Contoh Cerpen tentang Anak Durhaka

Sedang mencari cerpen tentang anak durhaka? Tenang, tidak rugi memang kalau sering berkunjung ke situs ini karena kali ini juga akan diberikan sebuah contoh cerpen singkat dengan tema nasehat. Cerpen tersebut berjudul "menggali kubur sendiri" dan merupakan cerpen yang berkisah tentang anak durhaka kepada orang tua. Seperti apakah kisah cerpen tersebut?

Dalam cerita cerpen berikut, dikisahkan ada seorang anak yang suka membantah perkataan orang tuanya. Anak tersebut sama sekali tidak menurut dan benar-benar bandel. Kalau orang tuanya minta tolong ia tidak pernah mau dan kalau di beri nasehat pasti membantah. Karena ulah dan kelakuannya tersebut akhirnya ia mendapatkan balasan.

Saat itu baru ia menyadari bahwa karma perkataan buruk dari orang tua khususnya ibu memang benar-benar bisa terjadi. Seperti apakah kisah selengkapnya, mari kita baca langsung cerpen tentang anak durhaka tersebut di bawah ini.

Menggali Kubur Sendiri
Oleh Mandes

Diperlakukan seperti anak pungut, aku adalah anak bungsu yang serba tidak beruntung. Sumber masalah dan ketidak adilan tersebut adalah tingkat kecerdasan ku yang dibawah rata-rata. Sejak kecil, mulai dari taman kanak-kanak aku jauh dari prestasi. Karena itu aku bagai itik di rumah sang angsa, disisihkan, selalu dicela.

Tentu saja, sewaktu kecil aku hanya bisa menangis, merengek dan marah. Benar-benar terlalu, aku perlakukan seperti tidak ada harganya, bahkan untuk hal yang aku tak mampu pun aku terus saja dipaksa. Mereka hanya ingin aku sempurna, dan tidak mau menerima aku apa adanya. Perasaan benci akhirnya mengular dan setia menemani hari ku.

“Ndi… tolong beli cabai di warung bu Darmi…”
“Malas…. ibu sendiri aja yang ke warung…”
“Andi……!!!!”
“Malas bu…….”

Ingat benar kala itu aku diminta untuk membelikan belanjaan dapur oleh ibu. Jelas saja aku menolak, aku kan malu sebagai anak laki-laki di suruh ke warung membeli kebutuhan dapur. Tapi ibu tak mengerti perasaan ku, padahal aku sudah SMP dan banyak teman lain yang suka mencaci dan mengejek aku di sekolah. “Anak mami… anak mami….” Begitulah mereka sering mengejek aku.

“Kamu tuh ya Ndi, jadi anak pemalas benar…. Mau jadi apa kamu nanti… oceh ibu kala itu, “kamu pikir hidup ini gampang!!”

Semakin hari rasa benci di hati ini semakin besar. Sampai aku bahkan tak peduli lag ketika ibu atau ayah mengatakan aku akan menjadi anak durhaka kelak jika terus melawan orang tua.

“Kamu mau jadi anak durhaka….”
“Tidak…..”
“Makanya jangan membantah perkataan orang tua, yang nurut….”
“Enggak….”
“Lihat tuh pak, anak mu, tiap kali dinasehati selalu begitu…”

Karena tidak betah dan pusing ketika di rumah di marah terus maka akhirnya aku sering main, pergi bersama teman-teman. Lama kelamaan, waktu berlalu dan akhirnya aku pun terbiasa dengan kehidupan liar di luar rumah. Aku pun semakin berani membantah setiap perkataan ayah dan ibu. Sampai suatu hari…

“Ndi…..!!! dari mana saja kamu seharian baru pulang….! Tidak punya pikiran kamu ya!!!”
“Diamlah bu!!! Aku capek ingin istirahat!!! Lagian ibu ini kenapa sih, aku di rumah salah, di marah terus, aku pergi main sama teman di marah lagi. Ini salah, itu salah…. Salah terus aku ini…!”
“Kamu ya Ndi, ibu-nya baru ngomong sekali kamu sudah nyerocos terus, mulutmu itu besok bisulan baru tahu rasa….”
“Bodo…..!”

Kata orang ini adalah karma pertama ku karena melawan orang tua. Setelah ibu berkata seperti itu dua hari kemudian bibir ku tiba-tiba bengkak tak tahu entah terkena apa… rasanya gatal dan sakit….. tapi aku tak percaya kalau itu karena aku membantah perkataan ibu.

