Contoh Naskah Drama Terbaru, Terong Mas Menepati Janji Bagian 1

Contoh Naskah Drama Terbaru, Terong Mas Menepati Janji Bagian 1 - Cerita pada contoh naskah drama terbaru ini berjudul "terong mas menepati janji". Naskah ini mengambil tema yang diadopsi dari cerita rakyat yang cukup terkenal.


Karena mengambil cerita yang seperti itu maka banyak pesan moral yang digambarkan dalam berbagai adegan dalam drama tersebut.

Naskah drama ini tidak terlalu singkat karena itu tidak bisa dimuat dalam satu pembahasan saja. Karena itu bagi yang memang membutuhkan contoh ini bisa melihat bagian berikutnya yang secara terpisah di bagian akhir.

Semoga saja dengan adanya contoh naskah drama terbaru ini bisa menjadi tambahan referensi bagi rekan semua yang membutuhkan. Jangan lupa untuk selalu berkunjung ke sini jika membutuhkan contoh lain baik itu drama, cerpen, puisi atau bahkan contoh karya sastra lainnya.

Terong Mas Menepati Janji
Naskah drama terbaru cerita rakyat

Diceritakan sebuah kisah dari negeri antah berantakan hidup suami istri yang bekerja sebagai petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.

Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Lalu bagaimanakah mereka mempunyai anak…. ini dia kisah nya

ADEGAN 1 (Di Rumah Pak Tani)
(lagu pengisi nuansa romantis) Aaaaaaaaaaaaaa (lirik india)

Terlihat kedua orang bapak dan ibu menggunakan pakaian petani latar tempat berada di rumah dan mereka berdua sedang berkejar-kejaran (kuch kuch hota hey).. lalu datang wanita dengan gaya seperti artis (tidak di bacakan sebagai pembuka )

Bapak: walahhhhh subhanalohhh (sambil melepaskan selendang ibu)
(gubbrakkkkkkkkkkkkkk cetar tiang tuing toenggg) wajan sutil melayang cangkul

Ibu: marah ( hip hoop lagu soimah)

Bapak : cukup bu sampai disini saja aku sakit (lagu yang nyambung (sedih) “Bu, sampai usia pernikahan kita yang sudah lebih dari dua dasawarsa ini, kok kita belum dikaruniai anak”

Ibu ; “Iya Pak, saya juga merasa kangen dengan kehadiran seekor anak.. eh, maksud saya seorang anak. Anak kecil yang tertawa riang di rumah kita’

Ibu ; “ Tuhan kok tidak adil ya pak”

Bapak : “Husss, Ibu tidak boleh begitu. Tuhan itu selalu Maha Adil kepada setiap hamba-Nya”, amiin insya Allah berkah ( nada fasheh)

Ibu : “Tetapi, kenapa tetangga-tetangga kita dikaruniai anak sedangkan kita tidak”
Bapak : “tuhan mungkin masih menguji kesabaran kita. Seberapa besar kita mampu menerima setiap ujian maupun cobaan dari-Nya.”

Ibu : “Tetapi saya tidak kuat Pak”
Bapak : “Bagaimanapun, kita harus tetap bersyukur Bu. Coba lihat, ada orang yang memiliki anak, tetapi malah menyusahkan”

Ibu : “Menyusahkan bagaimana pak?
Bapak : “Misalnya, minta uang saku. Alasannya untuk bayar uang sekolah, ternyata hanya untuk jajan sembarangan,buat beli kuota bbm buat game online, atau.. nongkrong di warung sambil gak karuan”

Ibu : “Sekarang banyak anak-anak yang seperti itu Pak?”

Bapak : “Bukan banyak lagi bu, anak sekarang semua seperti itu. Malah ada yang minta sepeda motor sampai mau membunuh bapak dan ibunya sendiri. Terus motornya dipakai buat pacaran terus Astaghfirullah. ( lagu pengisi astagfirullahal azzim)”

Ibu : “Sampai begitu ya pak kelakuan anak-anak jaman sekarang ya Pak?”
Bapak : “Bukan jaman sekarang Bu, kita ini ceritanya masih di jaman Ngalengko dirojo. Kalau yang itu jaman-nya anak millennium”

Ibu : (mengangguk angguk) “tetapi bagaimanapun juga, saya ingin tetap punya anak Pak. Duh Gusti (menengadahkan tangan).

