Naskah Teater, Menjadi Satu Dalam Detik Segmen 2 dan 3

Berikut ini adalah contoh naskah teater atau drama juga bisa yang merupakan lanjutan dari segmen sebelumnya. Naskah ini merupakan lanjutan dari naskah "menjadi satu dalam detik" yang merupakan tema remaja sekolah.


Bagi yang sedang mencari - cari contoh naskah teater bisa menggunakannya sebagai bahan belajar dalam membuat naskah sendiri. Selain itu karena cerita yang ada di karya ini cukup menarik maka bisa juga digunakan sebagai hiburan.

Bukan cuma menarik, ada adegan-adegan kocak yang lucu dan juga menyentuh hati. Tidak percaya, penasaran dengan ceritanya? Lebih baik kita baca langsung selengkapnya di bawah ini.

(Sekmen kedua)
Datang Susaleh dan Huda. Sri dan Fadia menuju keluar dari kelas. Tiba-tiba saja Sri jatuh. Sebagai Ketua kelas yang sangat bertanggung jawab, Susaleh langsung membantu Sri berdiri dan Fadia memberi ruang pada Susaleh untuk membantu membangunkan Sri dan tanpa Fadia sadari ada Huda di belakangnya. 

Nanung dan Rubai : “ciyee ciyee ciyee”
Fadia : (memalingkan wajah) “eh maaf da” (menarik Sri)

Huda : (terpana) “eh iya enggak apa-apa Fad”
Sri : “ayo Fad. Duh malu banget aku tadi” (senyum-senyum sendiri)

Fadia : “ciyee adegan apa itu tadi” (tertawa, menggoda Sri)
Sri : “apaan sih, aku kan sekolah buat belajar bukan buat pacaran!”

Fadia dan Sri pergi keluar kelas menuju kantin. Sedangkan didalam kelas masih ada Nanung, Rubai, Huda dan Susaleh.

Huda : “eh ada Nanung sama Rubai, berdua terus”
Nanung : “iya dong! Emang kamu enggak punya pacar”

Huda : “bangga. Punya teman satu aja bangga.Bangga itu kalau punya teman banyak!”
Nanung : “berdua juga bisa apa-apa kok. Jalan berdua, makan berdua. Lebih romantis”

Huda : “tapi enggak asyik kan? Kamu enggak pernah merasakan rasanya jalan ramai, main ramai, Lagi pula kalau Rubai meninggal, kamu mau tetap berdua sama dia terus? Enggak kan..”

Nanung : “iya sih, selama pacaran teman ku cuma dia. Teman ku yang dulu jauh sama aku semenjak aku punya pacar juga. Soalnya aku terlalu terpaku sama pacar da. Padahal kan kalau nanti aku putus, aku butuhnya teman. Bukan pacar”

Susaleh : (mengunyah makanan) “nah iya kan! Ya sudah sekarang ke kantin bareng yuk!”
Huda : “makan terus kamu mah. Ya udah ayo. Ikut enggak kalian?”
Nanung dan Rubai : “ikut!”

(sekmen ketiga)
Contoh Naskah Teater, Menjadi Satu Dalam Detik

Mereka pun pergi ke kantin.

Di kantin... 
Sheila : “eh sudah ada tukang bakso! Beli bakso yuk!”

Fadia : “mang dua mangkuk ya, yang satu campur yang satu juga campur tapi jangan pakai mie kuning, sama mie soun.”

Huda : “mang aku juga dua mangkuk. Yang satu jangan pakai saus, yang satu jangan pakai sambel!”

Nanung : “mang dua mangkuk juga, yang satu enggak pakai mie putih. Yang satu lagi jangan pakai mangkuk!”

Siti : “mang aku tiga mangkuk ya. Satu campur, satu enggak saus, satu enggak pakai sambel tapi pakai mangkuk juga ya!”
Mang Sarjono : “oke oke!”

Tidak lama kemudian...
Mang Sarjono : “nih buat neng Fadia, Ini buat neng Nanung, ini buat Huda, ini buat neng Siti. Semuanya seperti yang diinginkan”

Fadia : “dih mang, kan aku mah enggak pakai mie kuning sama mie soun?”
Mang Sarjono: “duh lupa neng”

Nanung : “dih iya mang yang aku juga enggak pakai mie putih? Terus yang satunya enggak pakai mie kuning?”

