidak ada ikan satu pun ya, kita sudah jauh menyusuri sungai.
Paijan: Iya, kenapa tidak ada ikan sama sekali.

Paijo: Sabar Jan, mungkin sebentar lagi.
Paijan: Mungkin di sana Yah, yang arusnya sedikit deras!
Paijo: Kita coba!
Paijan: Ternyata sama saja!

Akhirnya mereka kembali menyusuri sungai.

Paelan: Hai kalian, hari sudah mulai sore, mau kemana kalian?
Paijo: Aku sedang mencari ikan
Paijan: Iya, tapi dari pagi kita tidak mendapatkan ikan satu pun.
Paelan: Sudahlah, besok saja dilanjutkan. Hari ini memang tidak banyak ikan yang bisa ditangkap. Aku saja hanya dapat beberapa ekor saja.

Paijo: Ya, sebentar lagi, kami belum mendapatkan apapun!
Paelan: Kasihan anak kamu Jo, sudah lelah sekali dia.
Paijan: Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah
Paelan: Benar kalian tidak mau pulang saja?
Paijo: Iya, nanti kami menyusul

Hari semakin sore, paijan mengingatkan ayahnya untuk pulang namun paijo tidak mengindahkan ajakan anaknya tersebut karena belum mendapatkan ikan sama sekali. Sesaat setelah itu…

Paijan: Sudah mulai gelap yah, sudah tidak mungkin kita mendapatkan ikan
Paijo: Sebentar lagi Jan, kasihan adik dan ibu kamu di rumah kalau kita tidak mendapatkan apapun.
Paijan: Tapi yah…
Paijo: Sudah, sebentar lagi, pasti dapat!
Paijan: Ya sudah. Aku lelah, ayah saja yang memancing.

Paijo: Iya, kamu duduk saja! Eh… lihat Jan, ada yang menairk kail ayah, kali ini harus dapat!
Paijan: benar yah…
Paijo: Biar aku ulur terlebih dahulu, biar umpan dimakan semua. (Paijo pun mengulur tali panjingnya sampai hampir habis)
Paijan: Bagaimana Yah?
Paijo: Kenapa semakin ringan ya!

Paijo sangat serius memperhatikan tali pancingnya sehingga ia tidak menyadari hari mulai gelap dan cahaya matahari telah berganti dengan cahaya bulan. Akhirnya paijo menarik tali pancingnya secara perlahan.

Paijo: Tak ada perlawanan, ikannya pasti lepas lagi Jan
Paijan: Huh…
Paijo: sebentar Jan, ayah tarik dulu tali ini.

Tiba-tiba ia melihat kelebatan kawat seperti emas bersatu dengan tali pancing miliknya.

Paijo: Astaga, apa aku tidak salah!
Paijan: Apa yah?
Paijo: Bukankah itu emas Jan?
Paijan: Iya Yah, benar sekali, itu emas!
Paijo: Syukurlah, kita bisa kaya ini Jan?
Paijan: Benar… kita bisa menjadi kaya!

Paijo: Ayo kita tarik kawat itu Jan!
Paijan: Ayo, cepat yah!
Paijo: Tari terus Jan
Paijan: Iya yah, tapi… sudah banyak yah!
Paijo: Biar Jan, kita tarik terus sampai habis kawat emas ini!
Paijan: Tapi Yah, sudah cukup yah!

Karena sangat senang, paijo lupa diri. Ia tidak menghiraukan peringatan dari anaknya. Ia juga sama sekali tidak mendengarkan suara peringatan yang datang dari peri sungai, sampai akhirnya…

Peri Sungai: Sudah Paijo, sudah cukup banyak emas yang kau dapatkan!
Paijo: Tari terus Jan kawat emas ini!
Paijan: Tapi Yah…

Peri Sungai: Sudah banyak Jo! Emas itu sudah banyak. Cukup, hentikan menarik kawat emas itu!
Paijan: Ayah, berhenti!
Paijo: Iya sebentar lagi
Paijan: Ayah…perahunya!!!

Peri Sungai: Sudah Paijo, mau untuk apa emas sebanyak itu!
Paijan: Ayaaah….. perahu kita…!

Akhirnya, tak seekor ikan pun mereka dapat, tak seutas kawat emas pun yang mereka dapat. Paijo dan anak lelakinya pun menjadi tumbal keserakahan, tenggelam bersama perahu yang mereka gunakan untuk memancing.

---Sekian----

Begitulah, naskah drama tentang cerita rakyat berjudul asal usul sungai kawat di atas bisa menjadi bahan belajar kita semua yang membutuhkan contoh drama. Mudah-mudahan cerita yang diangkat bisa berkenan bagi rekan semua. Kalau kurang berkenan dengan drama ini silahkan lihat juga beberapa naskah lain yang sudah disiapkan. 

Back To Top