Cerita Cerpen Pelajar, Perjuangan Demi Sekolah

Ada lagi sebuah contoh cerpen pelajar yang membahas tentang seputar pendidikan dan pelajar. Cerpen yang satu ini cukup singkat dengan bahasa yang sederhana namun ceritanya menarik. Pada cerpen berjudul “Perjuangan Demi Sekolah” berikut kita akan mendapatkan kisah menarik tentang seorang anak yang memperjuangkan diri untuk terus melanjutkan studi sampai jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kalau dilihat dari judulnya mungkin kita sudah bisa menebak bagaimana kisah tersebut. Ya, cerpen tentang pelajar tersebut memang menceritakan seorang anak yang sangat ingin melanjutkan sekolah namun terbentur dengan keadaan.

Terlahir di keluarga yang miskin membuat ia harus berjuang untuk meyakinkan orang tua agar direstui untuk melanjutkan sekolah. 

Lumayan sedih dan mengharukan, dan tentunya dapat menjadi sumber inspirasi agar kita lebih semangat lagi dalam belajar. Ingin tahu bagaimana kisah selanjutnya, mari baca langsung di bawah ini!

Perjuangan Demi Sekolah
Oleh Gunarto

Maafkan aku ayah. Aku adalah orang yang terlahir dari keluarga miskin. Ayah dan ibuku adalah buruh tani lepas yang kadang hanya di bayar 40 ribu dalam satu hari. Tapi kami tak pernah mengeluh. Hanya saja aku kadang kecewa dengan kehidupan ku ini.

Aku terkadang merasa bosan dengan hidup ku yang serba pas pasan. Makan seadanya, sekolah seadanya dan berbuat main-main juga seadanya. Kadang aku merasa bosan hidup seperti ini.

Pernah suatu ketika aku meminta untuk melanjutkan sekolah ku ke SMA favorit di desa ku tapi ayah ku tidak mengizinkan karena ayah tidak punya biaya alasannya. Aku merasa frustrasi dengan keadaan saat itu, aku ingin melanjutkan sekolah tapi orang tua tidak memiliki biaya yang cukup untuk aku melanjutkan sekolah ku. Aku pun lantas berbicara kepada ayah mengapa ayah tidak mau menyekolahkan ku padahal aku ingin sekali melanjutkan sekolah ku sampai tinggi.

Ayah mengatakan jangankan untuk biaya sekolah untuk makan saja kita tidak mampu untuk memberikan yang enak, maklumlah keluarga kami adalah keluarga buruh tani yang makan hanya seadanya. Untuk dapat membiayai sekolah kami harus mengeluarkan biaya ekstra karena penghasilan orang tua hanya cukup untuk membeli beras dan makanan.

Adikku sendiri saat ini juga masih sekolah semua. Jadi beban hidup orang tua kami masih menumpuk dan itu merupakan kepedihan tersendiri untuk kami. Adik ku sendiri ada tiga orang dan semuanya masih bersekolah. Beban yang sangat berat bagi ayah ku jika aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah.

Setelah aku berfikir matang matang akhirnya aku memutuskan untuk tidak memaksakan diri melanjutkan sekolah ku dan memilih untuk bekerja dan mencari uang terlebih dahulu baru kemudian setahun setelah itu melanjutkan sekolah.

Setelah mendapatkan pengarahan dari orang tua terutama ayah tentang kondisi keluarga. Aku akhirnya memutuskan untuk pergi merantau untuk mencari uang sendiri untuk biaya sekolah ku di tahun depan. Aku pun mencari cari pekerjaan itu dan lebih banyak bertanya kepada orang orang yang sudah banyak merantau ke negeri seberang, atau di Jakarta tepatnya.

Setelah aku banyak bertanya kepada teman teman ku yang bekerja di Jakarta, dapatlah aku satu lowongan pekerjaan sebagai tukang kebun, yang pekerjaannya adalah menjadi pekebun yang setiap hari menyapu dan mengurus lingkungan rumah majikan tempat teman ku bekerja. Aku pun menyanggupi pekerjaan itu dan aku mau dan sanggup melaksanakan pekerjaan itu.

Tidak lama beberapa minggu kemudian aku berangkat ke Jakarta untuk bekerja sebagai pekebun karena aku ingin sekali bekerja untuk dapat mendapatkan uang untuk biaya sekolah ku.

Hari hari ku jalani sesampainya aku di Jakarta, dengan ketekunan hati aku bekerja sampai akhirnya aku genap hampir satu tahun bekerja di Jakarta tanpa pulang kampung. Setelah aku mendapatkan cukup biaya aku memutuskan untuk pulang kampung untuk melanjutkan sekolah ku. Aku pun pulang dan melanjutkan sekolah ku. Sampai disitu dulu ya cerita ku.

…. Sekian ……

Tiada gading yang tak retak, begitu pun dengan cerpen pelajar di atas. Mungkin karya di atas masih jauh dari sempurna maka dari itu kritik dan saran tentunya penulis harapkan untuk bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi di kemudian hari. Tak lupa, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca semua yang telah sudi meluangkan waktu untuk menikmati berbagai kisah yang disajikan. Itu saja untuk kali ini, sampai bertemu di kisah selanjutnya.

Back To Top