Cerpen tentang Kasih Sayang Ayah dan Ibu

Belajar dari cerpen tentang kasih sayang ayah dan ibu berikut kita akan mendapatkan nasehat yang sangat berharga. Karena, dalam cerpen berjudul "tak terukur tak terlihat" ini kita akan mendapatkan pencerahan bagaimana sebenarnya kasih sayang dari orang tua kepada anaknya.


Ingat kan, ada pepatah yang mengatakan bahwa sebuas-buasnya binatang dia tidak akan memakan anaknya. Ya, begitulah sedikit gambaran mengenai orang tua. Orang tua, bagaimanapun pandangan kita terhadap mereka, memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan kasih sayang yang mereka miliki.

Orang tua sebenarnya begitu menyayangi anak-anak mereka meski seringkali mereka tidak mengatakan langsung kepada kita. Itulah sebagian yang akan kita lihat dalam kisah cerpen ayah dan ibu berikut ini.
Cerita pendek yang akan kita baca tersebut menurut saya pribadi masih masuk dalam kategori cerpen singkat. Namun diantara cerpen-cerpen yang sudah kita baca di situs contohcerpen.com ini, cerpen ini lebih panjang yaitu sekitar tiga lembar kertas folio atau sekitar seribu kata lebih.

Tapi yang terpenting, cerita ini benar-benar bagus dan memberikan nasehat berharga bagi kita sebagai seorang anak. Mau tahu bagaimana cerita selengkapnya, baca langsung di bawah ini!

Tak Terukur, Tak Terlihat
Oleh Mandes Handoko

Semua orang berkata bahwa ayah dan ibu adalah dua orang yang akan memberikan seluruh hidup untuk anak yang dimiliki. Namun aku merasa itu bukanlah hal yang terjadi pada diriku. Ayah yang aku kenal adalah sosok diktator yang tidak pernah kalah dan mengalah serta selalu mengatur hidup ku.

Ibu yang aku kenal adalah orang yang selalu penuh dengan belenggu aturan yang sama sekali tak sesuai dengan zaman ku sekarang.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara memang banyak yang mengatakan bahwa aku pasti dididik dengan cara yang begitu tegas mengingat aku akan menjadi panutan dan contoh adik-adikku kelak. Namun itu semua tentu tidak adil, karena sering kali aku yang anak pertama harus menjadi yang kedua dimata mereka. Dari hal yang paling kecil, bahkan sampai hal besar.

“Yah, baru aku sudah jelek nih ya, beli baju baru dong..”
“Beli baju baru untuk apa, itu kan masih bagus, masih bisa dipakai….”

Banyak sekali hal-hal yang benar-benar membuat aku kesal dan jengkel. Untuk urusan baju saja aku tidak boleh, apalagi seperti anak lain yang hampir setiap bulan beli baju baru. Aku memang anak yang tidak beruntung, punya ayah dan ibu seperti mereka.

Apalagi ibu, adanya hanya menyuruh aku, harus cuci piringlah, harus bersih-bersih kamarlah, pokoknya semua harus aku kerjakan. Seperti kemarin, aku sedang lelah dan ingin istirahat sehabis pulang sekolah tapi aku disuruh membantu ibu membuat kue…

“Nilna, buruan sini…..”
“Ada apa si bu….. lagi nonton tv, capek…..”
“Nonton tv kan bisa nanti lagi, kamu kan tiap hari nonton tv, sekarang sini bantuin ibu dulu….”

Dengan perasaan jengkel akhirnya terpaksa aku beranjak dan membantu ibu membuat kue. Sampai sore, aku benar-benar lelah, padahal besok juga masih harus sekolah dan pekerjaan rumah pun belum dikerjakan.

Ya, memang sih, ibu ku memiliki usaha jasa pembuatan kue, ada kue ulang tahun, kue perkawinan sampai kue-kue lain. Sering benar aku harus ikutan bantuin ibu kalau ibu banyak pesanan, padahal aku masih kecil baru kelas dua sma.

Yang kadang membuat aku menangis, sebagai seorang anak gadis aku sama sekali tidak diijinkan keluar rumah. Kalaupun aku harus keluar rumah, seperti misalnya saat ada acara di sekolah aku harus berangkat dengan ayah, dan itu pun akan ditunggu sampai aku selesai. Karena itulah aku sering diejek oleh teman-teman sebayaku, seperti saat itu saat aku diundang acara ulang tahun teman….

“Hei Nilna, mana bodyguard kamu…. Gak mungkin kan kamu datang seindirian, anak papa….”

Karena tak tahan dengan ejekan teman-teman akhirnya waktu itu aku langsung pulang lagi. sambil menangis aku langsung berlari ke mobil dan minta pulang sama ayah.
“Ayah pulang…….”
“Kenapa Nilna, kenapa menangis, siapa yang ganggu kamu???”
“Pulang……!!!”

Akhirnya tanpa banyak bertanya lagi ayah langsung tancap gas dan membawa ku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku langsung pergi ke kamar dan mengunci kamar dan langsung tidur…. Saat itu aku benar-benar marah, kecewa dan begitu benci dengan perlakuan ayah dan ibu.

