Contoh Cerpen Arti Kehidupan, Lebih dari Sekedar Harta

Ada contoh cerpen arti kehidupan nih, siapa yang mau baca? Kalau menurut saya cerpen ini bagus sekali kok, apalagi jika kita tinjau dari sisi pesan atau nasehat yang ada di dalamnya. Tapi cerpen ini sangat sederhana karena merupakan tulisan asli atau karangan saya sendiri. Mungkin tidak sesuai atau kurang pas jika dikategorikan ke dalam cerpen. Yang pasti, contoh cerita ini bisa jadi hiburan dan juga bisa jadi bahan untuk belajar.


Saya kasih bocoran sedikit ya bagaimana alur atau plot dalam cerpen ini. Dikisahkan, dalam cerpen ini ada seorang pemuda yang bernama Han. Pemuda ini merupakan pemuda yang sangat gila kerja, bisa dikatakan merupakan pekerja keras. Ia kerja siang malam banting tulang namun ia tidak kaya-kaya. Keadaan hidup Han tersebut bertolak belakang dengan kenyataan etos kerja yang ia miliki.

Kalau dilihat dari karakter-nya yang pekerja keras seharusnya tahun demi tahun ia semakin berada dan mapan. Namun kenyataannya sama saja, itulah yang akhirnya membuat banyak orang mulai heran dan bingung kemana hasil kerja Han selama ini. Dalam cerpen tentang arti kehidupan tersebut ada seorang tetangga yang benar-benar penasaran yaitu Tri.

Pada akhir kisah, Tri yang menjadi tetangga Han akhirnya mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya kehidupan Han. Han yang merupakan pekerja keras sebenarnya cukup berhasil untuk mengumpulkan banyak uang. Tapi kenapa Han masih tetap miskin dan tidak berlimpah harta? Mari kita temukan jawabannya dengan membaca cerpen tersebut di bawah ini.

Lebih dari Sekedar Harta
Oleh Irmajajil

Udara masih begitu dingin ketika Han memulai aktivitasnya pagi itu. Kabut masih bergelayut di langit, mentari pun masih jauh terlelap. Belum ada aktivitas lain yang terdengar di areal perkampungan kumuh tersebut.

Para tetangga pun masih banyak yang terlelap berusaha menghilangkan seluruh kepenatan hidup yang seharian penuh ia jalani. Hanya suara desingan gerinda dan batu yang beradu, berdecit, meraung, merenging seolah berusaha keras membangunkan seluruh penduduk bumi.

“Seperti harta mau di bawa mati aja, anak itu benar-benar tak kenal lelah”, ucap Tri – tetangga Han yang merasa terganggu atas kebisingan suara gerinda yang Han lakukan. Tak mampu mengusir suara yang begitu nyaring tersebut akhirnya Tri pun beranjak dari pembaringan.

“Pagi mas Tri….”
“Ini masih malam Han, masih gelap….”

“Sudah jam 4 pagi mas, pekerjaan numpuk, gak boleh santai…”
“Kerja terus, harta gak di bawa mati Han, ingat…”

Han hanya tersenyum simpul menanggapi kata-kata tetangganya tersebut. Ia terus saja melanjutkan aktivitasnya membentuk batu-batuan itu menjadi sebuah batu akik yang siap digunakan. Han adalah pengrajin batu akik, ia bekerja berdasarkan pesanan dari orang, orang datang membawa batu dan ialah yang menyulap batu-batu itu menjadi sebuah batu akik yang cukup indah. 

Sebagai seorang pengrajin Han sudah cukup terkenal, banyak sekali pecinta batu akik yang suka dengan karyanya, selain hasilnya bagus ia juga selalu tepat waktu dalam mengerjakan setiap pesanan. “Waktu adalah uang pak… jadi saya akan pastikan semua waktu yang bapak luangkan tidak akan terbuang sia-sia” ucapnya suatu kali melayani pemesan. 

Sebagai pengrajin yang masih tinggal di lingkungan kumuh Han memang dikenal rajin bekerja dan bahkan tak kenal waktu. Bahkan terkadang ia sering kedapatan mengabaikan kesehatannya sendiri hanya untuk memenuhi tuntutan pekerjaannya. 

“Sudah jam 12 Han, istirahat, cari duit terus mau buat siapa….” Ucap Tri
“Bentar lagi mas, tanggung….” Jawab Han sembari menyelesaikan pekerjannya

Meski bekerja sampai larut namun dia tidak lupa kewajiban, ternyata dia juga ahli ibadah dan sangat taat pada agama.