Mang Sarjono: “wah lupa neng!”
Huda : “kok yang aku pakai saus sih? Kan aku minta pakai sambel bukan pakai saus mang. Kalau yang si Susaleh pakai saus enggak pakai sambel! Berarti yang aku sama yang Susaleh tertukar! Sus tukar Sus!”

Mang Sarjono: “dih lieur kamu mah Huda!”
Huda : “hehee”

Siti : “loh satu lagi yang aku mana mang? Yang campur?”
Mang Sarjono: “wah neng, abis bakso nya..maaf ya”

Siti : “dih mang! Saya gak kebagian dong? Dih emang mah ah!!” (cemberut)
Susaleh : “hahaa.. jadi enggak kebagian bakso!”(tertawa)

Sri : “Sudah jangan cemberut, nih yang aku buat kamu aja. Sama ko, campur juga.”
Siti : “enggak apa apa?”

Sri : “iya enggak apa apa. Kita kan teman” (tersenyum)
Siti : “terimakasih yah sri.” (tersenyum)

Siti mulai bisa mengetahui sisi baik dari setiap orang yang ia anggap rendah dari padanya. Dan dia, tak memandang orang rendah lagi semenjak Sri berbaik hati padanya.

Para murid di kantin sekolah melahap habis bakso-nya hingga datang tukang kue keliling yang setiap hari menyempatkan diri menjajakan kue buatannya ke kantin sekolah..

Pak Wika : “kuee kuee, neng kue neng..”
Sheila : “sudahlah enggak akan ada yang beli pak!”

Pak Wika : “yeh kali aja ada yang beli neng!”
Sheila : “sudah pulang aja lah!” (mendorong Pak Wika)
Sri : (menolong Pak Wika) “kamu jangan gitu Shel!”

Sheila : “biar aja suruh dia pulang!”
Teman2 : (prihatin melihat Pak Wika)
Destra : “kamu apa-apa sih Shel?”
Sheila : “kenapa? Emang dia malu kan!”

Destra : (menuju Pak Wika) “kamu malu? Aku aja yang enggak punya bapak enggak malu! Kamu enggak sedih bapak kamu diperlakukan seperti itu? Sumpah kalau aku sedih!! Kasihan! Kamu mempermalukan diri kamu sendiri!”

Huda : “nih ya shel! Yang mencari nafkah buat kamu siapa?”
Sheila : (menunduk) “bapak”
Nanung : “yang bayar spp kamu siapa?”

Sheila : “bapak”
Destra : “yang kamu dorong tadi siapa?”
Sheila : “bapak”

Siti : “kalau emak sama bapak enggak ada. Kamu ada enggak?”
Sheila : “enggak”

Susaleh : “mau minta maaf sama bapak enggak ?”
Sheila : “ tidak mau”
Huda : “astaga apa-apaan kamu ini”

Sheila : “ memang kenapa ? masalah buat kalian semua hah?!”
Huda : “pikir kamu! Seseorang yang kamu suruh pulang ini bapak kamu!”

Sheila : “ emang apa urusan kalian?! Kalian enggak tau apa-apa tentang kehidupan aku!”
Pak Wika : “ sudah nak, bapak tidak apa-apa”

Susaleh : “ Pak, maafkan Sheila ya. Mungkin dia sedang emosi, nanti saya dan teman-teman akan menasehati dia”

Pak Wika : “ Jangan! Biarkan saja, bapak enggak mau pertemanan kalian hancur hanya karena Sheila tidak mau meminta maaf kepada bapak. Bapak juga sudah tidak merasa sakit hati”

Sheila : “ Sudah sana pulang saja, dasar malu-maluin! “
Nanung : “ Keterlaluan kamu Sheil! Kamu saja sana yang pergi. Dasar anak tak punya balas budi! “

Sheila : “ Oke !! aku yang akan pergi kalau bapak tidak mau pergi!” ( pergi menuju kelas )
Nanung : “ Pak, maafkan Sheila ya”

Pak Wika : “ Sudah tidak apa-apa. Bapak baik-baik saja kok”

(Ost. bel)

Pak Wika : “sudah bel nak, sana masuk kelas!”
Teman2 : “Iya pak, kami tinggal dulu ya.

Pak Wika : “iya, belajar yang rajin ya . Biar bisa banggain bapak-bapak kalian dirumah”
Teman2 : “iya Pak..” 

Bersambung ke "Menjadi Satu Dalam Detik Segmen 4

Back To Top