Cerpen tentang Sahabat, Perpisahan Gadis

Hari ini ada sebuah cerpen tentang sahabat yang ingin saya berikan. Kisah ini ya bisa dikatakan cerpen tetapi bisa juga dikatakan cerita tapi bukan cerpen. Tepatnya kisah tentang seorang sahabat dekat yang sangat menyentuh hati.


Inti dari cerita berjudul "perpisahan gadis" ini sebenarnya sedih namun penulis menyampaikan dengan cara yang sedikit berbeda. Sedihnya adalah karena dua orang sahabat lama harus berpisah.

Saya sendiri sangat berharap cerita tentang sahabat yang akan saya berikan ini bisa menghibur kita semua dan tentunya juga bisa memberikan inspirasi bagi kita untuk lebih menghargai dan menyayangi sahabat kita.

Meski berbentuk cerita pendek namun kisah tersebut tidaklah panjang, mungkin hanya terdiri dari lima ratusan kata, kurang lebih. Jadi bisa selesai dalam sekali baca. Yang menarik, kisah persahabatan tersebut dikemas dengan bahasa yang cukup sederhana.

Alur ceritanya pun termasuk ringkas dan jauh dari kata kompleks. Alur ceritanya mengalir santai namun menghanyutkan. Bagaimana, mau ikutan membaca karya cerpen tersebut? Simak saja langsung karya sederhana tersebut di bawah ini.

Perpisahan Gadis
Puisi Terbaru Oleh Gunarto

Masih tergambar jelas alunan irama lagu itu saat kita berpisah dengan menyanyikan lagu yang sangat indah, lagu kesukaan kita berdua. Tapi itu dulu saat aku dan dia belum berpisah karena saat ini kita telah jauh mengurusi hidup kita masing masing.

Sore itu sehabis hujan aku datang ke rumahnya. Dengan keadaan basah kuyup aku mengetok pintu rumahnya dengan terburu buru sanbil berpikir aku sudah terlambat atau belum. Tapi syukurlah aku belum terlambat. Sambil ku mengetok pintu rumahnya dia keluar :

“Hai gadis apa kabar”
“Hai juga, apa kabar kamu.”

Aku menjawab “ baik, kamu bagaimana.”
Gadis : “yuk masuk, kok kamu basah-basahan.”

Aku : “ iya demi kamu.”
Gadis : “ kok demi aku.”

Kami pun masuk dan ia langsung menuju ke kamarnya untuk mengambil handuk. Karena saat itu kehujanan dan basah kuyup. Dia dari dulu tidak pernah berubah perhatiannya kepada ku. Kala itu aku berpikir, masih lama seperti dulu selalu perhatian. Gadis pun keluar dengan membawa handuknya dan menyerahkan kepadaku :

Gadis “ ini kamu keringin dulu, nanti masuk angin kamu,”
Aku : “ iya makasih ya Dis, kamu dari dulu tidak pernah berubah.”
Gadis : “memang dari dulu aku pernah berubah.”

Aku : “ ya tidak si, aku hanya bilang saja.”
Gadis : “ o ya kamu hari ini enggak kerja apa?”

Aku : “ sebenarnya kerja tapi karena tahu kamu mau pergi jadi aku minta izin kepada bos ku aku mau ada acara izinnya.”

Gadis : “ kok begitu sih, ninggalin kerja demi aku.”
Aku : “ ya enggak apa-apa kan aku sahabat kamu.
Gadis : “ o ya, nanti ya aku mau kebelakang dulu membuat minuman.”
Aku : “ ya sudah.”

Gadis pun menuju kebelakang dan membuat minuman untuku. Sambil menunggunya aku duduk di sofa melihat gitar gadis yang biasa gadis bawa kesekolah ketika ada ekskul seni. Tanpa berlama lama sambil menunggu gadis aku mengambil gitar itu dan bernyayi. Tidak berapa lama aku duduk sambil bernyayi ku lihat gadis keluar dari dapur sambil membawa kopi panas.

Gadis : “ ini kopinya diminum ya.”
Aku : “ iya sayang.”

Gadis :” hmmm dasar dari dulu enggak berubah kamu, sayang-sayang kan aku bukan pacar kamu.
Aku : “ ya enggak apa-apa si.”

Gadis : “ nanti pacar kamu marah .”
Aku : “ enggak lah.”

Aku pun mengajak gadis bernyanyi dan dia mau bernyanyi dan kulihat dia sangat senang. Karena hari itu adalah hari terakhir kita berjumpa, Cerpen tentang Sahabat. Aku dan gadis adalah sahabat sejati sejak dulu dan aku menyukai gadis tidak lebih hanya sebagai sahabat. Setelah beberapa lama kita teriak teriak karena tidak ada orang di rumahnya dan bernyanyi aku pun diam sejenak dan bertanya kepada gadis :

Aku : “ Dis kamu mau tidak aku bacakan puisi.”
Gadis : “ mau banget, coba si.”
Aku : “ ya sudah ku bacakan ya, ini………

Kucuran air mata tak dapat kubendung
Deraian panas hati tak dapat ku sesali
Begitu perih, dan sakit
Merana meratapi nasib ini yang tak kunjung usai

Bergetar ingin menangis 
Sadis rasanya hidup ini tanpamu
Seperti ingin naik ke atas bukit
Lalu terbang bersama jatuhnya dedaunan

Sepi, begitu sepi hati ini
Nan sadis sengsara ini menyapa ku
Ingin ku lupakan semua tentangmu
Namun kutak mampu

Terenyuh kalbu ini
Ingin ku luapkan dalam sebuah syair harapan
Tapi hanya emosi yang aku rasa
Saat bayangmu dipelupuk mata mimpi ini

“Bagaimana Dis, bagus tidak puisi ku itu yang aku bacakan.” Tanyaku kepada Gadis. Gadis pun menjawab “ bagus banget.”

Aku bilang kepada gadis bahwa itu adalah puisi kepedihan ku karena akan ditinggal olehnya saat itu aku berharap kepadanya untuk tidak melupakan ku saat dia jauh di sana. Tidak berapa lama aku pun pulang karena aku tidak mau sedih memikirkan gadis dan aku juga tidak mau membuat gadis sedih.

… Sekian …

Pendek, sederhana tapi ceritanya bagus. Biasanya cerpen seperti itu yang banyak disukai oleh rekan pembaca saat ini. Ya, mudah-mudahan berkenan. Sekedar mengingatkan saja, jika masih ingin membaca karya lain silahkan lihat dulu beberapa pilihan cerita yang sudah disiapkan dibagian bawah. 

Atau jika mau bisa juga mencari cerita-cerita menarik lainnya di kotak penelusuran. Saya rasa itu saja kali ini, semoga cerpen tentang sahabat tersebut berkenan di hati anda semua. Salam hangat dari kami!

Back To Top