Contoh Naskah Drama Cerita Rakyat, Putri Pandan Berduri

Berikut sebuah contoh untuk naskah drama tentang cerita rakyat yang bisa kita gunakan untuk berlatih bermain drama. Drama tersebut berjudul "Putri Pandan Berduri" karena memang mengadopsi dari kisah cerita rakyat dengan judul yang sama.

Naskah Drama Cerita Rakyat

Kisah cerita rakyat yang diangkat dalam drama ini merupakan salah satu cerita rakyat dari pulau Bintan. Ingin tahu seperti apakah cerita dalam naskah drama tersebut? Sesuai dengan judulnya, naskah drama berikut ini adalah drama yang mengangkat tema cerita rakyat putri pandan berduri.

Putri Pandan Berduri sendiri merupakan cerita rakyat dari Pulau Bintan. Cerita rakyat ini mengisahkan kehidupan Suku Laut di Pulau Bintan, Kepulauan Riau tersebut. Namun dalam drama ini mungkin ada perubahan atau penyesuaian cerita agar lebih mantap jika dipentaskan.

Dari segi pemainnya, drama cerita rakyat yang satu ini merupakan drama untuk 9 orang pemain yang lumayan panjang. Kalau untuk latihan dipentaskan maka drama ini membutuhkan setidaknya 10 orang termasuk narator. Kalau yang mau tema anak pungut bisa baca drama anak pungut.

Saya rasa untuk jumlah pemain tidak ada masalah karena bisa saja kita sesuaikan sesuai keinginan kita. Yang pasti, drama ini mudah-mudahan bisa menjadi tambahan bahan belajar bagi kita semua yang membutuhkan. Sekarang mari kita pelajari terlebih dahulu drama tersebut!

Drama Putri Pandan Berduri
Teks Drama oleh Irma

Pemain:

1. Batin Lagoi: Kepala Suku (Suku Laut)
2. Putri Pandan Berduri: anak kepala suku
3. Raja Pulau Galang
4. Pangeran Julela 
5. Pangeran Jenang Perkasa
6. Pyalan (Pembantu Batin Lagoi)
7. Ryosan (Rakyat 2)
8. Kwidoi (Rakyat 3)
9. Danoi (Rakyat 4)

Alkisah, di pulau bintan ceritanya ada kepala suku yang tidak memiliki anak. Suatu hari saat ia berjalan berkeliling kampung, ia menemukan bayi yang diberi nama putri pandan berduri karena ditemukan di antara semak pandan. 

Batin Lagoi: Selamat siang bapak-bapak…
Ryosan, Kwidoi & Danoi: Siang batin…
Ryosan: Batin hendak kemana hari sudah mulai sore ini?
Kwidoi: Berjalan-jalan saja Batin?

Batin Lagoi: Iya, santai menghirup udara sore yang sejuk. Bagaimana tangkapan hari ini, banyak?
Danoi: Lumayan Batin, lebih banyak dari hari biasanya..
Batin Lagoi: Bagus kalau begitu, yang rajin ya…
Ryosan: Iya terima kasih Batin.. Ya sudah kami permisi dulu Batin
Kwidoi & Danoi: Iya batin, keluarga di rumah sudah menunggu
Batin Lagoi: Ya sudah…

Batin Lagoi pun melanjutkan perjalanan ke arah pantai. Seperti biasa ia banyak menghabiskan waktu luang untuk berkeliling melihat masyarakat yang ia pimpin. Dengan begitu ia selalu tahu mengenai apapun yang terjadi di masyarakat. Saat menyusuri pantai, tiba-tiba ia mendengar sesuatu. Sayup - sayup ia mendengar tangisan bayi.

Batin Lagoi: Anak siapa itu yang menangis di tempat seperti ini?

Ia melihat kiri kanan, namun tak dilihatnya satu orang pun. Kemudian ia berniat beranjak pergi namun ia mendengar lagi suara bayi tersebut. Akhirnya ia mengikuti suara bayi tersebut dan akhirnya

Batin Lagoi: Apa….! Bayi siapa yang ditinggalkan di atas dedaunan seperti ini!

