Contoh Cerpen Sakitnya Cinta yang Singkat

Kisah yang satu ini juga merupakan Contoh Cerpen tentang Sakitnya Cinta yang sangat singkat namun sebenarnya penuh makna. Ada nasehat yang bisa diambil dari kisah dalam cerpen berjudul "jinak-jinak merpati" tersebut.

Baca cerpen: sudah cukup mencintaimu
Yang jelas, dibalik kisah yang diceritakan oleh penulis, kita berharap bahwa cerpen singkat tersebut bisa menjadi bahan bacaan yang menghibur terlepas apa isi nasehat di dalamnya.

Tentu saja, dibalik setiap cerita atau kisah yang terjadi tentu saja ada banyak nasehat dan pesan yang bisa direnungkan, begitu pula dengan cerpen sakitnya cinta tersebut.

Hal itu dapat diketahui jika kita melakukan analisis dan kajian yang mendalam mengenai berbagai unsur intrinsik maupun ekstrinsik cerpen yang kita baca tersebut.

Sebagai penikmat karya sastra tentu saja kita jarang melakukan analisa seperti itu namun sebagai pelajar atau mahasiswa tentu kita bisa memiliki kesempatan melakukan analisa. Terlepas dari semua itu, cerpen percintaan ini diharapkan bisa melengkapi berbagai karya yang sudah ada sebelumnya.

Siapa tahu juga, cerita dalam cerpen ini bisa dijadikan ide atau gagasan untuk membuat sebuah naskah drama atau pementasan teater untuk berbagai kebutuhan.

Dengan begitu maka tujuan dari situs ini untuk memberikan referensi bacaan bermutu bisa tercapai dengan baik. Ya sudah, sekarang mari kita nikmati cerita cinta berikut!

Jinak Jinak Merpati
Cerpen Oleh Irmajajil

Pernah kamu merasa dipermainkan oleh orang yang terlalu tidak ingin menyakiti orang lain? Aku merasakan hal itu ketika bertemu dengan salah satu gadis manis dari desa sebelah. Sebut saja namanya Ningsih.

Ningsih ini adalah seorang wanita yang cukup sempurna; dia baik, cantik, sopan dan pengertian. Dia memang menjadi idaman bagi banyak lelaki di sekitarnya, demikian juga denganku. 

Saat pertama kali mengenal dia, jujur aku tidak begitu tergetar tetapi dialah yang lebih dulu suka denganku. Biasalah, jika wanita sudah lebih dahulu suka maka sepertinya sangat mudah untuk meluluhkan hati sang pria. Benar saja, aku selalu saja bisa dibuat salah tingkah dengan sentilan-sentilan manja yang ia lakukan.

Sehari, seminggu, sebulan, akhirnya ia sukses membuat aku menyatakan kekaguman dan rasa cintaku. Tapi sayang, waktu kami terbatas, dalam beberapa bulan ke depan kami sudah harus berpisah karena kami akan segera lulus sma. Karena perasaan itu maka hari-hari yang kami lalui seperti begitu bermakna.

Selalu saja ada kesan dibalik pertemuan ku dengannya. Di sekolah, pertemuan yang tak sengaja selalu saja mampu membuat wajah kami memerah. 

Berjarak beberapa bulan, entah mengapa sepertinya ia berubah, mulai susah untuk didekati, diajak ngobrol. Tingkah lakunya mulai membuat aku tidak nyaman, karena ia seperti jinak-jinak merpati.

Di kejauhan, saat kami tidak saling bertatap, ia seolah begitu mencintai dan merindukanku, seolah ia selalu ingin bertemu dan melihat wajahku. Tapi, kala aku mendekat, baru menyapa, dia sudah pergi entah kemana. 

Lama-lama aku bosan, kejadiannya selalu saja berulang. Aku dekati, ingin ngobrol saja, dia menjauh, setelah itu melalui pesan singkat ia selalu meminta maaf dengan beribu alasan. Saat sms tersebutlah ia begitu romantis, begitu membuat aku tenang, damai dan semakin jatuh cinta.

Tapi, semua yang ia ucapkan ternyata semu, paling tidak terlihat benar-benar semu di mataku. Karena setiap kali aku ingin menemuinya ia selalu menghindar. Bahkan sampai akhir perpisahan kami.

“Hei, Ningsih…. Tunggu sebentar…”
“Ada apa….?”

“Aku ingin bicara denganmu…”
“Ow…iya, sambil jalan yuk…”

“Bentar satu hari lagi ujian selesai, dan itu berarti kita hanya akan bertemu beberapa kali lagi…”
“Iya, benar memang kenapa….”
“Emm…enggak… tapi…”
“Eh….bentar ya, aku lupa tadi belum bayar pulsa sama temanku, kamu duluan aja ya…”

Itu percakapan terakhir yang aku ingat, setelah itu aku benar-benar seperti dipecundangi, seperti dipermainkan. Setelah dia meninggalkanku begitu saja maka hilang sudah cinta yang ada. Di dalam hatiku, aku hanya merasakan sakitnya cinta, karena ia yang selalu mengabaikanku meski ia bilang cinta padaku.

Akhir perjalanan kami, aku memutuskan tak kan lagi sudi menjadi bulan-bulanan sikapnya yang tak jelas. Lewat pesan singkat, aku memutuskan untuk mengakhiri kisah kami berdua.

Saat itu ia menolak dan sms panjang lebar yang isinya begitu menyentuh tapi aku sudah tidak mau tertipu lagi. Tak mau lagi seperti anak bodoh yang sedang dibodohi. Begitulah, akhir kisahku dengan Ningsih.

--- Tamat ---

Tag : Cerpen, Cinta
Back To Top