Cerpen Keluarga tentang Kesedihan

Cerpen Keluarga tentang Kesedihan - Berikut ini adalah sebuah cerpen tentang masalah keluarga yang terinspirasi dari kehidupan nyata sehari-hari. Ceritanya sangat menyentuh hati dan sangat menarik untuk dibaca karena didalamnya terdapat hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.


Saat membaca kisah ini kita akan ikut merasa sedih, terharu dan bisa ikut merasakan kesulitan yang digambarkan penulis.

Dikemas dalam bahasa yang sederhana, cerpen keluarga tersebut sangat cocok untuk dijadikan bahan bacaan kala senggang. Kebanyakan cerpen kehidupan yang mengangkat tema-tema kehidupan sehari-hari memang begitu menyentuh hati.

Bahkan sebagai pembaca kadang kala kita bisa ter larut dan benar-benar ikut merasakan kesulitan-kesulitan hidup yang digambarkan seperti pada cerita berjudul “sedihmu sedihku” tersebut.

Tapi sudahlah, kita jangan ikut sedih dulu, lebih baik kita cek juga beberapa cerita lain yang tema-nya mirip dengan cerpen tersebut di bawah ini.

1) Cerpen tentang keluarga miskin
2) Cerpen tentang keluarga bahagia
3) Cerpen tentang keluarga broken home
4) Cerpen tentang keluarga islam
5) Cerpen tentang keluarga sedih
6) Cerpen tentang keluarga berantakan
7) Cerpen tentang keluarga sederhana

Kalau membaca cerpen sedih siapa yang tidak ikut sedih coba? Apalagi dengan cerpen tentang keluarga berikut ini. Cerpen ini begitu jelas menggambarkan kesulitan sebuah keluarga kecil dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Harus berjuang, harus berkorban dan bahkan kadang kala harus menahan rasa lapar. Lalu seperti apakah kisah dalam cerpen tersebut? Mari kita baca bersama-sama ceritanya di bawah ini.

Sedihmu Sedihku
Oleh Gunarto

Sedih rasanya kala membayangkan kejadian itu. Sore itu aku melihat ibu yang sedih karena beras yang kita punya sudah habis dan ibu tidak memiliki uang lagi untuk membeli beras lagi.

Aku sendiri merasa terenyuh karena pada saat itu aku juga tidak memiliki uang untuk membantu ibu membeli beras. Hanya sedih dalam hati ini, ingin membantu tetapi tidak memiliki apa apa.

Mungkin itu adalah sepenggal cerita ku kala itu. Keluarga kami adalah keluarga yang kurang mampu dari segi ekonomi, karena kami sekeluarga adalah keluarga yang hanya mengais rejeki dari buruh tani. Tapi kami tidak pernah mengeluh tapi terkadang memang ada saja kekurangan dalam keluarga ku.

Aku dan keluarga ku menggantungkan hidup dari bertani dan dari buruh tani. Jangankan keluarga ku menyekolahkan anak anaknya sampai perguruan tinggi, untuk biaya makan sehari hari saja kami harus benar benar bisa mengatur pengeluaran dan pendapatan kami sehari hari.

Keluarga ku bertani dan buruh tani hanya mendapatkan 40 ribu dalam satu hari. Angka itu tidak mencukupi kebutuhan makan kami setiap hari dari anggota keluarga kami yang berjumlah 6 orang. Perih rasanya hidup ini kala membayangkan semua kenangan yang sudah terjadi.

Pagi itu aku dan ayah ku ingin berangkat bekerja. Seperti biasanya sebelum berangkat bekerja sarapan atau makan pagi merupakan kewajiban kami.

Karena makan pagi adalah hal yang utama. Hal itu adalah untuk dapat kami bekerja dengan baik jadi kami harus sarapan pagi. Sebelum sarapan kami bisa minum kopi bersama sama.

Kemudian setelah kami minum kopi kami bergegas menuju ke dapur untuk sarapan pagi. Betapa terkejut aku melihat ibu aku merasa sedih dan perih karena ibu menangis karena sudah tidak memiliki beras untuk ibu masak.

Aku merasa terenyuh kala melihat ibu menangis karena tidak memiliki beras untuk ibu masak. Aku pun bergegas, menghampiri ayah dan membicarakannya kepadanya bahwa ibu tidak memiliki beras lagi untuk di masak.

Aku bertanya pada ayah apakah ayah memiliki uang untuk membeli beras. Ayah pun menjawab bahwa ayah tidak memiliki uang sama sekali. Kerja selama seminggu kemarin belum di bayar oleh tuan tanahnya katanya.

Aku bingung saat itu harus bagaimana aku menyelesaikan masalah ini sedang ku sendiri terkadang bekerja hanya membantu ayah di ladang. Aku merasa gagal sebagai anak laki laki kala itu.

Bagaimana tidak, aku melihat ibu menangis karena tidak memiliki beras untuk ibu masak tetapi aku diam saja karena tidak memiliki uang sepeser pun untuk dapat aku belikan beras untuk ibu.

Sakit rasanya hati ini kala itu membayangkan ibu ku menangis. Terkadang dalam hati aku merasa betapa bodohnya aku sebagai anak laki laki tidak dapat memberikan sesuatu yang berguna bahkan membantu untuk keluarga ku.

Aku merasa bosan di rumah kala membayangkan kejadian itu. aku merasa terpukul aku harus lebih. Semenjak kejadian itu aku memutuskan untuk selalu bekerja keras dan menghargai rupiah yang aku dapatkan.

Selang beberapa saat aku berfikir, aku akhirnya memutuskan untuk meminjam uang kepada teman ku dengan alasan untuk membayar sekolah ku. Tetapi teman ku itu malah melebihi uang yang aku pinjam.

Akhirnya aku langsung pulang dan memberikan uang itu kepada ibu. Dan alhamdulillah ibu mau menggunakan uang yang aku pinjam dari teman ku itu dan tidak mempertanyakan dari mana aku mendapatkan uang itu.

Begitu lega-nya hatiku saat aku melihat ibu baik baik saja tidak sedih lagi. Mungkin saat ini aku dapat menghentikan kesedihan ibu ku tetapi aku belum bisa jika suatu saat hal itu terulang kembali.

Sakit rasanya melihat ibu sedih, perih karena aku sebagai anak laki laki belum bisa membahagiakan ibu ku. Terlebih keluarga ku. Semoga pelajaran ini memberikan ku hal yang baik untuk hidup ku di masa yang akan datang.

……. Sekian ……. 

Semoga ada hikmah yang bisa kita petik dari Cerpen tentang Keluarga yang berjudul "Sedihmu Sedihku" di atas.

Dan semoga ke depan tidak ada lagi satu keluarga pun yang mengalami kesulitan hidup seperti yang dialami dalam cerita tersebut, mudah-mudahan.

Sekarang, sebelum beranjak dari cerita ini silahkan baca juga beberapa cerpen pilihan yang sudah disiapkan dibagian akhir cerita ini.

Back To Top