“Tak lihat kamu itu ngoyo benar Han, punya cita-cita apa sih kamu ini…? Tanya Tri
“Tidak punya cita-cita apa-apa mas, cuma beginilah aku menjalani hidup…?” jawab Han

“Terus jika harta dan uang kamu tambah banyak mau buat apa….?” Tanya Tri lagi

“Siapa yang tak butuh uang mas, mas juga mau kan kalau aku kasih uang…” jawab Han dengan tersenyum

“Maksud kamu apa, kamu ngeledek saja Han….?” Jawab Tri sedikit tidak senang

“Bukan mas, maksud saja ini bukan hanya sekedar bekerja, ini bukan sekedar uang tapi lebih dari itu…” jawab Han serius
“Aku makin tak mengerti kata-kata kamu Han…” jawab Tri

“Begini mas, kita bekerja itu fitrah, hendaknya bekerja seolah kita akan hidup selamanya…” jawab Han, “bukan karena kita hanya memandang harta tapi untuk mendukung kewajiban kita sebagai manusia” lanjut Han…
“Masih tidak mengerti Han…” balas Tri

“Bekerjalah seolah mas akan hidup selamanya, jangan bingung harta mau diapakan, harta hasil kerja kita bisa kita gunakan di jalan kebaikan, membantu sesama, membangun rumah ibadah, menyantuni anak yatim, banyak yang bisa dilakukan mas….” Jawab Han, “tapi beribadahlah seolah mas mau mati besok, itu agar seimbang” lanjut Han

Tri hanya terdiam mendengarkan apa yang Han katakan, dalam hatinya ia menaruh rasa salud pada Han yang memiliki jiwa begitu baik. Sekarang ia tahu bahwa di benak Han bukan harta yang sebenarnya ia cari namun dia bekerja hanya sebagai sarana ibadah saja….

Dengan bekerja siang malam rupanya yang Han harapkan lebih dari sekedar harta. Han berharap ia bisa membantu banyak orang, baik dari pekerjaannya sebagai pengrajin batu maupun dari hasil uang atau harta yang ia dapatkan. Pantas saja, selama ini ia terkenal rajin bekerja namun tak pernah terlihat sama sekali ada perubahan kondisi keuangan pada kehidupan Han. 

“Mau kemana Han, kelihatannya buru-buru benar, mau liburan ya…” Tanya Tri
“Tidak mas, biasa kalau hari Jum’at kan gak main batu…” jawab Han

“La terus itu mau kemana…?” Tanya Tri makin penasaran
“Mas penasaran, ada waktu tidak, kalau ada waktu ikut aja yuk…” ajak Han

“Mau kemana emang, makan-makan ya…. Tapi aku tidak punya uang Han” jawab Tri
“Makanya ikut, sudah tenang aja, Alloh akan memberi mas uang kalau mas butuh…” jawab Han

Benar, mereka berdua akhirnya meninggalkan kawasan kumuh tersebut. Dan alangkah terkejutnya Tri ketika Han mengajak-nya berbelok ke sebuah lokasi yang tak asing bagi Tri.

“Han… ini kan panti rehab…. Astaghfirulloh… apa kamu…” ucap Tri terputus
“Sudah mas, ikut yuk….” Jawab Han singkat

Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai di lokasi yang dituju, sebuah panti rehabilitasi untuk orang-orang yang kecanduan barang haram narkoba. 

“Assalamualaikum mas Han, apa kabar, pagi sekali sudah datang…” Tanya seseorang dari dalam
“Iya bu… mumpung ada teman, Oh ya, kenalkan bu ini abang saya Tri…” ucap Han

“Selamat pagi mas Tri, senang bisa melihat mas Tri ikutan ke sini…” ucap wanita itu
“Iya bu, selamat pagi…” jawab Tri

“Ya sudah bu, hari ini saya tidak bisa lama-lama, salam saja buat anak-anak…” ucap Han
“Oh… iya…iya mas, benar nih tidak masuk dulu, bikin kopi dulu aja yuk….” Ucap wanita itu

“Iya bu, tidak usah, terima kasih…. Ini titip buat anak-anak…” lanjut Han
“Ya sudah kalau begitu…”

Tri hanya terdiam tak tahu apa yang sedang terjadi. Setelah itu Han mengajak-nya jalan lagi ke suatu tempat. Tri benar-benar tak tahu dan semakin penasaran dengan apa yang dilakukan Han.

“Han… maaf nih ya, tadi itu apaan sih… itu amplop apa…” Tanya Tri penasaran
“Itu tadi sedikit uang untuk membantu anak-anak yang kecanduan narkoba mas…” jawab Han

“Apa…. Ow, jadi….” Tri sedikit terbata

“Iya mas… itulah hasil dari kerja siang malam yang aku lakukan, mas kan heran aku kerja setiap hari tapi tidak kaya, benar kan? Tanya Han

“Iya benar….ow….” jawab Tri pendek, “Terus ini mau kemana lagi…” lanjut Tri
“Kita cari sarapan dulu mas, setelah itu kita ke panti…” jawab Han

Begitulah, pagi itu kebenaran terungkap, sekarang Tri tahu bahwa apa yang selama ini Han lakukan bukan sekedar mencari kekayaan tapi lebih dari sekedar harta. Han rupanya menyumbangkan hasil kerja kerasnya tersebut ke banyak orang yang membutuhkan.

--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Kehidupan
Back To Top