Batin Lagoi terdiam sejenak memikirkan sesuatu dan akhirnya setelah memastikan tidak ada siapapun yang mungkin memiliki bayi tersebut, ia memutuskan untuk membawa pulang bayi yang ditemukan. Sesampainya di rumah…

Pyalan: Aduh tuan, bayi siapakah ini yang engkau bawa pulang?
Batin Lagoi: Aku tidak tahu Pyalan, aku menemukannya diantara daun pandan di tepi pantai.
Pyalan: Apakah tidak ada orang di sana Batin, mungkin ada yang kehilangan?
Batin Lagoi: Tidak Pyalan, tidak ada seorang pun di sepanjang pantai itu… biarlah, akan ku rawat anak ini.

Pyalan: Iya tuan, kasihan, malang benar nasib bayi ini!

Setelah dewasa putri pandan berduri hendak dinikahkan dengan putra raja atau putra kepala suku. Batin lagoi menganggap hal itu sepadan mengingat putri pandan berduri memiliki perangai yang sangat baik.

Pyalan: Hendak kemana Putri, sepertinya tergesa-gesa benar?

Putri Pandan Berduri: Benar Pyalan, aku hendak ke taman, jika ayah mencari ku tolong sampaikan bahwa aku sedang bermain di taman.
Pyalan: Baik Putri… (putri pandan berduri pun pergi ke taman)
Batin Lagoi: Duhai Pyalan, di manakah putri cantik ku berada? Sedari tadi aku tidak melihatnya?
Pyalan: Putri Pandan Berduri sedang bermain di taman tuan
Batin Lagoi: Apa pendapatmu tentang putri ku itu Pyalan?

Pyalan: Pendapat yang bagaimana tuan?
Batin Lagoi: Ya, ia sekarang sudah dewasa, kadang aku takut dan resah.
Pyalan: Ow… Tuan tidak perlu bersusah hati. Putri Pandan Berduri adalah seorang wanita yang cantik dan berbudi pekerti luhur, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tuan

Batin Lagoi: Mungkinkah suatu saat ia meninggalkanku?
Pyalan: Kalau ia kelak menikah dengan orang jauh, mungkin saja tuan.
Batin Lagoi: Hem….
Pyalan: Tapi bukankah yang terpenting kebahagiaan dia tuan?
Batin Lagoi: Kamu benar Pyalan, yang penting ia bahagia.

Sementara itu di seberang laut hiduplah dua orang pangeran yang sangat rukun. Selain tampan mereka juga memiliki watak yang baik. Namun semua berubah ketika sang raja mengumumkan bahwa putra tertua akan ditunjuk menggantikan sang ayah menjadi raja.

Raja Pulau Galang: Putra-putra ku, kini kalian berdua telah dewasa, tibalah saatnya aku mengatakan hal yang sangat penting bagi kita semua.

Pangeran Julela: Ada apakah gerangan baginda?
Pangeran Jenang Perkasa: Iya baginda, apakah ada hal yang harus kami lakukan?
Raja Pulau Galang: Tidak anakku, ini bukan hal yang harus kalian lakukan tetapi hal yang nantinya harus kalian lakukan.

Pangeran Jenang Perkasa: Katakan saja Baginda, kami pasti menuruti semua titah baginda.
Pangeran Julela: Benar baginda
Raja Pulau Galang: Baiklah, dengarkanlah baik-baik anakku. Aku memerintah kerajaan ini tidak akan lama lagi, dan suatu saat nanti aku harus menunjuk raja baru. 
Pangeran Julela & Pangeran Jenang Perkasa: Iya baginda

Raja Pulau Galang: Untuk itulah, sebagai anak pertama dan anak tertua hari ini aku umumkan pada kalian bahwa anakku Pangeran Julela kelak akan menjadi penerus menggantikan ku. Dan engkau Pangeran Jenang Perkasa anakku, kau tidak perlu iri dan cemburu kepada kakakmu. Aku sudah menyiapkan amanat khusus untukmu yaitu membantu kakakmu kelak dalam menjalankan kerajaan ini.

Pangeran Jenang Perkasa: Baiklah Baginda, aku siap menerima titah mu.
Pangeran Julela: Iya baginda, aku akan berusaha memberikan yang terbaik

Mereka pun akhirnya pergi. Kemudian, setelah pengumuman yang diberikan sang raja terjadi perubahan yang sangat drastis. Pangeran Julela yang tadinya memiliki perangai yang baik berubah menjadi sombong karena mengetahui kelak ia yang akan meneruskan tahta. Kesombongan tersebut terlihat jelas pada perlakuan nya kepada sang adik yaitu Pangeran Jenang Perkasa.

