Contoh Cerpen tentang Keluarga Broken Home

Mencari contoh cerpen mengenai keluarga broken home? Mungkin belum pernah dilihat karya cerita pendek dengan tema ini dibahas secara khusus. Maka dari itu kali ini kami akan segera memberikan satu yang spesial yaitu sebuah cerpen terbaru dengan tema kehidupan keluarga.

Tema cerita yang diambil dalam kisah ini cukup sedih dan bisa membuat kita menangis, penasaran? Sebenarnya banyak juga kisah keluarga yang baik, bagus dan menyenangkan namun kali ini kita dahulukan sebuah kisah inspirasi yang berjudul “sahabat kurang kasih sayang”.

Ya, dari judulnya saja kita sudah bisa menebak bahwa cerpen ini akan menceritakan kisah tentang anak yang keluarganya berantakan, broken home atau bercerai. Tentu sangat memilukan, tapi pasti ada sesuatu yang bisa kita petik, pasti ada hikmah dan pembelajaran bagi kita semua. 

Sebelum sampai pada cerpen tersebut kami akan mengingatkan anda, di situs contohcerita.com ini anda akan mendapatkan lebih banyak lagi cerpen seperti ini. Khusus yang tentang keluarga saja sudah banyak apalagi yang lainnya. Untuk keluarga sendiri ada beberapa yang sangat terkenal, misalnya sebagai berikut!

2) Cerpen keluarga bahagia
3) Cerpen keluarga islami
4) Cerpen keluargaku

Tentu saja itu hanya contoh saja, yang berikut ini juga hanya contoh karena sebenarnya ada banyak sekali karya yang bisa kita baca. Sekarang, agar waktu yang kita miliki bisa lebih bermanfaat kita baca terlebih dahulu cerpen tersebut.

Sahabat Kurang Kasih Sayang
Cerita Oleh Gunarto

Namaku Arif, aku mempunyai sahabat yang sangat baik. Dari dulu tidak pernah kami bersekolah tidak sama sama. Aku mempunyai sahabat kecil namanya Didi. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku kenal selama aku bersekolah dan saat ini sudah bekerja.

Aku tidak pernah berlainan sekolah dengannya. Kami dari TK sampai SMA selalu satu sekolah. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri, atau tepatnya lebih dari sahabat. Aku jarang sekali bermusuhan dengannya, karena aku selalu menjaga hubungan pertemanan kami agar tidak terjadi masalah.

Aku masih ingat saat aku masih duduk di bangku SD, Didi selalu membagi uang jajan nya kepadaku karena pada saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar aku sangat jarang di kasih uang jajan oleh orang tuaku. Aku sangat sedih sebenarnya dan malu saat Didi harus membagi uang jajan nya kepadaku karena aku jarang punya uang jajan.

Didi merupakan anak dari keluarga yang mampu sedangkan aku berasal dari keluarga pas-pasan. Ayah ku petani dan ibuku adalah buruh masak tiap kali ada orang hajatan. Tapi aku sadar akan posisi ku sebagai orang yang kurang mampu. Dan aku jarang sekali meminta uang jajan kepada bapak dan ibuku.

Setiap hari Didi selalu diberi uang jajan dari orang tuanya sebesar 5 ribu untuk sekali berangkat sekolah. Bagiku uang sebesar itu banyak. Karena aku sendiri kadang oleh orang tua ku hanya kadang diberi 2 ribu malahan kadang hanya 1000. Tapi tidak mengapa aku selalu menerima apa yang sudah diberikan oleh orang tua ku dan aku bersyukur masih diberikan uang jajan oleh orang tuaku.

Didi selalu membagi uang jajannya kepadaku setiap hari walaupun kadang hanya seribu atau kadang dua ribu rupiah. Aku sangat senang karena aku jarang jajan dan tidak punya uang jajan. Sahabatku itu adalah sahabat terbaik yang pernah aku kenal.

Aku juga selalu bercerita apapun yang terjadi kepadanya dan iya pun juga selalu bercerita tentang kondisi keluarganya. Didi memang orang yang berada tetapi kondisi orang tuanya sudah sejak lama bercerai. Sedangkan aku walaupun orang kurang mampu tapi keluarga kami adalah keluarga yang rukun.

Didi bilang kepadaku bahwa ia sering cemburu kepadaku karena mempunyai keluarga yang utuh dan lengkap. Didi adalah anak tunggal sedangkan ayah dan ibunya telah lama bercerai dan ayah dan ibunya bekerja diluar negeri.

Aku sangat paham dengan kondisi keluarga sahabatku itu. Dan aku selalu memberikannya solusi jika ia kadang merasa kangen dengan ayah dan ibunya. Aku selalu mengajak nya ke rumahku agar dia seolah mempunyai keluarga ketika di rumah ku.

Didi saat ini tinggal hanya bersama nenek dan kakek nya. Ayah dan ibunya jarang pulang, kadang hanya sekali dalam setahun. Itupun tidak lama mereka di rumah.

Kadang dalam hatiku aku merasa sangat miris melihat dan merasakan perasaan sahabatku. Ia dari masih berumur satu tahun sudah ditinggal ayah dan ibunya karena bercerai dan bekerja di luar negeri. Walaupun kami masih duduk di bangku SD saat itu aku sudah paham dengan kondisi keluarga kami masing masing dan aku yakin dengan keluarga kami.

Didi selalu mengeluh dengan keadaan keluarganya walaupun dari segi materi dia cukup tapi Didi merasa dari segi kasih sayang dia tidak mendapatkannya. Aku mengerti dengan keadaan sahabatku itu. Nenek dan kakek nya sangat baik, tetapi iya tetap merasa iya kurang sempurna jika tidak ada ayah dan ibunya di sisinya.

Sampai saat kami duduk di bangku SMA pun Didi masih merasa kesepian karena ayah dan ibunya jarang pulang. Pernah aku berkata kepadanya “sabar kawan mungkin ini telah menjadi takdir tuhan, semoga tuhan memberi kita kehidupan yang lebih baik dimasa depan “

Aku sendiri heran mengapa orang tuanya sekejam itu hanya memberi Didi materi tetapi tidak memberi kasih sayang yang lebih. Dari sana aku banyak belajar tentang hidup dan kehidupan sahabatku itu. Dan aku sangat bersyukur dengan hidup ku sekarang.

… Sekian …

Mungkin saja, kisah dalam contoh cerpen tentang keluarga yang broken home di atas ada yang terjadi di lingkungan kita. Mungkin saja, kita bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi mereka yang kebetulan memiliki masalah yang sama. ingatlah, selalu ada dua sisi kehidupan, baik dan buruk, senang dan sedih. Tak perlu disesali, tak perlu ditangisi, yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi apa yang terjadi pada diri kita.

Bersikap jujur, berpikir positif dan selalu berusaha mengambil hikmah dan pelajaran atas apa yang terjadi menjadi hal yang sebaiknya kita lakukan. Mudah-mudahan apa yang kita baca di atas bukan hanya menjadi hiburan semata. Mudah-mudahan bisa menjadikan diri kita ingat akan saudara dan teman kita yang kurang beruntung.

Back To Top