Contoh Puisi Kehidupan dan Analisisnya

Analisis puisi bisa menjadi kegiatan yang sangat menarik, karena itu kami akan menghadirkan sebuah contoh puisi kehidupan yang langsung disertai dengan contoh analisisnya. Tetapi, perlu diketahui bahwa analisis yang akan diberikan merupakan analisis yang sama sekali tidak mengikuti pola karena dilakukan menurut sudut panjang pembaca.


Dalam karya sastra atau lainnya, pembaca memang memiliki hak untuk menilai sebuah karya baik dari segi apapun bahkan meski terkadang penilaian melenceng jauh dari objek karya tersebut sekalipun. Sebelum itu baca juga beberapa analisis puisi berikut!

1) Puisi terbaru tentang aku dan analisis
2) Puisi janji gila dan analisis
3) Puisi di tinggal kekasih dan analisisnya

Yang utama dalam analisis yang akan diberikan adalah kami akan mencoba menganalisa bagaimana pesan cerita atau tema yang ingin disampaikan oleh penyair terutama dari sudut pandang kami sebagai pembaca. 

Puisi yang akan coba kita kaji adalah sebuah puisi kehidupan singkat yang hanya terdiri dari empat bait. Karya puisi tersebut berjudul “sakit hatinya” dan ditulis oleh Gunarto. Mudah-mudahan karya tersebut dapat menjadi bahan hiburan sekaligus bahan pembelajaran bagi kita semua sebagai pembaca. 

Sebelum lebih jauh membahas mengenai karya tersebut mari kita lihat terlebih dahulu gambaran puisi tersebut dari judulnya. Karya tersebut mengambil judul yang terdiri dari dua kata yaitu kata “sakit” dan kata “hatinya”.

Kata “sakit” dapat menggambarkan keadaan yang buruk atau keadaan yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan rasa sedih, frustrasi atau bahkan amaran. Sedangkan kata “hatinya” adalah kata benda yang berarti hati milik seseorang. 

Dua kata tersebut menggambarkan makna yang dalam. Puisi tersebut kurang lebih akan menggambarkan kepedihan hati seseorang dalam kehidupannya. Dari sini dapat diketahui bahwa tone atau suasana yang ada dalam karya tersebut adalah sedih atau kesedihan. Apakah benar karya tersebut bernuansa sedih, mari kita baca terlebih dahulu.

Sakit Hatinya
Puisi Oleh Gunarto

Ketika semua teronggok tak menepi
Jatuhan daun itu menghampiri
Menyapa dengan hangatnya kasih sayang
Tak sepadan dengan yang ia rasa

Goresan mata angin semilir jauh melambai
Menghembuskan daun berguguran
Norma kepedihan mulai menerpa
Tak datang dengan indahnya keadaan

Hatinya sakit bagai pilu di bawah ranting bisu
Meyakinkan dan berfikir tanpa mengadu
Hatinya kesal tak sepadan dengan yang ia rasa
Inikah sakit andainya

Beban hati yang kian melampaui
Seberkas bayangan itu datang
Dan daun itu jatuh dipangkuannya
Bertanda manusia tak sempurna

Puisi 4 Bait tersebut memang terlihat jelas menggambarkan bagaimana sebuah kehidupan sang “tokoh” jadi wajar jika puisi tema kehidupan tersebut memiliki pesan dan makna hidup yang tersirat. 

Ada sebuah pertentangan yang digambarkan dalam bait pertama puisi ini. Di satu sisi, ada kasih sayang besar yang didapat dalam sebuah kehidupan - entah dari pasangan, keluarga, atau lainnya – tapi di sisi lain ada kepedihan yang juga tak kalah besar yang dirasakan. 

Bahkan seolah digambarkan lebih besar kepedihan dari pada kasih sayang yang diterima. Pertandingan keadaan dapat dilihat jelas dari penggunaan kata “tak sepadan” yang memiliki arti bertentangan.

Pada bait kedua, kata “goresan” menggambarkan sesuatu yang melukai dimana mengakibatkan sebuah luka atau pepedihan. “Daun berguguran” diibaratkan sebagai pebahagiaan yang akhirnya sirna dihempas derita yang dialami dalam hidup. Pada bait selanjutnya yaitu bait ketiga digambarkan lagi lebih jelas bagaimana sebuah kepedihan, kesedihan dan rasa kesal menyelimuti sang tokoh. 

Sedangkan pada bait terakhir, diungkapkan dengan jelas bahwa kehidupan yang perih bahkan sampai melampaui kemampuan. Pada larik terakhir bait terakhir, jelas diungkapkan oleh penyair bahwa dalam hidup tak ada satu orang pun yang sempurna, seperti daun yang jatuh dipangkuan. Jelas dikatakan hal itu adalah ketidaksempurnaan manusia seperti tertulis pada larik “bertanda manusia tak sempurna”.

Sungguh, contoh puisi kehidupan di atas memberikan makna yang cukup dalam. Meski sederhana, terdiri dari 4 bait dan masing-masing bait terdiri dari 4 larik, namun karya tersebut mewakili kegundahan hati manusia dalam menjalani hidup. Sebuah nasehat yang begitu baik untuk direnungkan. 

Pesan atau amanat yang terkandung dalam karya tersebut jelas sekali mengingatkan kepada kita semua sebagai manusia bahwa sesungguhnya manusia tiada satu pun yang sempurna. Di atas kelebihan yang dimiliki, manusia ditemani dengan ketidakmampuan, ketidakberdayaan, ketidaksempurnaan yang berdiri bak dua sisi mata uang. 

Demikianlah, sedikit yang dapat kami sampaikan mengenai karya terbaru di atas. Tentu saja, analisa atau analisis puisi yang kami paparkan di atas hanya sebatas kemampuan yang jauh dari cukup. Masih ada banyak hal yang bisa dikaji baik dari sisi instrinsik maupun ekstrinsik karya di atas. Harapannya, semoga pembaca yang lain dapat menuangkan pandangannya terhadap karya tersebut. Itu saja, salam hangat dari kami.

Back To Top