Pangeran Julela: Jenang Perkasa, aku sangat ingin berburu rusa, bagaimana kalau engkau menemani ku?
Pangeran Jenang Perkasa: Baiklah kanda, aku akan menemanimu
Pangeran Julela: Bagus!
Pangeran Jenang Perkasa: Lalu kapan kita akan berburu?
Pangeran Julela: Tahun depan! Sekarang tolong ambil kan dulu makanan kesukaanku?
Pangeran Jenang Perkasa: apa kanda? Makanan? Kenapa kakang tidak minta kepada dayang saja?
Pangeran Julela: Aku adalah putra mahkota, kelak aku akan menjadi raja jadi aku bebas memerintah siapapun termasuk kamu!
Pangeran Jenang Perkasa: Apa, kenapa kakang seperti itu, kenapa kakang menjadi sombong seperti itu?
Pangeran Julela: Lancang kamu Jenang! Kamu berani melawan aku!
Pangeran Jenang Perkasa: Kamu sudah keterlaluan kakang!
Pangeran Julela: Hei, kamu benar-benar melawan ya!
Pangeran Jenang Perkasa: (Langsung pergi tanpa menghiraukan Pangeran Julela)

Semakin hari tingkah Pangeran Julela semakin menjadi-jadi dan sewenang-wenang, contoh drama cerita rakyat. Akhirnya pangeran jenang perkasa akhirnya pergi meninggalkan kerajaan dan berlayar jauh tanpa tujuan. Sampailah ia ke pulau di mana Putri Pandan Berduri hidup. Di sana ia menjadi pedagang namun karena sikapnya yang bermartabat akhirnya ia menjadi bahan perbincangan seluruh warga.

Ryosan: Hei, kamu sudah pernah bertemu pedagang baru dari seberang laut yang banyak dibicarakan orang?
Kwidoi: Iya, saya pernah bertemu sekali, sepertinya dia bukan orang biasa?
Danoi: Kenapa bisa begitu
Kwidoi: Kulitnya bersih, tutur katanya juga sangat santun
Danoi: Benarkah?
Ryosan: Jadi benar yang dibicarakan itu?

Kwidoi: Iya, benar sekali. Dan yang terpenting ia menjual dagangan dengan harga yang tidak terlalu tinggi sehingga banyak orang sini yang suka dengan dia.
Danoi: Kamu tahu siapa dia?
Kwidoi: Menurut yang aku dengar ia bernama Jenang Perkasa. Itu yang aku tahu.

Masih asyik mereka bertiga membicarakan Pangeran Jenang Perkasa, tiba-tiba datanglah orang yang mereka bicarakan tersebut.

Pangeran Jenang Perkasa: Selamat siang bapak-bapak, ada yang mau beli kendi – kendi ini?
Ryosan: Ow, kendi, kamu siapa, sepertinya kamu bukan orang dari sini?
Kwidoi & Danoi: Iya benar.
Pangeran Jenang Perkasa: Benar bapak-bapak, aku adalah pedagang dari seberang laut. Sekarang aku menetap di kampung ini namun aku belum sempat bertemu dengan kepala suku di sini. 
Ryosan: Ow, jadi kamu pedagang itu ya?
Pangeran Jenang Perkasa: Maksud bapak?

Kwidoi: Tidak-tidak, kendi ini berapa harganya?
Danoi: Yang ini berapa?
Pangeran Jenang Perkasa: Yang ini dua keping, dan yang ini satu keping.
Ryosan: Ow…
Kwidoi: Murah ya?

Danoi: Iya murah, tapi maaf nak, kami sedang tidak membutuhkan kendi, mungkin lain kali saja.
Pangeran Jenang Perkasa: Ow begitu, baik pak, tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu.
Ryosan: Silahkan

Pangeran Jenang Perkasa pun akhirnya meneruskan berdagang. 