“Bibirmu terkena apa Ndi…..?” tanya ibu
“Gak apa-apa” jawabku singkat
“Itu lah karena kamu membantah ibu terus, itu gak akan sembuh Ndi sebelum kamu minta maaf sama ibu…” lanjutnya
Aku hanya diam berlalu dan tidak perduli dengan perkataan ibu. Dan akhirnya pun perkataan ibu tidak terbukti, dua hari selanjutnya bibir ku sembuh dengan sendirinya. “Jadi tidak ada yang namanya karma dan durhaka”, ucap ku dalam hati. Tiga bulan berlalu, saat itu tepatnya di awal tahun baru satu kejadian menimpa ku lagi…

“Ndi… yuk keluar, ini kan malam tahun baru, pasti ramai….”
“Yuk….”
“Mau acara apa kita…..”
“Kita bakar gurame dan pesta petasan dan kembang api….”
“Oke…yuk….”

Malam tahun baru itu menjadi malam yang begitu menyenangkan sekaligus malam yang menjadi titik tolak aku berubah.

“Woiii…. Seru, awas Ndi….”
“Tar….tar…tar….”
“Aui…… adooh…..”

Sedang asyik pesta petasan ternyata tanpa sengaja satu petasan yang lumayan besar melaju ke wajah ku dan meledak tepat di depan mulut ku. Wal hasil, ya…. Bibir ku terluka cukup parah hingga akhirnya aku harus pulang dengan darah yang mengucur.

Aku tak mau diomeli atau di marah lagi oleh ibu atau bapak. Akhirnya aku langsung menuju ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Di dalam langsung ku obati luka ku dengan betadin dan menempelnya dengan perban….

Malang nian nasib ini, ternyata bukannya sembuh dan membaik luka di bibir tersebut justru tambah parah, dan aku tetap saja tidak menceritakannya kepada ibu atau ayah.
“Kenapa lagi itu Ndi….”
“Gak apa-apa…”

Aku selalu menghindar ketika ditanya oleh orang tuaku hingga akhirnya, keadaan ku sampai bertambah parah. Barulah setelah itu aku tidak bisa berbuat banyak dan menyerah. Saat orang tuaku mengetahuinya mereka langsung membawa ku ke rumah sakit. Sekilas terlihat jelas di raut muka mereka bahwa mereka sepertinya khawatir terhadap keadaan ku.

“Kasihan anak kita itu bu…..”
“Iya pak… tapi wong bandel ya biarin aja biar dia belajar….”
“Ya tapi ibu juga salah loh, tidak baik kalau suka berkata buruk kepada anak….”
“Laa… kapan to ibu berkata tidak baik sama anak kita…. Gak pernah pak….”
“Halaah… ibu tu tidak usah sok pikun, kemarin yang bilang jontor-jontor itu siapa….?? Hayo ngaku…..”
“Ya habisnya ibu kesal sih pak sama Andi…..”
“Ya tapi apa ibu gak kasihan sama dia, coba dilihat, kalau sampai tidak sembuh, ibu bakal punya anak yang….. amit-amit deh…..”

Ibu hanya terdiam mendengar perkataan bapak, dan saat itu aku tanpa sengaja melihat ibu meneteskan air mata. Entah karena perkataan bapak atau karena apa aku tidak tahu…
“Maafkan ibu Ndi, andai saja ibu bisa lebih sabar lagi, mungkin kamu tidak perlu mengalami hal ini….”

Di desa kami ikatan kekeluargaan masih sangat kental. Jadi ketika aku dirawat banyak sekali tetangga yang datang menjenguk…. Diantara orang yang menjenguk tersebut ada nenek Ijah yang memang cukup baik. Saat dia menjenguk tiba-tiba ia berbisik “Nak…. Minta maaf sama ibu ya, biar kamu cepat sembuh….”.

Tiba-tiba dadaku berdetak kencang, aku seperti membenarkan perkataan Mbah Ijah yang menasehati ku. Malam harinya, tiba-tiba ibu mendekati ku… dan ketika ibu mendekati ku aku langsung pura-pura tertidur.

“Semoga cepat sembuh ya nak…”

Aku hanya terdiam, dan pagi harinya ketika ibu menyuapi aku, aku langsung meminta maaf sama ibu karena aku selama ini sudah selalu membantah perkataan ibu. Saat itu aku sadar bahwa dengan membantah perkataan ibu dan orang tua kita itu berarti sama saja aku menggali kubur ku sendiri.

---Tamat---

Ya kalau dilihat dari alur ceritanya, cerpen anak durhaka di atas bisa dikatakan sebagai cerpen lucu atau komedi karena di dalamnya dimuat kisah yang penuh mata namun dengan situasi dan kejadian yang unik. Mungkin tidak begitu bagus namun saya harap kisah di atas bisa menjadi tambahan referensi bagi kita semua yang membutuhkan cerita-cerita menarik.

Saya berharap pengunjung semua bisa berkenan dengan cerita di atas. Dan, sekedar mengingatkan saja, jika dirasa kurang silahkan cek dan baca juga beberapa kisah lain yang juga cukup menarik yang sudah disiapkan dibagian akhir cerita ini. Jangan lupa untuk mencatat alamat situs ini untuk tambahan referensi mencari cerita cerpen terbaru yang bagus-bagus. Itu saja, selamat membaca!

Tag : Cerpen, Nasehat
Back To Top