Contoh Puisi tentang Politik Paling Baru

Niatnya hanya satu puisi tentang politik yang akan saya bagikan tapi agar contohnya lebih lengkap maka saya tambah lagi dengan satu judul lainnya. Karya puisi kali ini merupakan 2 contoh puisi yang secara khusus memuat tentang politik, jadi nuansa yang dirasakan pembaca akan sedikit berbeda jika dibandingkan dengan tema puisi lain.

Contoh Puisi tentang Politik Paling Baru
Foto: Ilustrasi
Kenapa membahas puisi tema politik segala, apa pentingnya? Ya tentu penting, puisi adalah karya sastra yang bisa mengungkap tema apa saja. Puisi juga tidak hanya melulu bertujuan untuk menghadirkan keindahan kata melainkan juga untuk menyampaikan makna terhadap berbagai hal.

Tema puisi bisa saja menggambarkan suatu hal, menjelaskan suatu hal atau bisa juga memberikan sindiran kepada orang. Lalu bagaimana dengan kedua karya tersebut? Puisi pertama berjudul "hati yang terkhianati".

Puisi tersebut menggambarkan rasa kecewa atau kekecewaan seseorang pada orang yang berkuasa. Sedangkan puisi kedua berjudul "perkumpulan rakyat anarki". Karya kedua ini sepertinya menggambarkan sebuah lembaga tertentu yang terdiri dari banyak orang. Lebih jelasnya lebih baik kita baca sendiri kedua puisi tersebut!

Hati yang ter khianati
Oleh Gunarto

Untuk apa kami pertaruhkan raga ku ini untuk mu
Hanya dengki yang kami dapat
Untuk apa kami menasihati
Jika kotoran yang kami dapat

Seperti layaknya para dewa
Engkau duduk di singgasanamu dengan anggun
Seperti rembulan di malam hari engkau bersinar
Tetapi engkau tak berarti apa apa untuk kami

Kebijakanmu seperti malaikat
Keanggunanmu seperti mengagumkan
Keharusan mu memberi kami warna untuk hidup kami
Tapi untuk apa semua itu

Engkau besar karna kami
Engkau makan juga karna kami
Haruskah engkau lupa jasad kami
Yang memberimu nuansa keindahan
Hati yang terhianati

Dapat kita lihat, puisi pertama di atas merupakan puisi yang cukup singkat karena hanya terdiri dari empat bait saja. Untuk tema sama dengan yang kita sebutkan di awal yaitu tentang politik. Sedangkan bahasa dari karya pertama di atas menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti. Sekarang kita lanjut saja ke judul kedua.

Perkumpulan Rakyat Anarki 
Oleh Gunarto

Mereka itu dibayar
Mereka itu kerja untuk berkumpul
Tapi mereka lupa siapa mereka.

Mereka itu didepan
Mereka dipuja
Tapi mereka lupa akhirnya

Saat mereka datang ke rumahnya
Mereka hanya bisa tertawa dengan rekannya.

Aku bingung melihatnya.
Apa aku harus bersorak sorai menantangnya
Aku bingung melihatnya
Apa aku harus membunuhnya

Tapi aku tau siapa diriku
Aku tau keharusanku
Tapi mereka menyedihkan

Tapi sudahlah aku tak tau harus bagaimana
Hanya bisa terdiam
Melihat monyet monyet belaka.      

Untuk contoh puisi tentang politik yang kedua tersebut memang lebih panjang dari yang pertama. Puisi terakhir ini terdiri dari enam bait yang lebih panjang. Tetapi untuk isi atau tema dari puisinya tidak berbeda jauh dengan yang pertama.

Lebih detail mengenai kedua karya tersebut bisa kita lakukan analisis terhadap unsur intrinsik, ekstrinsik atau gaya bahasa (majas) yang digunakan. Saya rasa itu saja untuk kali ini silahkan dilanjutkan!

Tag : Politik, Puisi
Back To Top