Ryosan: Memang benar, orangnya santun dan kulit tubuhnya bersih, sepert bangsawan.
Kwidoi: Benar, bukan orang biasa
Danoi: Iya dagangannya harganya berbeda jauh dengan pedagang lain.

Datanglah Pyalan yang baru selesai berbelanja menemui menyapa mereka.

Pyalan: Selamat siang bapak-bapak, masih santai ini sepertinya?
Ryosan: Oh iya, ini lagi membicarakan pedagang seberang laut itu
Kwidoi & Danoi: Benar-benar!
Pyalan: Pedagang yang mana?

Ryosan: Itu yang berdagang dengan harga murah dan perilakunya sangat santun.
Kwidoi: Orangnya yang tampan dan berkulit bersih itu tuan
Pyalan: Oh, jadi benar berita yang beredar?
Ryosan: Benar sekali, kampung kita kedatangan seorang pedagang yang sangat santun. 
Danoi: Benar itu tuan, seperti dari kalangan bangsawan!

Batin Lagoi pun mendengar tentang pangeran jenang perkasa dari cerita Pyalan. Ia penasaran dan akhirnya mengundang seluruh orang penting di pulau tersebut untuk mengadakan pesta di rumahnya. 

Batin Lagoi: Anakku, sudah lama aku tidak mengadakan pesta dengan rakyatku, bagaimana kalau lusa kita buat pesta makan?
Putri Pandan Berduri: Bagus itu ayah, aku senang nanti pasti ramai dan banyak yang datang
Batin Lagoi: Baiklah, aku akan segera meminta Pyalan menyiapkan segala sesuatunya.

Batin Lagoi pun memanggil Pyalan.

Batin Lagoi: Pyalan, aku ingin hari ini kau menyiapkan pesta makan untuk besok. Aku ingin mengadakan pesta dan mengundang para tua-tua adat serta tamu istimewa
Pyalan: Baiklah Tuan, lalu siapa saja yang akan kita undang, maksudku tamu istimewanya siapa?
Batin Lagoi: Semua tua-tua adat berikut orang terkenal di kampung kita. Jangan lupa, aku ingin engkau juga mengundang pedagang seberang laut yang kau ceritakan padaku itu. Aku ingin tahu seperti apa dia.
Pyalan: Baiklah tuan Batin… aku akan segera menyiapkan semuanya

Pyalan pun bergegas menyiapkan segala sesuatu. Dalam satu hari persiapan pun selesai karena banyak sekali orang yang dengan suka rela membantu persiapan pesta tersebut. Tibalah akhirnya saat pesta di mulai.

Ryosan: Aku senang sekali bisa datang ke pesta makan ini.
Kwidoi: Iya benar, Batin Lagoi memang benar-benar pemimpin yang baik
Danoi: Benar, dia tidak pernah sekalipun mengabaikan rakyatnya.

Sesaat kemudian…

Batin Lagoi: Saudara-saudaraku semua, aku mengundang kalian semua ke sini untuk mengadakan pesta. Pesta ini untuk bentuk rasa terima kasih ku atas semua berkah yang telah diberikan di kampung kita. Juga sebagai ucapan syukur karena putri tercinta ku telah beranjak dewasa dan menjadi seorang gadis yang cantik dan berbudi.

Putri Pandan Berduri: Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua yang sudah sudi hadir di sini. Mari kita nikmati pesta ini.

Pangeran Jenang Perkasa yang juga hadir dalam pesta itu diam-diam memperhatikan Putri Pandan Berduri. Sambil menyantap hidangan yang disediakan sesekali ia mencuri pandang.

Pyalan: Silahkan disantap hidangannya, jangan sungkan
Ryosan: Terima kasih tuan..
Danoi: Hei, anak muda, rupanya kau juga hadir disini, apa yang sedang kamu perhatikan?

Pangeran Jenang Perkasa: Ah, iya, saya juga diundang (dengan sedikit malu)
Kwidoi: Jangan kaget anak muda, Tuan Batin memang baik dan sering mengadakan acara seperti ini untuk rakyatnya. 
Danoi: Iya benar!

Sedang asyik mereka berbincang datanglah Batin Lagoi menghampiri mereka.

Ryosan: Mari tuan, silahkan
Kwidoi: Iya tuan, silahkan
Batin Lagoi: Iya, iya, tidak usah sungkan… Oh, sepertinya aku belum pernah melihat kamu, siapakah gerangan kamu anak muda?