Berikanlah hamba-Mu ini seorang anak yang sholeh atau sholehah. Berbakti pada orang tua. Berbakti pada guru. Yang pintar, yang cerdas, yang ganteng atau yang cantik. Yang…”

Bapak : “Yang apa lagi Bu…? Minta nya mbok sedikit demi sedikit”
Ibu : “Tuhan kan Maha Pemurah pak?”

Bapak : “ya, semoga keinginan Ibu segera terkabul”
Ibu : “Amin”. 
(wuss wusss suara angin maha dahsyat, suara petir)

Buto Ijo : “H ah hahah ha ha ha ha ha ha ha ha ha”uhuhuk huk 
Ibu : “Pak, aku takut. Ada monster!!!”

Bapak : “Kesini Bu. Awas. Dia mungkin lagi kelaparan dan mau memakan bangsa manusia”
Ibu : “Apakah anak seperti ini yang dikirimkan kepada kita Pak”

Bapak : “uamet amet jabang bayi”. Ogah aku punya  anak model beginian (kaget jingkrak)
Ibu : “Pak, aku takut..”
Bapak : “Jangan takut Bu. Kalau Ibu takut, aku malah semakin takut”

Buto Ijo : “Ha ha ha ha ha ha.. Manusia.. ha ha ha, manusia”.(suara petir menyambar)
Bapak : “manusia Ha ha ha. Apa maksudmu dengan manusia ha haha?”

Buto Ijo : “ya manusia menus menus panggonane dosaaaa hahahaha. Kalian Selalu minta keinginannya terkabul tanpa mau usaha”

Bapak : “We ladalah, hampir setiap hari kita usaha pak Buto”
Buto Ijo : “Memangnya kalian ingin apa?”

Ibu+Bapak : “Ingin punya anak…”
Buto Ijo : “Mungkin, Tuhan telah mengabulkan doa kalian lewat saya, agen FBI”
Bapak : “Agen FBI?”
Buto Ijo : (suara bergabung) “Federasi Buto Ijo”
Bapak+Ibu : “ooooo…. Caranya bagaimana?”

Bapak : “Jangan bilang kamu yang akan menghamili istriku ya?”
Buto Ijo : “Enak saja, istriku lebih cantik…”

Ibu : “Kalau Suaminya Buto Ijo yang mirip monster, istrinya kaya apa si bentuk ke?”
Bapak : “kaya suster ngesot paling…”

Buto Ijo : “Huss, kalian salah besar… Banyak yang bilang, istriku kaya Vicky shu , atau mungkin Julia Peres…?? Tapi ada yang bilang lebih mirip dengan Luna Maya. Ha ha haha”

Ibu : “Wah, kalau manusia yang seperti itu sih, memang sangat cocok jadi istri buto”
Buto Ijo : “Lha kok ngelantur. By the way, bagaimana dengan urusan anak? Kalian mau tidak? Kalau tidak.. YA SUDAHLAH…” aku mutung (cemberut) 

Bapak : “Ya jelas mau, yang penting, bukan seperti kamu”.bentuk nya enggak karuan!
Ibu : “aku juga emoh kalau wajahnya mirip buto aku wegah, apalagi kalau kelakuannya juga koyo buto. Aku yo wegah”

Buto Ijo : “hmmmm,, baiklah tapi ada syaratnya”
Ibu : “Syaratnya apa Pak But?”
Buto Ijo : “Syaratnya adalah, nanti kamu harus mengembalikannya pada usia 10 tahun”

Bapak : “we ladalah, lha kok koyo utang bank”
Ibu : “Ini ceritanya kok utang anak apa bagaimana ini?”

Bersambung ke Terong Mas Menepati Janji Bagian 2

Back To Top