Kadang aku benar-benar mendambakan perlakuan yang berbeda dari mereka. Bisa dikatakan sebenarnya tidak ada keharusan bagi aku untuk hidup atau diperlakukan seperti itu. Keluarga kami mapan dan tak kurang suatu apapun namun aku tidak pernah sekalipun dapat menikmati kemewahan seperti mereka. Keadaan itu terus saja berulang dalam kehidupan ku sampai suatu ketika aku mendengarkan percakapan antara ayah dan ibu….

“Kasihan sebenarnya anak kita bu….”
“Kenapa pak, ada yang salah….”
“Iya… coba perhatikan Nilna, apa mungkin kita terlalu keras mendidik dia?”
“Benar pak, kadang aku juga kasihan melihat anak kesayangan kita itu… dia sepertinya belum tahu apa maksud dan tujuan kita….”
“Mungkin sudah waktunya kita lebih terbuka dengan dia bu….”
“Iya, bapak benar, mungkin sudah waktunya anak kita tahu lebih banyak….”

Aku kurang begitu paham dengan apa yang dibicarakan ayah dan ibu tapi yang jelas saat itu ada perasaan tidak enak di hati aku. Seperti ada rasa bersalah dalam diriku, aku mulai ragu, apa benar selama ini ayah dan ibu memperlakukan aku seperti itu karena tidak sayang padaku, apa bukan sebaliknya?

Ya sebagai anak remaja aku belum begitu mampu mencerna apa maksud dari mereka tapi yang jelas setelah percakapan itu ada sesuatu yang aku rasakan berbeda…

“Bu….. esok aku butuh beberapa pakaian tradisional, untuk pentas di sekolah…”
“Em…dalam rangka apa Nil… tumben….?”

“Iya, itu ada untuk penyambutan tamu gituh…..”
“Ow… ya sudah, nanti ibu temenin kamu nyari baju yang kamu butuhkan…”
“Ya sudah…. Ibu lanjut buat kue lagi ya…”

Sampai hari yang dikatakan, ternyata ibu tidak lupa, dan tidak ada alasan atau ocehan karena aku harus membeli berbagai keperluan. Tidak seperti biasanya dimana aku selalu dilarang dan tidak dapat menentukan apapun bahkan untuk baju yang ingin aku pakai sekalipun.

“Nilna…. Kamu jadi mau beli kebutuhan sekolah yang kemarin tidak…. Mumpung ibu belum sibuk nih….?”
“Apa bu…..”
“Itu, katanya kemarin butuh baju atau apa gitu untuk di sekolah….”
“Oh…iya, emang bener ibu mau nemenin, emang aku boleh beli benaran apa bu?”
“Ya benar…. Kan kamu butuh, ya sudah cepat, keburu ibu harus buat kue lagi…”

Aku pun bergegas, akhirnya sore itu aku mendapatkan semua kebutuhan untuk tari penyambutan di sekolah. Sesampainya di rumah ibu tidak banyak bicara dan langsung menuju dapur untuk menyiapkan berbagai kebutuhan kue. Dari ruang tengah aku melihat ibu yang sibuk dengan berbagai peralatannya. Akhirnya, seperti ada sesuatu yang mengajak kakiku melangkah dan menghampiri ibu.

“Bu….”
“Iya…. Ada apa?”
“Ibu bikin kue buat siapa…..?”

“Untuk tante anggi, mau ulang tahun keponakannya….”
“Aku bantuin ya….”
“Oh… iya nak, kebetulan nih pesanan ibu juga lumayan….”

Akhirnya, sore itu aku menghabiskan waktu untuk membantu itu. Itu adalah kali pertama aku membantu ibu dengan suka rela tanpa diminta. Dan setelah hari itu aku mulai sadar bahwa sebenarnya apa yang ayah dan ibu lakukan selama ini demi kebaikan ku.

Mereka ternyata ingin membekali ku dengan kepribadian yang baik dan tangguh, apalagi aku sebagai anak pertama yang akan menjadi contoh bagi adikku.

Jauh setelah kejadian itu sedikit demi sedikit aku mulai sadar bahwa aku sudah mulai dipercaya dan diberi tanggung jawab oleh kedua orang tuaku.
“Yah…. Boleh nanya tidak?”
“Ada apa Nilna….? Tanya aja….”

“Ayah kenapa sekarang tidak seperti dulu….?”
“Tidak seperti dulu bagaimana…..?”

“Ya… dulu kan kalau aku minta sesuatu pasti tidak boleh, apapun itu. Dan sekarang ayah selalu memenuhi keinginanku….”
“Sepanjang itu baik, ayah pasti penuhi… kalau dulu ayah hanya ingin kamu belajar dan tahu mana yang baik dan mana yang buruk…. Sekarang seharusnya kamu sudah mulai bisa memilah jadi ayah kasih kamu seperti yang seharusnya….”

“Memang kenapa yah….?”
“Ya itu… kamu harus belajar banyak hal dan sekarang kamu harus mulai belajar memikul tanggung jawab…. bukan hanya mengandalkan kasih sayang ayah dan ibu saja. Ayah melakukan semua itu karena ayah sayang sama kamu nak, ayah kerja juga hasilnya untuk kamu…”

Dari percakapan kala itu aku akhirnya tahu betapa besar rasa kasih sayang ayah dan ibu kepadaku. Apalagi beberapa kali aku tak sengaja mendengar percakapan mereka mengenai apa-apa yang akan mereka siapkan untuk ku. Dan mulai sekarang, aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ayah dan ibu.

---Tamat---

Tag : Ayah, Cerpen, Ibu, Keluarga
Back To Top