Pangeran Jenang Perkasa: Aku pedagang dari seberang laut, Tuan, perkenalkan namaku Jenang Perkasa

Batin Lagoi: Ow… jadi kamu pedagang, dari mana asal mu
Pangeran Jenang Perkasa: Asal ku jauh Tuan, tapi itu tidak penting, yang terpenting adalah saya jatuh cinta dengan kampung ini dan jika diizinkan, aku ingin menetap disini Tuan

Batin Lagoi: Tentu saja, kenapa tidak, selagi engkau memberi manfaat pada warga kami, tapi sebelumnya boleh saya bertanya sesuatu?
Pangeran Jenang Perkasa: Tentu saja Tuan, silahkan
Batin Lagoi: Tutur katamu berbeda dengan rakyat biasa, dan saya dengar cara kamu berdagang juga begitu santun, apakah kamu dari keluarga bangsawan?

Pangeran Jenang Perkasa: Di seberang laut, keluarga saya memang berada tuan, tapi saya pergi dari rumah karena kesewenang-wenangan kakak saya. Saya lebih menjadi rakyat biasa yang berguna dari pada menjadi bangsawan yang tidak bijak.
Batin Lagoi: Hem… Sungguh mulia hati kamu nak.
Pangeran Jenang Perkasa: Hem… (hanya tersenyum malu)

Setelah pembicaraan tersebut di akhir pesta Pangeran Jenang Perkasa diundang ke kediaman Batin Lagoi. Disana Batin Lagoi mengutarakan niatnya untuk menjodohkan putrinya dengan Jenang Perkasa.

Batin Lagoi: Nak Jenang Perkasa, tadi engkau mengatakan bahwa engkau ingin tinggal di kampung ini. Saya akan mengabulkan permintaan dan izin yang kamu minta.

Pangeran Jenang Perkasa: Benarkah, terima kasih banyak Tuan, Tuan Batin sungguh baik.
Batin Lagoi: Ada satu cara agar engkau bisa tinggal disini dengan damai dan bahagia yaitu dengan memiliki istri disini. Jadi, maukah engkau menikah dengan putri ku?

Pangeran Jenang Perkasa: Maaf Tuan, apa tidak salah, aku hanya rakyat biasa yang tak punya apa-apa…
Batin Lagoi: Tidak, sama sekali tidak salah, kamu adalah pemuda yang berbudi dan itu sudah cukup. Jadi maukah kamu?
Pangeran Jenang Perkasa: Tentu saja Tuan, dengan senang hati. Tapi tetap saja aku merasa tidak layak untuk putri Tuan yang cantik jelita itu.
Batin Lagoi: Sudahlah, tak usah sungkan, aku yakin kamu bisa membahagiakan anak ku tersebut.

Akhirnya putri pandan berduri dan pangeran jenang perkasa pun menikah dan hidup bahagia bersama 3 orang anaknya. Pangeran Jenang Perkasa pun akhirnya menggantikan Batin Lagoi menjadi kepala suku di sana. Ia memerintah dengan sangat bijaksana hingga daerah tersebut semakin maju dan makmur. Pangeran Jenang Perkasa dan keluarganya pun menghabiskan hidup dengan damai.

--- Tamat ---

Kedepan, naskah drama cerita rakyat seperti ini akan terus ditambah agar lebih banyak lagi dan menjadi sebuah koleksi yang lengkap. Misalnya saja kita tidak akan lupa juga untuk menyiapkan drama - drama lain seperti yang diangkat dari cerita rakyat singkat tentang jaka tarub, cerita rakyat sangkuriang, cerita rakyat nusantara, malin kundang, bawang merah bawang putih dan berbagai cerita lain yang menarik. 

Drama seperti ini nantinya akan dilengkapi sesuai dengan jumlah pemain yang dibutuhkan misalnya mulai dari drama untuk 5 orang, 6 orang, 7 pemain dan seterusnya. Dengan begitu siapapun yang membutuhkan bahan belajar untuk drama bisa menemukannya di sini. Itu saja kali ini silahkan dilanjutkan ke beberapa drama lain dibagian bawah. Itu saja, selamat menikmati drama di atas.

Back To Top