Contoh Cerpen Nasehat tentang Malas Kok di Pelihara

Contoh cerpen nasehat tentang malas bukan hanya untuk hiburan. Membaca cerpen ini juga bisa untuk menimba ilmu bermanfaat seperti cerpen terbaru yang berjudul "Malas Kok Di Pelihara" ini. Ada sesuatu yang menarik dalam cerita ini yaitu cara orang tua dalam mengarahkan atau mengajarkan anak mereka agar tidak malas.

Baca cerpen: salah jalan
Kalau dilihat dari pesan moral yang ada didalamnya, cerpen ini cukup bagus, dan ceritanya juga tidak terlalu jelek kok. Dalam cerita ini ada seorang anak yang bernama Clara. Sepertinya, Clara ini adalah anak semata wayang atau anak satu-satunya yang begitu di manja.

Karena itulah Clara menjadi seorang anak yang kurang rajin dan termasuk anak malas. Setiap bangun pagi saja ia harus bangun dengan teriakan sang ibu. Sang ibu awalnya seperti tidak bisa berbuat banyak karena anak-nya sudah terlanjur malas.

Tapi rupanya, sang ayah yang bisa memecahkan solusi untuk mengatasi rasa malas pada anak gadisnya tersebut. Dengan diberi sedikit tanggung jawab dan dengan menggunakan cara yang lebih santun akhirnya mereka mampu membuat anak gadis remaja tersebut berpegang pada komitmen. Dengan sekuat tenaga akhirnya Clara berusaha untuk merubah kebiasaan buruk yang sudah ada.

Dari sisi cerita, cerpen tentang rasa malas ini memang tidak begitu seru seperti cerita pendek dengan tema percintaan remaja. Namun begitu pesan dan keteladanan yang disuguhkan dalam ceritanya cukup bagus untuk direnungkan. Dari pada penasaran lebih baik kita baca langsung cerpen tersebut di bawah ini.

Malas Kok Di Pelihara
Cerpen Oleh Irmajajil

“Bangun nak udah siang”, itu adalah suara alarm yang selalu membuatku pusing, bayangkan saja, masih enak-enak tidur di pagi hari aku sudah harus bangun dan menyiapkan semua kebutuhan untuk sekolah.

Menyebalkan bukan, padahal semua itu bisa dikerjakan oleh pembantu, percuma dong ada pembantu kalau semua masih kita kerjakan sendiri, benar tidak? 

Tapi entah apa yang ada di pikiran ibu, seolah ia tak pernah suka melihat anaknya senang. Selalu saja ada hal yang harus aku kerjakan saat aku sedang bersantai, bahkan untuk hal-hal sepele sekalipun. 

“Loh, kok malah nonton tv, peralatan sekolah kamu sudah disiapkan??”
“Sudah, kan ada bibi yang menyiapkan….”

“Sampai kapan kamu mau bergantung pada orang lain untuk kebutuhanmu….”
“Sampai bibi tidak kerja di sini!”

Dengan kesal aku langsung pergi ke dapur untuk mencari makanan. Saat itu masih pagi, bahkan masih gelap aku sudah disuruh menyiapkan segala-galanya. 

“Loh… kok malah makan, bukannya mandi dulu….”
“Malas ah bu, masih pagi ini….”

Selalu saja begitu, ibu seolah benar-benar sengaja membuat aku jengkel. Setiap hari aku terus saja diperlakukan seperti itu.

Contohnya lagi ni ya, masak pada hari minggu yang jelas-jelas libur sekolah aku harus tetap bangun jam 5 pagi, bayangin coba, kesel kan. Sudah gitu, lagi asyik sms-an ama temen juga diomelin suruh nyapu lantai lah, inilah, itulah, males banget tau kayak gitu.

“Bantuin ibu di dapur gih, belajar masak….” Ucap ibu
“Enggak ah…males lagi tanggung nih, bentar lagi acaranya mulai….” Jawabku
“Gak boleh malas geh sayang, gadis kok malas….”

“Biarin…. Lagian emang kenapa si bu, hari minggu gini kan waktunya santai….”, jawabku ketus
“Laa….bukannya kamu tiap hari santai….”, Jawab itu kembali, “anak gadis gak boleh malas…” lanjut ibu

“Anak gadis gak boleh malas….”, sebel deh kalau ibu sudah bilang seperti itu. Lagian aku kan masih sma dan gak perlu sibuk-sibuk seperti itu. Tapi tetap saja ibu seperti itu. 

“Nak, tidak boleh malas, malas kok di pelihara…” ibu menasehatiku
“Siapa yang malas bu….!” Jawabku

“La itu, coba deh, seharian kamu cuma duduk di depan tv, kalau kamu kayak gitu terus lama-lama bisa jadi gembrot kamu… mau!” ucap ibu

Mau sehari, mau dua hari, mau tiga hari, kalau aku di rumah dan ibu tidak ada kegiatan maka sudah pasti percakapan dan dialognya tidak jauh-jauh dari masalah itu. Tapi lama-lama aku bosan juga mendengarkan ibu cerewet seperti itu. Nah, akhirnya suatu malam ketika ayah santai aku pun mengadu pada ayah…

“Yah, ibu tuh cerewet banget sama aku, masa aku di suruh nyapu, suruh masak lah…” ucapku manja
“Loh, kok gitu si bu… kasian dong anak kita yang manis ini…” ucap ayah sambil melihat ibu

“Iya yah, abisnya putri cantik kita tuh pemalas sih….” Jawab ibu
“Benar gitu sayang…” Tanya ayah

“Ya, ya… dikit si yah, abisnya dari pagi aku sudah harus bangun pagi, kan masih ngantuk…” jawabku membela diri

“Ow… kalau gitu besok ibu gausah bangunin Clara terlalu pagi, biar Clara bangun sendiri aja bu… Clara kan udah gede…” ucap ayah memarahi ibu
“Iya deh…. Besok Clara gak dibangunin pagi lagi…” jawab ibu

“Ya sudah, tapi kamu gak boleh malas loh sayang, mulai besok kamu atur sendiri kebutuhan kamu, terserah mau bangun jam berapa tapi yang penting gak boleh malas. Malas kan gak boleh di pelihara…” ayah menasehatiku

“Iya deh ya, besok aku gak malas, tapi jangan bangunin pagi-pagi buta ya….” Jawabku manja
“Iya, kalau kamu gak malas, ayah gak akan bangunin kamu terlalu pagi…” jawab ayah

“Hem… pintar benar ngerayu ayah…” sahut ibu
“Ibu nih….” Jawabku

“Iya….iya, ibu minta maaf ya sayang, mulai besok ibu gak akan nyuruh-nyuruh kamu lagi, tapi kalau di ajak mau kan…” ucap ibu
“Iya… di ajak sama di suruh kan beda….” Ucapku

Akhirnya, aku bisa terbebas dari teriakan ibu di pagi buta. Mulai saat itu aku bangun sendiri tanpa harus mendengarkan teriakan ibu meski terkadang aku kesiangan dan kelabakan sendiri.

Meski kadang aku bangun terlalu siang tapi aku mencoba menyiapkan semuanya seperti dulu, dan mungkin karena itu sekarang justru ibu membantu aku menyiapkan kebutuhanku.

Dan sebagai balasannya kalau aku di ajak sama ibu aku jadi gak enak dan akhirnya bersedia menerima ajakan ibu. 

---Tamat---

Back To Top