Gara Gara Handphone, Cerpen Singkat Terbaru

Cerita pada cerpen singkat terbaru ini sebenarnya berkisah tentang kehidupan seseorang yang bergelut dengan masa lalu. Bisa dikatakan cerpen ini merupakan cerpen cinta, namun di pilih judul "gara-gara handphone" yang memang sepertinya kurang cocok. Inti dari kisah ini sebenarnya bukan masalah handphone namun berkaitan juga dengan hp atau ponsel. Mau tahu bagaimana sebenarnya kisah dalam cerita pendek tersebut?

Gara Gara Handphone, Cerpen Singkat Terbaru

"Gara-gara handphone" mengisahkan sebuah kejadian yang terjadi pada seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Latar belakang kisahnya, mahasiswa tersebut sedang gundah dan perasaannya sedang tidak begitu baik karena kehidupan asmara. Dia telah dikhianati oleh kekasihnya dan karena itu ia gelisah dan terbawa saat ia mengikuti perkuliahan.

Ceritanya, dalam keadaan perasaan yang tidak karuan ia seperti biasa mengikuti sebuah mata kuliah. Di dalam kelas ia mengambil tempat duduk paling belakang, di pojok ruangan. Karena perasaan yang tidak fokus maka ketika dosen memberikan kuliah ia justru sibuk dengan handphone.

Ketahuan dosen akhirnya ia ditegur, dan ternyata gara-gara ponsel tersebut akhirnya ia diusir keluar kelas. Karena di dalam kelas secara tidak sengaja ponselnya beberapa kali berbunyi dan mengganggu kuliah yang sedang berlangsung.

Diluar akhirnya ia melihat ada beberapa pesan dalam ponselnya yaitu pesan dari sang mantan kekasih yang sebelumnya telah menyakiti hati-nya. Karena tidak ingin kejadian terulang dan kuliah-nya berantakan akhirnya ia mengambil keputusan untuk "move on". Ia pun membuat kartu ponselnya agar tak diganggu sang mantan lagi. Bagaimana kisah selangkapnya, mari kita baca cerpen singkat terbaru tersebut di bawah ini.

Gara Gara Handphone
Cerita Oleh Irma

Sudah lebih dari jam 9 pagi tapi udara masih begitu dingin, matahari pun belum nampak di langit. Hari ini aku benar-benar malas, serasa tidak ada gairah untuk menjalani rutinitas yang begitu membosankan.

Ya, hidupku beberapa bulan ini memang begitu monoton dan tidak ada yang menarik. Sebagian besar kegiatan hanya berkutat seputar kampus dan kos-kosan. Sama sekali tidak ada hal menarik. “Mungkin aku harus cari pacar baru”, gumamku dalam hati. 

Semenjak putus dari Dinda hidupku memang seolah menjadi hampa, tak ada masalah tapi juga tak ada keindahan yang ku rasakan. Seperti hari ini, aku hanya terpaku menatatap hampa saat dosen menerangkan di depan kelas.

Anganku melambung entah kemana, meski badan ku berada di ruang kelas yang dingin ber-AC tersebut namun pikiranku entah dimana. Aku terus saja berangan, berkhayal hingga tak sadar sang dosen mengajukan pertanyaan padaku.

“Hei, kamu yang dipojok, sedang apa kamu?”
“Eh…anu…. Anu pak….”

“Anu apa, sedang apa kamu duduk disitu…”
“Anu pak, senang melamun… eh mendengarkan penjelasan bapak…”

Melihat aku yang begitu gugup dalam menjawab pertanyaan dosen itu maka seisi kelas riuh menertawakan ku. Bahkan ada suara di pojok yang benar-benar membuatku malu….
“Sudah, pulang saja, dari pada ujung-ujungnya ngelamun jorok…bahaya nanti….”.

Suara itu disambut dengan suara tawa yang menggelegar dari semua penjuru. Aku hanya ter-tunduk, malu.

Hari itu memang pikiran dan angan ku sedang begitu kacau, aku sulit sekali berkonsentrasi atas apa yang sedang aku kerjakan, bukan karena lelah, bukan karena mengantuk, tapi sepertinya aku benar-benar sedang galau. 

Hari naaf dan apes belum berakhir, kemarin aku hanya di ejek karena aku melamun dan tidak konsentrasi di kelas dan hari ini lebih parah karena aku di keluarkan dari kelas. Di keluarkan dari kelas sebenarnya tidak begitu masalah tapi rasa malu di depan semua teman itu yang tidak bisa ditahan lagi.

“Hei, kamu, silahkan keluar dari kelas saja, bunyi suara handphone kamu dari tadi itu sangat mengganggu. Kalau tidak siap belajar tidak usaha masuk kelas saya lagi!”.

Gara-gara handphone yang sedari tadi berbunyi terus akhirnya aku harus rela di tendang dari mata kuliah itu. 

Sampai di luar, ternyata, sang mantan. Ada perasaan senang dan ingin segera membuka beberapa pesan yang ada, namun sebagian lain dari hati ini menolak. Sepertinya luka ini belum sembuh benar, hati ini masih terasa perih karena ulahnya.

Biarlah ku relakan dia pergi bersama yang lain, aku sudah tidak kuat. Lebih dari itu ini sudah masa akhir dari perkuliahan ku, sebentar lagi aku harus sibuk skripsi dan tidak ada waktu luang, kasihan bapak ibu di rumah kalau tahun ini aku tidak bisa wisuda.

Ya sudah, tak akan lagi aku denganmu, dan tak akan ada lagi gangguan belajar gara-gara handphone yang berdering. Ku lepas kartu sim dan ku buang, selamat tinggal masa lalu!

---Tamat---

Tag : Cerpen, Cinta
Back To Top